Kamis, 10 April 2014

Cerita Tidak Harus Sejalan Part 5

✿✿✿
“Elo mau pingsan lagi hah??” tanya Bian sinis.
“Yee.  Gue kan Cuma kaget aja ada ular segede gini dihadapan gue, siapa yang gak kaget coba..” balas Yura dengan juteknya.
Bian menyodorkan ular itu kepada Yura. “Eh mau apa elo!! Singkirin gak!!” teriak Yura dengan sedikit ketakutan.
“Haha..” Bian tertawa melihat tingkah Yura.
Yura memperhatikan lelaki didepannya yang kini tertawa dengan lepasnya, senyum dibibir Yurapun terlukis, setelah melihat Bian tertawa.
“Ahh gak lucu tau gak..” bentak Yura dengan cemberut. “Kenapa elo mau piara hewan menjijikan ini sih?” tanya Yura dengan sedikit ngeri.
“Siapa bilang hewan menjijikan, ular itu bagus kali..” jawab Bian dengan memainkan ular ditanganya. “Kita kedalem aja” seru Bian dengan memasukan ular kekandangnya.
Merekapun berjalan kearah rumah dengan menceritakan hidup mereka.
“Owh iya, elo masih sekolah kan??” tanya Yura.
“Iya gue masih sekolah”
“Terus ko elo gak sekolah hari ini??” tanya Yura kedua kalinya.
Bian melihat kerah Yura yang hanya memakai kameja putih yang semalam ia bawakan.
“Ya!! Liat apa elo!!” teriak Yura dengan menutup dadaya. “Jangan macem-macem elo yah..” sinis Yura.

“Lagin gue gak nafsu sama cewek macem elo” jawab Bian.
Yura menyengirkan bibirnya kearah Bian. “Kenapa elo gak sekolah Bi??” tanya Yura kembali.
Bian menoyol-noyolkan kepala Yura. “Gue gak sekolah karna ada tamu dirumah gue..”

“siapa..??” jawab Yura dengan polos.
“Nenek lampir..” jawab Bian ketus dengan meninggalkan Yura dibelakngnya.
“Dih sialan..”teriak Yura. “Owh iya hp !!” sontak Yura. “Bi gue boleh minjem hp Elo gak?? Atau gue boleh minjem charger Elo gak?? Hp gue mati, gue takut orang-orang hawatir dengan gue gak ngasih kabar..” serunya memelas belas kasihan.

“Emang ada yang peduli sama elo..” seru Bian dengan sinisnya.
“Jahat banget sih elo..” dengus Yura.
“Bentar gue ambil charger gue dulu” Bian melangkahkan kakinya kesebuah kamar dan kembali dengan membawakan casan hp nya. “Charger elo sama gak kaya gue??” tanya Bian dengan melihatkan charger miliknya.
“Iya sama kok..” Yura mengambil charger ditangan Bian dan langsung mencari tempat untuk mencharger hp miliknya.
“Disini aja..” tunjuk Bian kerah didekat tv, diruangan yang tadi terjadi sebuah insiden kecil.
“Owh iya..” jawab Yura. Yura menghidupkan hp miliknya sembari dicharger, tidak berapa lama sebuah pesan masuk ke ponselnya dengan banyaknya.

Ddreeddd.. dreedd. Dreddd.. dreddd.. dredd…
“Banyak banget ini sms??” seru Yura dengan melihat sms yang tertera dilayar ponselnya.

Bian hanya diam dan menghidupkan tv didepannya. Yura membuka satu persatu sms yang tertera pada ponselnya, dan salah satunya ada dari Ka Liana, Silvi dan Nando dan beberapa teman lainnya.

*From : Ka Liana
“Ra lo dimna sih?lo lo belum pulang!!?kenapa hp lo mati,lo dimana!!lo gpp kan?? Hubungi gue secepetnya!!”


*From : Silvi
“Ra lo kemna sih!!lo ko ngilang gitu aja.. lo dimna!! Jawab sms gue Ra!!!”


*From : Nando
“Ra lo dimna sekarang??knapa lo belum pulang dan gak sekolah, Ra lo gpp kan? Lo baik-baik aja kan?? Jawab pesan gue setelah lo baca pesan ini…”

Sebuah balasan Yura luncurkan kepada mereka yang begitu menghawatirkan dirinya.                                              
*To : Ka Liana
“ka aku baik-baik aja ko, kakak gak perlu hawatir sebentar lagi aku pulang,maaf baru ngasih kabar soalnyahp akku semalam mati, aku lagi ada dirumah teman,sebentar lagi aku pulang” 

*To :Silvi
“gue baik-baik aja ko sil, lo gaka perlu hawatir gue disini aman ko.. sebentar lagi gue balik.. J


*To :Nando
“Do gue baik-baik aja ko, gue gpp J gue lagi ada dirumah temen gue, hp gue semalam mati , gue bentar lagi balik ko kerumah..

Gue mesti pulang sekarang Bi..” seru Yura pada Bian. “Gue udah bikin banyak orang hawatir, bisa anterin gue gak..??” dengan wajah memelas Yura meminta.
Bian bangkit dari duduknya. “Ayo gue anter..” dengan menyambar kunci mobil didekat tv.
“Bentar gue ganti baju dulu” jawab Yura dengan berjalan kelantai atas.
Yura menggati baju dan sekarang kini dia kembali mengenakan baju putih abu-abunya dan sebuah tas menggelantung dipunggungnya. “Ayo” ajak Yura.
Bian masuk kedalam mobil sportnya terlebih dahulu, lalu Yura duduk disamping Bian. Mereka melesat dengan cepatnya, tidak begitu lama kini mobil Bian sudah berhenti disebuah rumah.
“Ini rumah elo??” tanya Bian.

