Cerita Tidak
Harus Sejalan
“Sebuah dentingan
jarum jam dengan setiap detik cerita berbeda …”
✿✿✿
Ribuan
bintang bertaburan dilangit malam, udara yang begitu terasa dingin menyelimuti
tubuh, sebuah hembusan angin malam masuk melalui celah-celah jendela yang tidak
tertutup rapat. Yura masih sibuk dengan tugas sekolahnya yang sedari tadi tak
usai ia kerjakan.
“Hhuuuuuuaaaaaa
pusiiinggg pusssiinggg.”
Direntangkan
kedua tangannya dan tenggelam dikasur lepeknya. Yura merasa kedinginan dengan
hembusan angin yang menggoda dirinya sedari tadi. Sebenarnya, ia ingin sekali
menutup jendela yang sedikit terbuka, tapi ia cukup malas untuk menginjak
lantai yang terasa dingin, iapun kembali tenggelam dikasurnya.
✿✿✿
Kenyamanan
tidur Yura dibangunkan oleh alunan musik yang terus beralun keras. Dan itu
artinya, saatnya Yura bangun untuk memulai aktivitas sehari-harinya, ia
menggerakan tangannya keatas dan bangun dengan muka yang begitu mengerikan.
“Aaaaahhhhhh
apa-apan ini masa udah pagi lagi sihhh!!”
Ponsel Yura bergetar
diatas tempat tidur, sebuah pesan singkat masuk dari teman sekelasnya.
From: Silvi
“eh
Ra elo dimna?? elo mau sekolah pa kagak !!!”
To: Silvi
“yah sekolah
lah,emng kanapa sih!!ლ(ಠ益ಠლ”
From:Silvi
“(;¬_¬)/eh nih bocah
malah nanya lagi!! Cepet udah jam berapa nih !!!!”
Matanya mulai terfokus pada jam di ponselnya,
Yura terkejut dengan jam di ponselnya yang sudah menunjukan pukul 07:02
sedangkan sekolah mulai jam 07:15.
“Mampus telat nih !!!” Yura pun berlari ke arah
kamar mandi.
“Siapa di dalam?? Bisa cepet gak udah telat
nih!!!!” Yura menggedor pintu kamar mandi yang terkunci, bertanda didalam ada
orang.
“Bentar Ra, ini bentar lagi beres kok!!!” saut
dari dalam kamar mandi.
“Iya!! Ka Na cepet dong telat nih!! Doohhhh..!!!”
“Eeuuhhhh kebiasaan yah elo Ra, tiap pagi pasti aja hobyna kesiangan” jawab
Ka Liana sebari membuka pintu dan melangkahkan kakinya keluar kamar mandi.
Yura adalah nama yang diberikan oleh kedua
orang tuanya.
Dia adalah anak bungsu dari 2 bersaudara, walapun
dia anak bungsu dia tidak pernah manja kepada orang tuanya. Dia selalu ingin
hidup dewasa dan mandiri, terbukti setelah 5 tahun lebih, Yura hidup sendiri
dengan mengekos disebuah kota yang jauh dari rumah orang tuanya, dan alasan
lainnya supaya lebih dekat dengan sekolahnya.
sebuah kebanggaan baginya masuk kesekolah
terbaik dikotanya, bagaimana tidak bangga, dia mampu menjadi salah satu murid
disekolah tersebut. Setelah bersaing dengan banyaknya murid yang ingin masuk
kesana, Yura sangat bahagia ketika dia mengetahui bahwa dia masuk sekolah
tersebut.
Orang tua Yura awalnya melarang Yura untuk
tinggal dikota sendiri, mungkin awalnya mustahil bagi seorang anak SMP yang baru masuk sekolah ingin hidup
sendiri dikota. Tapi akhirnya orang tua Yura mengijinkan putri kecilnya tinggal
disebuah kosan temannya, walapun Yura mengakui hidup sendiri dikota tampa orang
tua tidaklah mudah, dia kadang sangat merindukan ibu dan ayahnya, dan sangat
merindukan suasan bersama keluarga saat berkumpul disore hari, tapi Yura cukup berani
mengambil keputusan itu demi bersekolah dan demi cita-citanya.
✿✿✿
“5 TAHUN KEMUDIAN”
5 tahun telah berlalu, Yura tinggal sendiri dirumah kosan yang ia
tempati sejak pertama masuk Sekolah Menenegah Pertama (SMP)
Sekarang Yura sudah duduk dibangku kelas XII, cerita suka duka nya dimasa-masa
SMA sebentar lagi berakhir, kini gadis berumur 17 tahun ini menjadi seorang anak
remaja yang sangat cantik dan menggemaskan.
