Hari-hari sangatlah cepat berlalu, dalam
sebuah kejadian banyak sekali hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya,
hari-hari akan semakin indah jika kita bisa selalu bersama seseorang yang kita
sayangi dan cintai, tertawa bersama dan merasakan sentuhan tangan seseorang
yang membuat hati kita berdebar, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, tapi
sepertinya itu mustahil bagi Yura.
14 bulan sudah pejalanan cerita cintanya, suka
duka pun sudah pernah ia rasakan bersama Rio. sesosok lelaki yang sangat ia
cintai dan sayangi, Yura sangat menyukai sesosok lelaki itu dari sudut manapun
ia memandangnya, dengan tubuh yang profesional,
dengan kulit coklat dan dengan aroma tubuh yang selalu ia sukai dan rindukan.
Rio begitu hangat, untuk mengisi hari-hari
Yura sebelumnya.
“Pagi Ra.” Sapa Nando yang sidikit membuat
Yura terkejut, dan membuyarkan lamunnanya.
“Iya pagi juga Do.” Balas Yura, dengan senyum
manis disudut bibirnya.
“Aahhh pagi yang indah” Lirihnya dengan
tersenyum.
Yura hanya bisa memperhatikan lelaki yang ia kagumi itu, melihatnya bagaikan
melihat Rio dari Kejauhan, senyumnya bagaikan senyum Rio yang sudah lama
terkubur.
“Ra??” tanya Nando dengan heran, “Elo gpp kan??” Tanya Nando kedua kalinya, saat
melihat Yura hanya terdiam melihatnya.
“Oh iya gue gpp ko Do hehe” Jawabnya dengan sedikit tawa kecil.
“Syukurlah kalo gpp. Tumben jam segini udah
ada disekolah?” Nando kembali bertanya dengan mata yang terus memandang
kedepan.
“Hhmm gue hanya pengen liat suasana sekolah
pas sebelum ramai ” Tembalnya dengan singkat, “Kalo elo kenapa udah
disekolah??” Tanya Yura kembali pada Nando.
“Gue suka dengan suasana tenang, seperti pagi
ini yang cukup tenang” Jawabnya dengan penuh ucapan yang bermakna, Yurapun
dibuat kabum olehnya.
** Diruangan kelas
Pelajaran pertama dan kedua telah selsai dengan
sangat cepat, sehingga Yura harus siap bertemu dengan pelajarn terakhirnya,
pelajaran yang sangat tidak dia sukai, yaitu matematika. Yura sangat tidak
menyukai pelajaran matematika, entah apa yang membuatnya serasa ingin bermusukan
dengan pelajaran ini.
“Yura”
Sebuah nama yang di ucapkan pak Rahmat, guru
matematika.
“YURA HADI SUBAGYO!!”
sebuah spidol melayang kearah Yura, suara
yang sangat Yura kenal yang sedang memanggil namanya, sehingga sebuah spidol
yang terlempar kearah kepalanya menyadarkannya dalam amnesia yang baru saja dia alami.
“Iya pak!!!” Jawab Yura dengan berdiri.
“Maju kamu kedepan??” Ucapan manis namun membuat Yura seperti tenggelam dilumpur
hisap, tatapan matanya begitu dalam sehingga membuatnya mati rasa.
Yurapun maju dengan degup jantung yang sangat
kencang, papan tulis yang dia tatap bagaikan sebuah batu nisan yang sedang
menunggunya untuk berbaring diatasnya.
“Ayo jawab, tunggu apa lagi??”
“Iya pak ini lagi mau dijawab kok” Jawabnya
dengan sigap.
Sedikit mata Yura melirik kearah belakang dimana
teman-temannya menunggu hasil yang ia kerjakan, mereka menatap kearah Yura
dengan begitu seksama, Yura bagaikan seorang pesulap yang ditonton dengan
banyak mata yang tak ingin lepas dari gerakannya.
“Okeee… kita mulaiii.. santai Yura santai
Yura..” gumamnya dalam hati.
Sebuah goresan spidol, mulai mewarnai papan
putih didepannya sedikit demi sedikit, dan
*Teeettt… teeett.. tteettt…
Sebuah
bel berbunyi tanda pembelajaran hari itu telah selsai.
Mata Yura benar-benar berbinar, dihari inilah dia mendapatkan keberuntungannya
lagi.
“elo beruntung bell berbunyi, kalo nggak,
mati elo didepan sana haha” goda Silvi dengan merangkul Yura.
“Aahh. Elo emang sahabat yang jahat, masa iya
mau biarin sahabatnya sendiri mati berdiri disana” jawabnya dengan cemberut.
“Haha. Becanda kali tuan putri” godanya
dengan berlari arah gerbang. “Eh Ra gue pulang duluan yah!!!! Ada janji sama
nyokap buat belanja ni!!” teriak Silvi sambil melambaikan tangan.
“Iya!!! Hati-hati Sil.. salam buat nyokap elo
!!!” balas Yura dengan melambaikan tangan.