“Bukan” jawab Yura.
“Terus ngapain berhenti disini?”
“Ini bukan rumah gue, tapi kosan gue, gue udah ngekos disini dari gue kels 1 SMP sampe sekarang gue pake baju SMA deh” jawab Yura dengan santai.
“Kenapa elo ngekos, elo gak punya orang tua??” tanya Bian.
“Punya lah. Cuma gue pengen ngekos aja soanya jarak antara kosan sama sekolah deket, kalo rumah gue cukup jauh dari sini, rumah gue dipedesaan, gue kesini buat sekolah ditempat yang bagus buat ngejar cita-cita gue..” cerocos Yura dengan panjang lebar.

Bian hanya mengagguk-anggukan kepala, pertanda dia mengerti. “Kalo gitu gue balik dulu” seru Bian. 
“Ya udah. Oh makasih yah buat semunya..” seru Yura dengan tersenyum kearah Bian.

Bian hanya menoleh dan kembali ke mobilnya dan melesat dari pandangan Yura. “Dasar cowok aneh..” gumam Yura.

Jumat, 04 April 2014

Cerita Tidak Harus Sejalan part 4

"BOY"

Dengan membawa 1 gelas susu, Yura menghampiri Bian yang sedang sibuk dengan memperhatikan sebuah acara ditelevisi, Yura duduk didekat Bian, dia menaruh gelas susunya dimeja. Yura mencari cara untuk memulai percakapan dengan laki-laki  super jutek didekatnya.
“Aahhh.. sakit aahh..” Yura memegang kaki yang terkilir. “Adu..dduhhh..” rintihnya sedikit meringis. Mata Yura selirik sedikit kearah Bian yang sedari tadi tidak terganggu dengan rintihannya. Kini Yura benar-benar merasa bosan dengan lelaki yang berada disampingnya. dia memayunkan bibir bawahnya dan melipat kedua tangannya didadanya, tingkahnya benar-benar seperti seorang anak yang sedang menggoda sang ayah supaya dibelikan permen.
“Bian!!” panggil Yura dengan nada keras, tidak disengaja tangan Yura mengenai gelas susu yang tadi dia taruh diatas meja.
“Awas..!!!”
-Pppraanggggg… #suara pecahan gelas.
“AHH..!!!” teriak Yura dengan menutup kedua matanya. “Hah, Bian??” sentak Yura dengan kanget. “Elo gpp kan??” tanya Yura cemas. “Tangan elo..”
“Gue gpp kok..” jawab Bian singkat, dengan berdiri dan berjalan kearah dapur.
Yura berjalan mengikuti Bian, dia berdiri disamping Bian yang sedang membersihkan darah ditanganya, Bian mengeringkan tangan nya dengan sebuah handuk kecil, dia berjalan mengambil kotak P3K, Yura masih mengikutinya dari belakang. Bian membuka kotak P3K dengan tanganya yang terluka.
“Udah biar gue aja!!” sentak Yura, dan mengambil kotak P3K dari tangan Bian.
Yura duduk dikursi meja makan, tangannya dengan hati-hati memperban tangan Bian, dan tidak cukup lama untuk menyelesaikan nya. “Dah. Selesai” serunya dengan senyum diwajahnya. Bian menarik dengan cepat tangannya dari tangan Yura. Bian pergi kelantai atas.
“Bikin masalah lagi.. dasar bodoh!!” gumam Yura dengan memukul-mukul kepalanya. “Udahlah sekarang gue harus cari pelan dulu nih buat bersihin tumpahan susunya” ucap Yura dengan melangkahkan kakinya mencari sesuatu untuk membersihkan tumpahan susu dilantai.

✿✿✿
              Jam 08:34, Sekolah
“Duh.. Ra elo kemana sih??” gerutu Silvi dengan muka cemas. “Kenapa hp elo gak aktiv sih Ra!!”
“Sil..??”
“Ah .. iya apa Ja??” jawab Silvi.
“Kok gue dari tadi gak liat Yura, elo tau gak alasan dia gak masuk hari ini???” tanya Radja siketua kelas.
“Gue gak tau Ja.  Dia dari kemarin gak ada” jawab Silvi dengan nada lirih.
“Maksud elo gak ada?? jawab Radja dengan sedikit penasaran.
“Gue gak tau!! Kemarin sore dia renang bareng gue, tapi ternyata dia gak pulang kerumah dan gak ada kabar sampai sekarang”
“Jadi maksud elo??  Yura hilang!!?” jawab Radja dengan kaget.
“Gue juga gak tau Ja” jawab Silvi dengan muka yang sedih.
Percakapan Radja dan Silvi mengundang teman-teman lainnya untuk mencari tau apa yang mereka bicarakan.
“Kalian kenapa sih???” tanya Putri dengan penasaran.
“Yura ilang Put..” jawab Radja
“Hah!! Kok bisa?? Coba elo hubungi Yura lagi, mungkin aja dia lagi ada di suatu tempat” jawab Putri kaget.
“Udah Put, tapi hp nya gak aktiv” jawab Silvi.
Seketika suasana kelaspun menjadi sangat ricuh dengan berita yang mereka tidak duga-duga sebelumnya.
Teettt..teett…. bell sekolah berbunyi.
Tanda sekolah hari ini telah usai. Terlihat murung diwajah Silvi hari itu, dia berharap dugaan nya salah.
“Sil ..!!!” teriak seseorang dari arah lapang basket sekolah.
“Eh elo Do, ada apa??” jawab Silvi singkat.
“Kok dari kemarin hp Yura gak aktiv yah, hari ini juga gue gak liat dia masuk sekolah, apa dia sakit??” tanya Nando dengan penasaran.
“Yura.. Yura…” jawab Silvi gelagap.
“Yura?? Yura kenapa Sil??” Jawab Nando penasaran.
“Dia dari kamarin gak tau kemna, dari pulang renang sama gue dia gak ada kabar, dia juga gak punya kerumah kosannya, dan hari ini dia gak ada masuk sekolah..”
“jadi mksud elo?? Yura hilang??” tanya Nando sedikit membentak. “Gue harus cari dia…” tanpa pikir panjang Nando pergi meninggalkan Silvi dan pergi meninggalkan gedung sekolah untuk mencari Yura.