Poster tubuh yang tinggi kurang dari 165 sentimeter, dan berat badan kurang
dari 55 kg, menambah keelokan tubuhnya.
Yura sudah berdiri rapih dengan seragam putih
abu-abunya yang ia kenakan, dia merapikan
rambut panjangnya yang terikat dengan rapi. Tas yang penuh dengan buku-buku
pelajaran sudah ia masukan, dan ia bawa
di pungungnya.
Yura langsung melesat pergi kesekolah, dengan
harapan bel masuk belum berbunyi, untung saja jarak sekolah dengan rumah kosnya
hanya berjarak bebrapa meter, jadi tidak
butuh waktu lama untuk sampai disekolah.
“Nah datang juga nih bocah!! untung aja belum
datang guru” sambutan oleh salah seorang teman Yura yang tak lain adalah Silvi.
“Aahh udah jangan bahas ketelatan gue lagi!!”
balas Yura. “Eh ngomong-ngomong kenapa
guru belum dateng?? tumben” sambil mengerutkan wajah.
“Gak tau tuh, padahal udah harusnya pelajaran
dimulai yah, ahh biarin ajah lumayan bisa nyantai ini kan Ra hehe” jawab Silvi
sambil tertawa.
“Hey guys ada tugas nih!!!!” teriak ketua
kelas.
“Wah, tugas apaan Ja?? emang gurunya kemana
ko ngasih tugas??”
“Tadi guru B.indo kita ijin pergi buat acara
sunatan anaknya, tapi ada tugas tentang cara
penullisan laporan sama penulisan iklan nih. Owh iya dikumpulin hari ini
yah guys!!” Seru Radja si ketua kelas.
“Yyyyaaahhhhhhhhhhhhhh…..” jawab anak-anak
sekelas serentak.
✿✿✿
“Eh Ra jam berapa nih? ko belum bel ya??”
“Baru jam 09:05 Sil” jawab Yura santai, dengan
mengerjakan tugas B.Indo yang tadi diberikan.
“Yaahh masih lama yah ke istirahat”gumam
Silvi dengan cemberut. “Eh ntar anter gue ke kantin belakang yah. Pengen makan
nasi goreng nih” dengan tangan memegang perutnya.
“Oke-oke asal traktir yahhh haha” tembal Yura
dengan tawa.
“Hahaha, boleh tapi cuma cilok satu aja yah
haha”
“Ahh kopet elo dasar pelittt!!” jawab Yura
dengan memanyunkan bibirnya.
“Haha. Iya tenang lah nanti di traktir ko Ra
hehe”
Suasana kelas XII-IPS-1 seperti biasa
sangatlah gaduh dengan tawa dan cerita-cerita yang begitu beragam mengisi
ruangan kelas. Apalagi ditambah tidak ada guru yang mengajar, suasa kelas
tambah gaduh. Tapi, Yura sudah terbiasa dengan suasana kelasnya.
✿✿✿
**Pukul 09:30
Teeeeettttt—teeeetttt—teeeettt, bel sekolah
berbunyi.
Terdengar suara gemuruh langkah-langkah kaki
anak-anak keluar kelas dan menyerbu keberbagai tempat makanan di kantin
sekolah.
“Waahhh akhirnya bell juga Ra”
“Hhmmmm iya”
“Elo kenapa sih Ra, ko kaya gak semanget
gitu” tanya Silvi dengan penasaran.
“Semalam gue kurang tidur Sil, jadinya
efeknya kaya gini nih” jawab Yura, dengan mengerak-gerakan leher ke kiri dan ke
kanan.
“Nah supaya semangat lagi, gimana kalo kita
makan aja di kantin!!!!”teriak Silvi dengan semangat. “Ayoo dong semangat!!!”
tambah Silvi.
“Oke semangat!!!” balas Yura.
Akhirnya Yura dan Silvi pergi ke kantin, mereka
mencari-cari bangku kosong untuk mereka duduk, dan akhirnya mereka menemukan
bangku kosong didekat pojok kaca.
“Eh Sil ada bangku yang kosong tuh, duduk
disana aja yu”
“Oke.”
“Eh Sil mau makan apa??”
“Yah pengen nasi goreng aja deh kayanya, kalo
elo?”
“Yah samain aja deh yah sayang” jawab Yura, dengan kedipan mata menggoda Silvi.