Kesedihan yang Yura miliki tidaklah menjadi
sebuah beban untuknya, disaat diaa masih mempunyai sahabat seperti Silvi, dia adalah
sahabat dari kelas 1 SMA sampai Yura duduk di bangku 3 SMA ini, dia adalah
salah satu yang cukup mengerti tentang diri Yura, dia sudah seperti sodara
baginya.
Yura berjalan pulang, tiba-tiba ponsel Yura berbunyi,
Yura menghentikan langkah kakiku sejenak, sebuah pesan singkat masuk .
From:
Rio
“Happy
anniversarry sayang yang ke 14 bulan,maaf telat yah,kamrin aku gak ada pulsa. I
love u Yura”
Sebuah pesan dari seseorang yang Yura tunggu,
akhirnya terlihat dilayar ponsel genggamnya, ucapan yang sangat singkat tapi
memiliki arti besar untukku.
To
: Rio
“Happy
mnsiv juga sayang :* ({}) Y, iya sayang gpp ko klo itu alasan nya J aku kira kamu lupa L I LOVE U TOO Rio :*({})YY”
Sebuah
balasan dengan senyum yang menghiasi bibir tipisnya, bahagia rasanya menerima
pesan darinya, dari seseorang yang sangat aku sayangi .
✿✿✿
Pagi berganti menjadi siang,
siang berganti menjadi malam, inilah saat-saat yang membosankan bagi Yura, dia
hanya bisa terduduk didepan laptop kesayangannya dan hanya mendegarkan lagu-lagu
yang diputar secara berulang-ulang sampai-sampai telinga sudah bosan
mendengarnya.
Matanya sudah bosan dengan menjelajah di
jejaring sosial yang masih saja membuatnya bosan, matanya tertuju pasa ponsel
yang tergeletak diatas buku-buku yang berserakan.
“Kenapa
yah Rio gak bales sms nya lagi??” gumam Yura. “Aahh udahlah mungkin dia sibuk,
gue gak boleh egois masa gara-gara itu gue harus marah”
Tiba-tiba Yura teringat sesutu saat disekolah
tadi pagi.
**Beberapa jam yang lalu disekolah, pagi
hari.
“Ehh..
ini no gue,kalo elo pengen cerita atau butuh sesuatu, elo bisa telepon
atau sms no gue aja” ucap Nando sambil menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan
no telepon.
Yurapuan mencari-cari kertas yang yang Nando
berikan tadi pagi, dia mencari sampai-sampai buku-buku pelajaran nya
berantakan.
“Akhirnya ketemu juga” ucap Yura dengan
tersenyum.
Tangan Yura dengan lincahnya menekan-nekan
layar diponselnya, pikiranya tiba-tiba kosong saat dia memikirkan kata apa yang
cocok, untuk memulai percakapan dengan sebuah pesan singkat.
“Gimna yah?? Apa gue bilang gini aja yah.. “Hey
Nando ini gue Yura, di save yah no nya ;), aahhh ngak, itu geli banget” Yurapun
memikirkan cara untuk bagai mana cara menyapa Nando.
“Gimana kalo gue pura-pura salah kirim sms
aja yah?? Aahhh itu juga gak mungkin , cara itu udah kuno banget” Yura mulai
bingung apa yang harus ia ketik dipesan itu.
#Drreddd…dreeddd… Sebuah pesan masuk.
From:+6281211025527
“Hay..”
“Yah siapa ini” Tanya Yura dalam hati. “Kayanya
no ini gak asing deh, siapa yah?”
Yura membalas pesan singkat itu dengan rasa
penasaran siapa yang mengirimnya
To :+6281211025527
“hay juga.maaf ini
dengan siapa?”
Tak selang berapa lama balasanpun udah
diterima..
from:+6281211025527
“pasti no nya belum di
save yah?ini gue Nando”
hah
Nando???” Yura menyamakan no yang tadi dikertas dengan no yang tertera pada
layar diponselnya. “Bener sama!!?? Tapi
dia tapi dari mana yah no gue??”
To :+6281211025527
“Nando?tapi kan gue
belum sms elo?kok elo udah sms gue duluan??elo dapet no gue dari siapa?? :o”
From: :+6281211025527
“iya, tadi gue lancang
minta no elo ke Silvi..
malam
itu Yura dan Nando sibuk dengan ponsel genggamnya masing-masing, mereka saling
membalas pesan singkat yang mereka kirim, ponsel Yura malam ini tidak lagi
seperti biasa, sekarang dia bisa menatap layar ponselnya dengan senyum
dipipinya, walapun dia sadar, orang yang disebrang ponsel itu bukanlah orang
yang dia harapkan selaman ini.
✿✿✿
Yura duduk dipinggiran kolam, matahari begitu
panas siang itu. Yura sangat malas untuk meneggelamkan tubuhnya dikubangan air
kolam.