✿✿✿
Rumah Bian
Yura mencari-cari sesosok lelaki yang dia celakakan pagi tadi, matnya sangat tajam melihat kesegala sudut ruangan rumah itu.
“Rumah nya gede banget, gimna mau nyarinya coba?? Serunya.
Tiba-tiba mata Yura melihat sebuah ayunan besi ditaman, sesosok lelaki yang dia cari duduk diayunan besi itu. Tanpa pikir panjang Yura langsung menghampirinya.
“Bian tangan elo beneran gpp kan??” tanya Yura dengan duduk diayunan.
“Gpp kok, Cuma goresan kecil ini??” Bian menjawab dengan mentap perban yang membalut tanganya.
“Maaf yah soal yang tadi dimeja makan, dan maaf juga soal tangan elo..”
“Udah gpp..” jawabnya dengan singkat. “Elo pengen tau kan kenapa rumah ini sepi??” tanya Bian degan tiba-tiba.
“Ahh nggak kok, gak usah dijawab” balas Yura.
“Bokap gue sibuk sama pekerjaan nya diluar negri, sedangkan nyokap nemenin bokap kemanapun bokap pergi, jadi gue disini selalu sendiri” ucap Bian tiba-tiba.
“Hhmmm.. apa elo gak kesepian tinggal dirumah segede ini sendiri??” tanya Yura
“Pastilah sangat kesepian, terkadang gue berpikir, hidup mewah itu percuma jika gak ada kebahagiaan dan kebersamaan didalamnya..”
Cerita Bian tidak jauh beda dengannya, yang hidup jauh dengan orang tua, mungkin yang membedakan hanyalah Yura tinggal sendiri itu adalah keinginannya sendiri. Memang terkadang rasa kesepian itu serasa seperti ingin membunuh kita. Tapi kita harus percaya bahwa didalam kesepian itu, ada sebuah cahaya yang mampu membuat kita merasakan kehangatan didalamnya.
Yura dan Bian berjalan menuju halaman belakang, halamannya sangat luas, berdiri sebuah pohon jambu dan mangga yang cukup besar dibelakang halaman, serta banyak berbagai bunga yang ditanam disana.
“Wah bunganya cantik” dengan memetik bunga berwarna unggu ditanganya.
Bian masih berdiri disampingnya melihat tingkah laku Yura, lalu Bian kembali berjalan. Yura mengikuti langkah Bian dari belakang.
“Eehh ituu…” sontak Yura dengan mata melotot. “Hhuuaaa….” Yura berteriak.
Bian membalikan tubuh dan melihat kerah Yura. “Kenapa?? Elo mau pingsan lagi gara-gara ini??” sembari menyodorkan sebuah ular piton yang sangat besar tergantung dilehernya.

Beberapa jam sebelumnya, trotoar jalan.

“Aduhhhh ..aaww sakitt..” rintih perempuan didepannya dengan memegang kaki sebelah kirinya.
“Aww kenapa bisa kepeleset sih aahhh” keluhnya.
Bian masih berdiri dibelakang perempuan yang sedang memegng kakinya. Bian perlahan-lahan mendekati perempuan itu, tapi tiba-tiba perempuan itu menoleh lalu berteriak.
“HHUUUUUUAAAAAA!!!!!!!!!!!” teriak perempuan itu membuat Bian kaget dibuatnya.
Perempuan itu pingsan seketika, Bian bingung dengan apa yang harus ia lakukan, ia melihat kekiri dan kekanan, tidak ada seseorang yang bisa membantu menolongnya.
“Nih cewek kenapa sih? Kok tiba-tiba pingsan..” gumamnya kebingunan.
“Hah..” mata Bian mellihat kaki perempuan itu yang sedikit memerah. “Mungkin ini yang bikin perempuan ini meringis tadi..” seekor ular masih bergelantung dileher Bian. “Boy elo bikin orang pingsan nih..” seru Bian dengan melihat kearah ular yang tergantung dilehernya. “Gue mesti gimana nih? Masa gue tinggalin aja nih cewek disini??” serunya. “Ya udah deh..” Bian menggendong tubuh perempuan itu kedalam mobil sport nya yang terparkir tidak jauh dari tempat perempuan itu pingsan.
Mobil Bian melesat kesebuah rumah yang cukup besar, yang tak lain adalah rumahnya. Bian terlebih dahulu menaruh Boy si ular kesayanganya kedalam kandangnya. Bian menggendong perempuan itu menaiki tangga-tangga rumahnya, Bian meletakan perempuan itu dikamar atas dan menidurkan perempuan itu disana.
“Lumayan berat juga nih cewek” dengan meregangkan tangannya keatas.
Bian lalu menelpon seseorang dari ponselnya. “Hallo pak..”
“Iya hallo.. ada apa nak Bian..??  jawab seseorang dari seberang telepon.
“Bapak bisa kerumah saya sekarang?? Kaki teman saya sepertinya terkilir..” jawab Bian dengan jelas.
“Baik nak, bapak kesana sekarang..” jawab lelaki tua di telpon.
Bian mematikan teleponnya dan memasukannya kesaku celananya. “Mungkin gak akan lama laggi dia sadar” seru Bian.








Kamis, 03 April 2014

Cerita Tidak Harus Sejalan part 3

 “jam 19:37, kosan Yura.
Dengan satu putaran tangan, gagang pintu kamar Yura terbuka “KoK kosong??” ucap  Liana. “Dari pulang sekolah tadi ko gak liat Yura yah?? Apa dia nginep dirumah temen nya??” pikir Liana dalam hati. “Tapi gak mungkin, kalo dia nginep, dia pasti bilang dulu, biasanya juga dia suka bilang kalo mau pergi kemana-mana” lirihnya masih penasaran.
“Kenapa Na??” Tanya Dewi, salah satu penghuni kos disana.
“Yura belum pulang, dari pas pulang sekolah Dew.”

“Hah. Kok bisa?? Mungkin dia maen kali sama teman-teman nya.”
“Kalo dia maen pasti pulang dulu, gak mungkin main dari pulang sekolah sampai jam segini” “Namanya juga abg Na, kita juga pernah ngerasain, iya kan??.”
“Iya sih. Tapi biasanya dia suka ngasih kabar kalo pulang sore atau main” jawab Liana dengan cemas.

“Mungkin dia lupa ngasih kabar kali Na” jawab Dewi dengan memainkan pulpen ditangannya.
Rupanya percakapan Liana dan Dewi mengundang 2 teman kos lainnya untuk melihat keributan apa yang terjadi diruang tv.
“Hey ada apaan sih koK ribut-ribut gini” Tanya Dina dengan berjalan kearah Liana dan Dewi.

“Yura belum pulang, gue takut ada apa-apa sama dia” jawab Liana.
“Udahlah. Yura kan udah gede ini, pasti dia gpp kok” saut Novi dengan santainya. “Kita tunggu aja, bentar lagi dia juga pulang” tambah Novi dengan mata melirik jam dingding, yang menggantung diatas tv.
Dewi berjalan mendekati Liana. “udalah Na, besok kan elo ada jam kuliah pagi, mendingan elo tidur aja, biar gue sama Dina dan Novi yang tunggu Yura pulang diruang tv” seru Dewi.

Liana masih saja hawatir dengan Yura, walapun teman kos yang lainnya sudah memberi tau Liana, untuk tidak terlalu hawatir . Tapi dia tau, Yura tidak mungkin main tampa pulang terlebih dahulu, jika dia mainpun pasti dia memberi kabar terlebih dahulu.
Liana memang sangat dekat dengan Yura, Yura sudah dia anggap sebagai adik dia sendiri, jadi memang sewajarnya dia merasakan hawatir malam itu.
“kok masih belum pulang juga sih??”.
“(no yang anda tuju saat ini sedang tidak aktiv,cobalah beberapa saat lagi…) Sial!! Kenapa no nya gak aktiv sih!!” Gerutu Liana.
 Mata liana terlihat menekan-nekan beberapa no di layar ponselnya. “Hallo…”
Iya hallo, dengan siapa??” jawab seseorang disebrang telepon.

“Ini ka Liana, kakak kosnya Yura” jawab Liana.
Owh ka Liana, iya ada apa ka??”

Gini dari tadi siang pas pulang sekolah Yura belum pulang sampai sekang, apa dia sama kamu de??”
“Hah. Belum pulang!! Tadi emang Yura pas pulang sekolah renang bareng aku ka, tapi jam 4 sore tadi kami sudah pulang” jawab Silvi disebrang telepon.
“Owh jadi begitu, ya sudah kalo ada kabar dari Yura kasih tau kakak yah.” Liana menutup telepon, raut wajahnya yang cantik terlihat dengan jelas kegelisahan yang dilukiskan didalamnya.


✿✿✿
                 Sementra itu disuatu tempat, disebuah rumah.
“Nyebelin banget dehh!!! Pengenn pullaangg..” rengeknya dengan nada meringis. “Nyebelin nyebelin iiisshhh” gerutunya dengan duduk diatas ranjang.
Gagang pintu kamar terbuka. “Gimana??” tanya seorang lelaki yang bertubuh tinggi, yang berdiri dihadapannya.
“Gimana apanya!!!” jawab Yura dengan nada tinggi. “Lepasin gue, gue pengen pulangg…”

“Hey. Kalo elo pengen pulang, Ya pulang aja, gak ada yang larang ini!!” jawab lelaki itu dengan angkuh.
Yura tiba-tiba kaget dengan jawaban lelaki didepannya “Hah?? Elo bukannya lagi nyulik gue yah?? Kok elo nyuruh gue pulang sih??” tanya Yura dengan mimik muka yang penasaran.

Lelaki itu mendongkrakkan wajahnya kearah Yura, sontak Yura kaget dan memundurkan wajahnya “Orang gila mana yang mau nyulik nenek bawel kaya elo??” jawabnya dengan ketus.
“Ya!! Sembarangan aja bilang gue nenek bawel!!”

“Lagian dari tadi ngoceh aja kaya nenek-nenek” jawabnya.
“Tapi gak usah panggil gue nenek bawel juga dong!! Nama gue Yura!!!” tegas Yura dengan nada tinggi.
“Gak ada yang nanya nama elo” jawabnya dengan ketus.
“Sialan nih cowok, nyebelin banget sih” gerutunya dalam hati.
Tokk…tokk.. , sebuah ketukan terdengar dari balik pintu, lelaki itu berjalan membukakan pintu.

“Lama banget pak nyampenya???” tanya lelaki itu.
“Ccihhh…” sinis Yura dengan muka yang sinis memandang kearah lelaki tinggi itu.

“Maaf nak Bian, tadi bapak menerima telepon dari nak Bian, bapak lagi dirumah kerabat, makanya datang terlambat.” jawab lelaki tua itu.
“Oh ternyata namanya Bian, nama yang cukup bagus untuk seorang yang angkuh kaya dia” dengus Yura dalam hati.
“Ya udah kalo gitu langsung aja pak?” jawab Bian kepada lelaki tua itu.
“Apa ini? Apa maksudnya (silahkan langsung aja??) apa jangan-jangan gue dijual sama cowok gila ini ke bandot tua ini!!!” ucap Yura dalam hati yang begitu menggebu-gebu.
Yura bangkit dari tempat duduknya. “Elo gila yah!!!!” amarah Yura meledak seketika.
Bian dan lelaki tua itu melihat kearah Yura dengaan keheranan.
“Elo pikir gue cewek apaan hah!!! Elo pikir gue cewek murahan yang elo jual sama pak tua ini!!!” tanya Yura bertubi-tubi, dengan nada tinggi dan dengan nafas yang tak terkontrol.

“Haha. Jadi elo pikir gue mau jual elo??” tanya Bian dengan tertawa. Bian masih tertawa sebelum melanjutkan kata-katanya “Denger yah, bapak ini tuh tukang pijit..” jelas Bian.
“Jadi…” tanya Yura.
“Masih nanya lagi, jadi bapak ini yang mau benerin kaki elo yang bengkak itu..” tunjuk bian ke kaki Yura yang sudah membengkak.

Yura hanya terdiam mematung ditempat semula ia berdiri.
“Jadi gimana nih nak Bian, jadi gak??” tanya pak tua dengan melihat Yura dan Bian.

“Ya udah pak silahkan” jawab Bian.
Pak tau berjalan kearah Yura dengan membawa tas yang ditentengnya. “Silahkan nak duduk, biar bapak liat kakinya”
Yura terduduk diatas ranjang dan mengangkat kakinya yang sudah sedikit membengkak. Bian hanya berdiri bersandar didekat tembok melihat pak tua mengobati kaki Yura.
“Aww!! Pelan-pelan pak..”rintih Yura dengan seditik menggigit bibir bawahnya.
“Tahan nak, nggak akan sakit kok” jawab pak tua dengan menekan-nekan kaki Yura. “Udah gpp kok, sedikit-gerakin aja yah nak jangan ditahan-tahan, mudah-mudahan besok bisa lebih membaik” ucap pak tua kepada Yura. Lalu pak tua menghapiri Bian dan meminta ijin untuk pamit, Bian mengantarkan pak tua itu kedepan rumah.
Yura masih terdiam mematung ditempat duduknya, ia merasa bersalah telah berburuk sangka kepada Bian yang berniat menolongnya. Tak berapa lama Bian kembali masuk kekamar dengan membawa baju tidur putih yang mirip dengan sebuah kemeja .
“Kayanya elo malam ini nginep dirumah gue dulu aja, lagian udah malem inikan??” mata Bian dengan melirik jam didingding yang sudah menjukan pukul 21:43 malam. “Ini ganti baju elo..” sembari meletakan baju ganti diranjang dekat Yura duduk. “Elo jangan mikir gue mau perkosa elo yah, gara-gara gue nyuruh elo ganti baju” sindir Bian dengan nada dinginnya.
 “Bian” seru Yura dengan menundukan kepalanya.

“Hhmmm.” hanya sebuah gumaman yang menjadi jawaban Bian.
“Makasih yah” jawab Yura.

“Hhmmm.” sebuah gumaman lagi yang Yura terima.
“Maaf juga gue udah buruk sangka sama elo, gue minta maaf.” ucap Yura dengan wajah yang masih menunduk.


“Udah. Sekarang elo istirahat dulu aja, gue duluan.” jawab Bian dengan menunutup pintu kamar dimana Yura masih mematung.
✿✿✿
Mata Yura yang merasa silau dengan cahaya matahari yang menerobos kaca-kaca bening yang terpasang berjajar didepannya. Yura mengucek-ngucek matanya yang masih setengah mengantuk, dia melihat sekeliling kamar. Kamar itu begitu bersih dengan tempat tidur yang berbalut seprei putih, dengan meja riasan disamping kanan nya dan dengan beberapa tanaman hias disisi-sisi pojok kamar. Yura turunkan kakinya dari tempat tidur iya berjalan kearah jendela dan ia tersenyum manis melihat kearah luar sana.
“Pagii yang indah..” ucapnya. Yura teringat sesuatu, Yura berjalan kearah tas sekolahnya, ia mulai mengaduk-ngaduk isi tas nya.
“Duh dimana sih..??” gumamnya. “Nah ini dia..” tangan nya memegang ponsel yang sedari tadi ia cari. “Yah hpnya mati lagi. Pasti ka Liana hawatir banget gue semalam gak pulang..”

“Ya udah gue minjem hp Bian aja buat sms ka Liana..” pikirnya dengnan semangat. Yura membuka pintu kamar, dia berjalan dengan sedikit menahan sakit dikakinya.
“Hah.. ternyata gue ada dilantai atas rumah Bian??” pikirnya dalam hati.

Dengan mengenakan baju tidur yang hanya menutupi paha atasnya terlihat kaki panjangnya menuruni tangga, ia mencari-cari Bian tapi belum ia temukan. “rumahnya gede banget, kalo dikosin mampu nampung berapa kamar yah??” pikir Yura dengan menepuk-nepuk dahinya.
Sekilas Yura mendengar suara piring dari arah pojok, sepertinya dari sebuah dapur “Mungkin itu Bian” Yura coba menebak.
Yura berjalan mendekati dapur, terlihat disana Bian sedang menata piring diatas meja makan. Yura hanya berdiri melihat lelaki tinggi yang  telah menolongnya.
“Elo gak ada niat buat bantu gue yah??” ucap Bian. Bian menegakan badan nya dan melihatnya kearah Yura.
Yura mendekati Bian. “Iya gue bantu nih” jawab Yura dengan ketus, dia tidak ingin kalah dari lelaki didepannya yang begitu angkuh dan ketus.
Bian menarik kursi dihadapannya, dan duduk diatasnya, tanganya mulai mengambil beberapa lembar roti “Elo mau berdiri terus di situ ampe jadi patung??” tanya Bian dengan nada suara yang sama sepeti sebelumnya.
Yura duduk dikursi tak jauh dari kursi Bian “Eh, elo cuma tinggal sendiri dirumah ini??” tanya Yura mengawali percakapan dimeja makan pagi itu.
Bian terus mengunyah roti dimulutnya.
“Hey. Elo denger gue gak sihhh!!” tanya Yura dengan kesalnya.
Bian meneguk segelas susu putih yang berada disampingnya. “Elo gak mau sarapan??” tanya Bian mengalihkan pembicaraan.
“Gue gak mau sarapan sebelum elo jawab pertanyaan gue..” jawab Yura dengan cemberut.
“Ya udah. Kalo elo nanti laper, elo tinggal ambil aja sendiri” jawab Bian dengan meneguk susu di gelas, dan pergi dari meja makan.

“Aaaisss. Dasar Bian jutek nyebelin..”
“Ey ey gue denger yah..” jawab Bian dari luar dapur.
“Eeehhh..” dengan mengigit bibir bawahnya, Yura memperkecil suaranya.
“Dasar jutek, ternyata kupingnya tajem banget…” Yura mengkerutkan dahi, dan menyipitkan matanya, dengan sendok yang dia gigit dimulutnya.
“Hey gue masih denger..” jawab Bian santai.
“Hah!! Masih denger??” Yura mulai melihat-lihat sekeliing dapur. “Pasti ada kamera pengintai disini” pikirnya dengan wajah yang menyelidik.


Cerita Tidak Harus Sejalan part 2

Hari-hari sangatlah cepat berlalu, dalam sebuah kejadian banyak sekali hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya, hari-hari akan semakin indah jika kita bisa selalu bersama seseorang yang kita sayangi dan cintai, tertawa bersama dan merasakan sentuhan tangan seseorang yang membuat hati kita berdebar, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, tapi sepertinya itu mustahil bagi Yura.
14 bulan sudah pejalanan cerita cintanya, suka duka pun sudah pernah ia rasakan bersama Rio. sesosok lelaki yang sangat ia cintai dan sayangi, Yura sangat menyukai sesosok lelaki itu dari sudut manapun ia memandangnya,  dengan tubuh yang profesional, dengan kulit coklat dan dengan aroma tubuh yang selalu ia sukai dan rindukan.
Rio begitu hangat, untuk mengisi hari-hari Yura sebelumnya.
“Pagi Ra.” Sapa Nando yang sidikit membuat Yura terkejut, dan membuyarkan lamunnanya.
“Iya pagi juga Do.” Balas Yura, dengan senyum manis disudut bibirnya.
“Aahhh pagi yang indah” Lirihnya dengan tersenyum.
Yura hanya bisa memperhatikan lelaki yang ia kagumi itu, melihatnya bagaikan melihat Rio dari Kejauhan, senyumnya bagaikan senyum Rio yang sudah lama terkubur.

“Ra??” tanya Nando dengan heran, “Elo  gpp kan??” Tanya Nando kedua kalinya, saat melihat Yura  hanya terdiam melihatnya.
“Oh iya gue gpp ko Do hehe” Jawabnya dengan sedikit tawa kecil.

“Syukurlah kalo gpp. Tumben jam segini udah ada disekolah?” Nando kembali bertanya dengan mata yang terus memandang kedepan.
“Hhmm gue hanya pengen liat suasana sekolah pas sebelum ramai ” Tembalnya dengan singkat, “Kalo elo kenapa udah disekolah??” Tanya Yura kembali pada Nando.
“Gue suka dengan suasana tenang, seperti pagi ini yang cukup tenang” Jawabnya dengan penuh ucapan yang bermakna, Yurapun dibuat kabum olehnya.

** Diruangan kelas
Pelajaran pertama dan kedua telah selsai dengan sangat cepat, sehingga Yura harus siap bertemu dengan pelajarn terakhirnya, pelajaran yang sangat tidak dia sukai, yaitu matematika. Yura sangat tidak menyukai pelajaran matematika, entah apa yang membuatnya serasa ingin bermusukan dengan pelajaran ini.
“Yura”
Sebuah nama yang di ucapkan pak Rahmat, guru matematika.
“YURA HADI SUBAGYO!!”
sebuah spidol melayang kearah Yura, suara yang sangat Yura kenal yang sedang memanggil namanya, sehingga sebuah spidol yang terlempar kearah kepalanya menyadarkannya dalam amnesia yang baru saja dia alami.
“Iya pak!!!” Jawab Yura dengan berdiri.
“Maju kamu kedepan??” Ucapan manis namun membuat Yura seperti tenggelam dilumpur hisap, tatapan matanya begitu dalam sehingga membuatnya mati rasa.