“Ih najis elo Ra haha, oke gue pesenin dulu yah”
Ketika Silvi memesan makanan, mata Yura
seperti dituntun untuk tertuju pada satu orang yang sedang membeli makanan,
seseorang yang Yura sukai, dia adalah Nando anak kelas 12-IPS-3, kulitnya yang
putih dan badan nya yang tinggi membuat lelaki itu terlihat sempurna, dan dia
sedikit mirip dengan seseorang, karna hal itu Yura sedikit menyukainya.
Terlihat dia dan teman nya sedang
mencari-cari tempat duduk yang kosong , dan betapa kaget nya Yura ketika lelaki
itu menunjuk kearahnya, Yura semakin bergemetar ketika lelaki itu mulai
mendekatinya, tingkahnyapun semakin aneh
saat lelaki itu mulai mendekat.
“Sorry, apa kita boleh gabung duduk disini??”
tanya nya dengan sopan dan dengan membawa semangkuk bakso dan sebotol teh botol
ditangannya.
“Aaahh. I-iya.. iya silahkan boleh kok,
silahkan” jawab Yura dengan gugup dan dengan kata-kata yang berantakan.
Laki-laki itu langsung duduk tepat
dihadapannya. “Ya ampun demi apa ini cowok bisa duduk berhadapan sama gue” gumamnya
dalam hati.
Tidak berapa lama Silvi datang dengan membawa
2 piring nasi goreng di tempayan dan dengan 2 es jeruk.
“Waahhh wahh ada tamu nih” goda Silvi sembari
duduk dibangku. Silvi memang mengetahui sahabatnya itu menyukai lelaki yang
kini duduk didepannya.
“Apaan sih elo Sil” jawab Yura ketus.
Nando melihat kearah Silvi. “Eh sorry, tadi
gak ada bangku kosong, makanya gue ikut gabung disini” ucap Nando.
“Haha.
Iya gpp ko, santai aja lagi, bahkan kita seneng bisa berbagi, iya gak Ra!!”
dengan menyenggol-nyenggol tangan Yura dengan usilnya”
Siang itu menjadi siang yang benar-bebar
tidak terlupakan dan kejadian di kantin itu benar-benar
tidak disangka oleh Yura.
“Gimana sekang udah semangat lagi kan Ra??”
tanya Silvi. “haha. untung aja tadi gue ngajakain elo ke kantin belakanag, kalo
nggak!!hhmmm.. elo bakalan nyesel kan ?? wkkw” godanya dengan tawa seperti kuda
yang sedang dicambuk.
“Iyaaa deh iyaaa, nona Silvi yang cantik
makasih udah ngajak ke kantin belakang hhaa. Tapi beneran loh Sil gue seneng
banget” dengan tidak sadar Yura loncat-loncat di tangga taman.
“Haha. Makanya harus nurut sama gue haha. Jadi
bisa beruntung lagi kaya tadi haha”seru Silvi dengan tertawa. “Eh udah hampir
bell masuk nih, yu masuk kelas Ra??”
ajak Silvi
“Iya bener, udah hamper masuk nih, ya udah cepet yu.” Dengan tergesa-gesa
menuju ruang kelas.
Siang itu belajar seperti biasa, dan setelah
kejadian saat istirahat tadi membuat Yura tambah bersemangat belajar siang itu.
✿✿✿
Tetesan hujan mulai mengguyur gedung sekolah, tetesan demi tetesan berubah
menjadi butiran hujan yang semakin deras, seperti sebuah ajakan untuk berperang
melawan nya. Yura terlihat duduk dipinggiran sekolah sambil sesekali menengok
kekerumunan hujan yang belum juga reda.
“Gimana mau pulang coba kalo ujan nya belum reda-reda
dari tadi !!”gerutunya dengan kedua tangan melingkar didadanya.
“Hey !!” sapa seseorang dari arah belakang
Yura. “Belum pulang??” sambil mengembangkan senyumananya kepada Yura yang tak
lain adalah Nando. “Woy..” Nando memanggil Yura kembali.
“Hah. Apa?” sahut dengan Yura dengan muka
yang memandang Nando.
Nando mendengus “Elo belum pulang??” tanya
Nando kedua kalinya.
“Mau sih, tapi gimna mau pulang, hujannya
deres gini??” Yura menjawab dengan nada yang lucu, serta melihatkan muka yang
cemberut.
Nando tersenyum tipis melihat tingkah laku
Yura. “Hhmmm .. iya juga sih??” jawab Nando dengan singkat. “Elo Yura kan? Anak
12-IPS-1??” tanya Nando
“Hah!! Dia ternyata tau nama gue..” serunya
dalam hati. “Iya, elo ko tau sih??” tanya Yura kembali.