“Woy!! Bengong aja elo” Teriak Silvi dari
belakang Yura.
“Ah. Kagak, gue lagi mikirin sesuatu aja nih”
Jawab Yura.
“Ciee.. mikirin siapa nih” goda Silvi .
“Ahh. Apaan sih elo” jawab Yura ketus. “Owh iya, elo kemarin ngasih no gue ke
si Nando bukan??” tanya Yura.
“Hehe. Iya” jawab Silvi nyengir. “Eh gimana? Si Nando udah sms atau nelpon elo
belum??” tanyanya kembali dengan semangat.
“Udah, tadi malem dia sms gue hehe..”
“Ciee.. haha. Gebetan baru nih” goda Silvi.
“Gebetan apaan sih?? Kan gue masih punya
Rio!!”
“Rio?? Hah si brengsek itu masih idup!!!” jawab
Silvi dengan ketus.
“Yee. elo kok gitu sih ngomongnya Sil,
gitu-gitu juga pan dia pacar gue” jawab Yura dengan cemberut.
“Elo masih anggap si brengsek itu pacar?? Hah dasar elo!! Mau aja
dibego-begoin dia.” Jawabnya dengan kesal.
“Iyalah.. Sil gitu-gitu juga pan masih
pacaran sama gue” jawabnya lagi dengan cemberut dan muka memelas.
“Lagian elo si, cowok kaya gitu masih aja dipiara, udah tau tuh anak playboy
abis, udah berapa kali elo disakitin, sama dikibulin sama dia masih aja bisa
sabar” jawabnya dengan marah.
“Yah namanya juga sayang Sil.”
“Sayang si sayang, tapi kalo kaya gitu, keterlaluan namanya Ra, lagian siapa
sih yang mau liat sahabatnya sendiri di sakitin sama cowok brengsek kaya dia??”
dengan nada marah Silvi menjawab.
“Iya iya Sil, makasih yah elo udah jadi
sahabat terbaik gue” jawab Yura dengnan memeluk Silvi.
“Iya Ra, sama-sama” menyambut pelukan Yura.
Setelah bercerita panjang lebar bersama sahabatnya,
Yura berenang kembali bersama sahabatnya itu. Sampai-samapai ia lupa waktu
sudah berapa lama ia bermain-main dikolam itu.
Silvi
keluar dari kolam renang terlebih dahulu. “Eh Ra, jum’at depan ada pertandingan
basket, elo harus ikut yah??” seru Silvi, dengan mengelap tubuhnya dengan
sebuah handuk.
“Ahh males ahh. Lagian gue gak terlalu suka basket ini” jawab Yura singkat.
“Yaahh temenin gue dong, yah yah..” rengek Silvi.
“Iya deh iya, ntar gue temenin deh, udah dong jangan
cemberut gitu” jawab Yura . “Haha emang jam berapa pertandingan nya Sil?” tanya
Yura dengan menggelembungkan air dikolam.
“Jam 5 sore Ra, janji yah ikut?? Nanti gue jemput kerumah elo deh” sahut Silvi
dengan mengembangkan senyum dipipinya.
“Oke deh kalo gitu”
“Eh Ra, elo gak akan pulang?? Cepetan dong
udah sore nih” tanya Silvi.
“Yah padahal gue masih betah main air Sil, kok cepet banget kesore yah??” jawab
Yura dengan menggerutu.
“Haha. Udah ah gue mau ganti baju duluan deh”
dengan berjalan kearah kamar ganti.
“Ehhh tunggu Sil..” susul Yura dengan sedikit berlari-lari kecil.
Puas dengan aktivitas mereka dihari ini, Yura
dan Silvi, pulang dengan tubuh yang
sangat lelah, tubuh mereka sangat ingin direbahkan diantara kasur-kasur yang
telah menunggunya.
Yura berjalan sendiri diatas trotoar jalan,
dia lebih memeilih untuk berjalan kaki dari pada naik kendaraan umum, sekalian
jalan-jalan sore menurutnya. Lagi pula jarak antara kolam renang umum dengan
rumah kosannya tidak terlalu jauh. Silvi terlebih dahulu pulang karna dia telah
dijemput oleh supir pribadinya. Yura melirik jam ditangannya jam menujukan pukul16:47 sore,
ternyata dia bersenang-senang dengan sahabatnya cukup lama. Yura berjalan
dengan mengisi seluruh sudut pandanganya kesegala arah yang ia liat, ia menikmati
langkah demi langkah yang ia tapak.
“Aduhhhh…” teriak Yura tiba-tiba. “Aaww sakitt..” rintihnya dengan memegang
kaki sebelah kirinya.
“Aww kenapa bisa kepeleset sih aahhh” keluhnya.
Tiba-tiba Yura merasakan ada seseorang berdiri dibelakangnya, dengan perasaan
was-was dia menengok kebelakang.
“HHUUUUUUAAAAAA!!!!!!!!!!!” teriak Yura dengan suara yang hamper habis.