Yurapun maju dengan degup jantung yang sangat kencang, papan tulis yang dia tatap bagaikan sebuah batu nisan yang sedang menunggunya untuk berbaring diatasnya.
“Ayo jawab, tunggu apa lagi??”
“Iya pak ini lagi mau dijawab kok” Jawabnya dengan sigap.
Sedikit mata Yura melirik kearah belakang dimana teman-temannya menunggu hasil yang ia kerjakan, mereka menatap kearah Yura dengan begitu seksama, Yura bagaikan seorang pesulap yang ditonton dengan banyak mata yang tak ingin lepas dari gerakannya.
“Okeee… kita mulaiii.. santai Yura santai Yura..” gumamnya dalam hati.
Sebuah goresan spidol, mulai mewarnai papan putih didepannya sedikit demi sedikit, dan
*Teeettt… teeett.. tteettt…

 Sebuah bel berbunyi tanda pembelajaran hari itu telah selsai.
Mata Yura benar-benar berbinar, dihari inilah dia mendapatkan keberuntungannya lagi.

“elo beruntung bell berbunyi, kalo nggak, mati elo didepan sana haha” goda Silvi dengan merangkul Yura.
“Aahh. Elo emang sahabat yang jahat, masa iya mau biarin sahabatnya sendiri mati berdiri disana” jawabnya dengan cemberut.
“Haha. Becanda kali tuan putri” godanya dengan berlari arah gerbang. “Eh Ra gue pulang duluan yah!!!! Ada janji sama nyokap buat belanja ni!!” teriak Silvi sambil melambaikan tangan.
“Iya!!! Hati-hati Sil.. salam buat nyokap elo !!!” balas Yura dengan melambaikan tangan.
Kesedihan yang Yura miliki tidaklah menjadi sebuah beban untuknya, disaat diaa masih mempunyai sahabat seperti Silvi, dia adalah sahabat dari kelas 1 SMA sampai Yura duduk di bangku 3 SMA ini, dia adalah salah satu yang cukup mengerti tentang diri Yura, dia sudah seperti sodara baginya.

Yura berjalan pulang, tiba-tiba ponsel Yura berbunyi, Yura menghentikan langkah kakiku sejenak, sebuah pesan singkat masuk .


From: Rio
“Happy anniversarry sayang yang ke 14 bulan,maaf telat yah,kamrin aku gak ada pulsa. I love u Yura”



 Sebuah pesan dari seseorang yang Yura tunggu, akhirnya terlihat dilayar ponsel genggamnya, ucapan yang sangat singkat tapi memiliki arti besar untukku.


To : Rio
“Happy mnsiv juga sayang :* ({}) Y, iya sayang gpp ko klo itu alasan nya J aku kira kamu lupa L I LOVE U TOO Rio :*({})YY


                                                                                                                                                                                                                Sebuah balasan dengan senyum yang menghiasi bibir tipisnya, bahagia rasanya menerima pesan darinya, dari seseorang yang sangat aku sayangi .


✿✿✿
Pagi berganti menjadi siang, siang berganti menjadi malam, inilah saat-saat yang membosankan bagi Yura, dia hanya bisa terduduk didepan laptop kesayangannya dan hanya mendegarkan lagu-lagu yang diputar secara berulang-ulang sampai-sampai telinga sudah bosan mendengarnya.
Matanya sudah bosan dengan menjelajah di jejaring sosial yang masih saja membuatnya bosan, matanya tertuju pasa ponsel yang tergeletak diatas buku-buku yang berserakan.
 “Kenapa yah Rio gak bales sms nya lagi??” gumam Yura. “Aahh udahlah mungkin dia sibuk, gue gak boleh egois masa gara-gara itu gue harus marah”
Tiba-tiba Yura teringat sesutu saat disekolah tadi pagi.
**Beberapa jam yang lalu disekolah, pagi hari.
“Ehh..  ini no gue,kalo elo pengen cerita atau butuh sesuatu, elo bisa telepon atau sms no gue aja” ucap Nando sambil menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan no telepon.
Yurapuan mencari-cari kertas yang yang Nando berikan tadi pagi, dia mencari sampai-sampai buku-buku pelajaran nya berantakan.
 “Akhirnya ketemu juga” ucap Yura dengan tersenyum.

Tangan Yura dengan lincahnya menekan-nekan layar diponselnya, pikiranya tiba-tiba kosong saat dia memikirkan kata apa yang cocok, untuk memulai percakapan dengan sebuah pesan singkat.
“Gimna yah?? Apa gue bilang gini aja yah.. “Hey Nando ini gue Yura, di save yah no nya ;), aahhh ngak, itu geli banget” Yurapun memikirkan cara untuk bagai mana cara menyapa Nando.


“Gimana kalo gue pura-pura salah kirim sms aja yah?? Aahhh itu juga gak mungkin , cara itu udah kuno banget” Yura mulai bingung apa yang harus ia ketik dipesan itu.


#Drreddd…dreeddd… Sebuah pesan masuk.

From:+6281211025527
“Hay..”


“Yah siapa ini” Tanya Yura dalam hati. “Kayanya no ini gak asing deh, siapa yah?”
Yura membalas pesan singkat itu dengan rasa penasaran siapa yang mengirimnya


To :+6281211025527
“hay juga.maaf ini dengan siapa?”

Tak selang berapa lama balasanpun udah diterima..

from:+6281211025527
“pasti no nya belum di save yah?ini gue Nando”


hah Nando???” Yura menyamakan no yang tadi dikertas dengan no yang tertera pada layar   diponselnya. “Bener sama!!?? Tapi dia tapi dari mana yah no gue??”                


To :+6281211025527
“Nando?tapi kan gue belum sms elo?kok elo udah sms gue duluan??elo dapet no gue dari siapa?? :o”


From: :+6281211025527
“iya, tadi gue lancang minta no elo ke Silvi..

  malam itu Yura dan Nando sibuk dengan ponsel genggamnya masing-masing, mereka saling membalas pesan singkat yang mereka kirim, ponsel Yura malam ini tidak lagi seperti biasa, sekarang dia bisa menatap layar ponselnya dengan senyum dipipinya, walapun dia sadar, orang yang disebrang ponsel itu bukanlah orang yang dia harapkan selaman ini.

✿✿✿
Yura duduk dipinggiran kolam, matahari begitu panas siang itu. Yura sangat malas untuk meneggelamkan tubuhnya dikubangan air kolam.
“Woy!! Bengong aja elo” Teriak Silvi dari belakang Yura.
“Ah. Kagak, gue lagi mikirin sesuatu aja nih” Jawab Yura.
“Ciee.. mikirin siapa nih” goda Silvi .
“Ahh. Apaan sih elo” jawab Yura ketus. “Owh iya, elo kemarin ngasih no gue ke si Nando bukan??” tanya Yura.
“Hehe. Iya” jawab Silvi nyengir. “Eh gimana? Si Nando udah sms atau nelpon elo belum??” tanyanya kembali dengan semangat.

“Udah, tadi malem dia sms gue hehe..”
“Ciee.. haha. Gebetan baru nih” goda Silvi.

“Gebetan apaan sih?? Kan gue masih punya Rio!!”
“Rio?? Hah si brengsek itu masih idup!!!” jawab Silvi dengan ketus.
“Yee. elo kok gitu sih ngomongnya Sil, gitu-gitu juga pan dia pacar gue” jawab Yura dengan cemberut.
“Elo masih anggap si brengsek  itu pacar?? Hah dasar elo!! Mau aja dibego-begoin dia.” Jawabnya dengan kesal.
“Iyalah.. Sil gitu-gitu juga pan masih pacaran sama gue” jawabnya lagi dengan cemberut dan muka memelas.
“Lagian elo si, cowok kaya gitu masih aja dipiara, udah tau tuh anak playboy abis, udah berapa kali elo disakitin, sama dikibulin sama dia masih aja bisa sabar” jawabnya dengan marah.

“Yah namanya juga sayang Sil.”
“Sayang si sayang, tapi kalo kaya gitu, keterlaluan namanya Ra, lagian siapa sih yang mau liat sahabatnya sendiri di sakitin sama cowok brengsek kaya dia??” dengan nada marah Silvi menjawab.

“Iya iya Sil, makasih yah elo udah jadi sahabat terbaik gue” jawab Yura dengnan memeluk Silvi.
“Iya Ra, sama-sama” menyambut pelukan Yura.

Setelah bercerita panjang lebar bersama sahabatnya, Yura berenang kembali bersama sahabatnya itu. Sampai-samapai ia lupa waktu sudah berapa lama ia bermain-main dikolam itu.
 Silvi keluar dari kolam renang terlebih dahulu. “Eh Ra, jum’at depan ada pertandingan basket, elo harus ikut yah??” seru Silvi, dengan mengelap tubuhnya dengan sebuah handuk.
“Ahh males ahh. Lagian gue gak terlalu suka basket ini” jawab Yura singkat.
“Yaahh temenin gue dong, yah yah..” rengek Silvi.

“Iya deh iya,  ntar gue temenin deh, udah dong jangan cemberut gitu” jawab Yura . “Haha emang jam berapa pertandingan nya Sil?” tanya Yura dengan menggelembungkan air dikolam.
“Jam 5 sore Ra, janji yah ikut?? Nanti gue jemput kerumah elo deh” sahut Silvi dengan mengembangkan senyum dipipinya.

“Oke deh kalo gitu”
“Eh Ra, elo gak akan pulang?? Cepetan dong udah sore nih” tanya Silvi.
“Yah padahal gue masih betah main air Sil, kok cepet banget kesore yah??” jawab Yura dengan menggerutu.

“Haha. Udah ah gue mau ganti baju duluan deh” dengan berjalan kearah kamar ganti.
“Ehhh tunggu Sil..” susul Yura dengan sedikit berlari-lari kecil.

Puas dengan aktivitas mereka dihari ini, Yura dan Silvi,  pulang dengan tubuh yang sangat lelah, tubuh mereka sangat ingin direbahkan diantara kasur-kasur yang telah menunggunya.
Yura berjalan sendiri diatas trotoar jalan, dia lebih memeilih untuk berjalan kaki dari pada naik kendaraan umum, sekalian jalan-jalan sore menurutnya. Lagi pula jarak antara kolam renang umum dengan rumah kosannya tidak terlalu jauh. Silvi terlebih dahulu pulang karna dia telah dijemput oleh supir pribadinya. Yura melirik  jam ditangannya jam menujukan pukul16:47 sore, ternyata dia bersenang-senang dengan sahabatnya cukup lama. Yura berjalan dengan mengisi seluruh sudut pandanganya kesegala arah yang ia liat, ia menikmati langkah demi langkah yang ia tapak.
“Aduhhhh…” teriak Yura tiba-tiba. “Aaww sakitt..” rintihnya dengan memegang kaki sebelah kirinya.

“Aww kenapa bisa kepeleset sih aahhh” keluhnya. Tiba-tiba Yura merasakan ada seseorang berdiri dibelakangnya, dengan perasaan was-was dia menengok kebelakang.
“HHUUUUUUAAAAAA!!!!!!!!!!!” teriak Yura dengan suara yang hamper habis.