“Yah tau aja.” jawabnya singkat. “Arah rumah elo
kesebalah mana???” tanya Nando kembali.
“Kearah sana” tunjuk Yura.
“Kalo gitu bareng gue aja, sekalian gue juga
mau kerumah temen” sembari membukakan payung.
“Jirrr. Mimpi
apa gue semalam, hhuuuaaaaaa. Kenapa ini kok dada gue kaya mobil balap yah, kok
detaknya cepet.” gumam Yura dalam hati, dengan
wajah yang memerah.
“Eh bengong lagi, gimana mau gak??” Nando
kebingungan dengan sedikit mengkerutkan alisnya.
“Oh iya makasi, nggak usah repot-repot gue
bisa pulang sendiri kok.” Yura tersenyum malu kearah Nando.
“Owh
ya udah kalo gitu, gue duluan yah ??” jawab Nando sambil pergi meninggalkan
Yura.
“Yah. Kok gue gak dipaksa buat ikut payungnya
sih..”dengus Yura dengan muka yang yang memelas.
Yurapun pulang dengan ditemani guyuran hujan
yang menjatuhi tubuhnya, serta membuat seragam sekolah yang ia kenakan basah
kuyup. Hari ini begitu rumit untuk digambarkan, namun gambaran yang rumit itulah
yang membuat hatinya senang.
✿✿✿
*7 hari kemudian setelah kejadian disekolah,
rumah kosan.
Sinar
matahari sudah terlebih dahulu menyinari sebagian bumi, Yura duduk didepan
teras atas kosannya, ia merasakan terpaan sinar matahari yang memanjakan kulitnya,
terliahat mata Yura yang sedari tadi menatap layar ponselnya, raut wajahnya yang
manis terlihat begitu sangat sedih, entah apa yang sedang ia pikirkan
sampai-sampai merusak indahnya suasana pagi itu.
“Mungkin dia lupa sama gue”Cetus nya memecah
keheningan yang ia buat sendiri.
Yurapun masih mentap layar ponselnya,
sampai-sampai ia lupa berapa lama ia menunggu, tarikan nafas yang ia hembuskan
mengakhiri sesuatu yang ia tunggu di layar ponselnya. Yura melangkahkan kakinya
kedalam kamar, ia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, entah apa yang membuat
dirinya begitu lemah sepeti ini, air mata yang takterbendung lagi, mendesaknya
sehingga meneteskan air mata, tak terasa kini pipinya sudah benar-benar basah
dengan butiran air mata yang tidak
seharusnya ia teteskan. Raungan kesedihan menyelimuti hati Yura.
Ddrreeeddd…dreeddd. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya Yura. Yura mengambil
ponselnya dan menghapus air matanya yang sempat membanjiri pipinya.
From: Silvi
“Ra,turun dong gue
dibawah nih :3 ??”
Belum sempat Yura membalas sms Selvi
tiba-tiba, terdengar ketukan suara pintu dari luar kamar.
“Ra, ada temen elo tuh dibawah..” Teriak ka
liana dari balik pintu.
“Owh iya ka, makasih.” Jawab Yura .
Yura segera menuruni anak tangga dengan
hati-hati, ia segera membukakan pintu depan.
“Eh lama amat sih Ra buka pintunya!??” Celoteh
Silvi dengan muka yang kusam.
“Haha. Sorry deh sorry Sil.” Sembari
merangkulnya, dan mengajaknya kekamar.
“Eh. Ra, elo dah denger belom??” Seru Silvi.
“Denger apaan.??” Balas Yura.
“Katanya, si Nando putus sama pacarnya!!!” Dengan
muka serius.
“Hah!! Seriuss elo!! Asikkk dong haha..”
Jawab Yura dengan senang.
“Ehh. Eehh. Sorry yah Nando jatah gue!!! Kan elo
udah punya Rio!!” Jawabnya dengan spontan.
“Haha gpp lah lagian cuma suka ini pan hehe” Seru
Yura dengan senyum pepsoden.
“Haha gpp lagi gue cuma becanda ini.” Jawabnya
dengan tawa khasnya, yang seperti kuda.
Pagi hari yang sangat suram yang hanya
dihiasi dengan tangisan kini telah tergantikan dengan sebuah canda, tawa yang
menghiasi hari, siang hari yang sangat menyenangkan jika berbagi cerita bersama
sahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar