Rabu, 02 Juli 2014

Cerita Tidak Harus Sejalan Part 16

✿✿✿
 “Hay” seru Yura.
“Hay juga...” balas Silvi.
“Hay Ra, lama banget sih datengnya???” seru Nando.
“Hehe sorry ..” jawab Yura dengan nyengir.
“Ya !!! kenapa ada dia disini?” ujar Nando dengan terkejut.
“Wah ada Bian..” seru Silvi dan berlari kearah Bian.
“Hehe sorry yah gue tadi ngajak dia..” seru Yura.
“Gpp kok gpp..” seru Silvi dengan memeluk tangan Bian.
Bian hanya berdiri diam menyikapi tingakal Silvi yang aneh.
 “Tapi kok elo bisa sama Bian?? Tadi Bian kerumah elo..??” tanya Silvi.
“Nggak sih…” seru Yura

Sebelum berangkat.
“Gue ajak si Bian aja kali yah?? Kasiahan dia selalu diem sendiri..” Ujar Yura.
 Yura berlari kearah luar rumah dan memanggil tukang ojek untuk mengantarnya ketempat Bian. Tidak perlu banyak waktu untuk sampai kerumah Bian. Yura memasuki rumah Bian, rumah yang begitu besar, pintu depan tidak dikunci memudahkan Yura untuk masuk kedalamnya.
“Bian kemana yah??” seru Yura. Yura mencari-cari Bian, Yura sampai dilantai dua dimana kamar Bian berada.
“Mungkin masih tidur…” seru Yura dengan lancang masuk kekamar Bian. “Loh kok gak ada..” seru Yura, dengan meilhat sekeliling kamar.
“Mau ngapain elo??” suara Bian dari arah belakang.
Yura berbalik kearah belakang.“HaH!” Yura melebarkan matanya.
“Kenapa elo??” tanya Bian.
“N-ngga. Gue gpp ko” jawab Yura dengan membalikan badannya kembali,
“Oh.” Bian berjalan kearah Yura dengan telanjang dada dan sebuah handuk yang melingakr dipinggangnya.
“Elo habis mandi..??” tanya Yura yang masih memalingkan wajahnya dari Bian.
“Iya.” Jawabnya singkat. “Elo mau tetep diem disitu?? Gue mau pake baju…” seru Bian.
“E-eh nggak lah. Gue keluar..”
Yura menunggu didepan kamar Bian dangan sebuah permen karet dimulutnya.
“Elo masih disini??” tanya Bian dengan menutup pintu kamarnya.
“Iya lah. Kan gue belum ngomong sama elo..”
“Mau ngomong apaan emangnya???” tanya Bian dengan melilitkan jam tangan hitam ditanganya.
“Elo ikut gue yah..” seru Yura dengan memegang tangan Bian
“Kemana??” tanya Bian.

“Kesungai yang ada ada air terjunnya yang dideket gunung, disana pemandangannya bagus udah gitu sejuk banyak hewan-hewan kecil juga disana banyak banget pepohonan yang….” Yura terus saja bercerita dengan semangatnya. Bian hanya diam tampa memperhatikan Yura.
“Males” jawab Bian singkat dan berjalan kearah tangga, kelantai bawah.
“Eh. Gue udah cape-cape cerita masa elo gak mau ikut sih !!” gerutu Yura dengan menghampiri Bian.
“Lagian mau ngapain, males gue..”
“Yah ikut yah plisss. Ikut yaahh.. “ rengek Yura dengan memelas.

✿✿✿
 “Makanya gue bisa sama dia disini sekarang hehe…” seru Yura.
“Gpp sih kata elo, kenapa mesti ngajak ini orang sawah coba..” gerutu Nando dengan memayunkan bibirnya.
“Elo kenapa sih Do??” seru Silvi.
“Au ah gelap…” jawab Nando dengan pergi duluan kearah sungai.
“Ish dasar aneh tuh anak..” seru Silvi.
Tidak lama kemudian Nando keluar dari arah jalan setapak dengan muka yang masih cembeerut.
“Kenapa balik lagi??” tanya Yura dengan kebingungan.
“Gue gak tau jalanannya..” jawab Nando dengan muka polos.
“Euhh dasar!! Makanya jangan sok tau..!!” celoteh Silvi dengan berjalan kearah sungai.
“Dih dasar nenek rombeng” gerutu Nando. Nando melihat kearah Yura yang sedang berdiri didekat Bian.
“Eh. Eehh awas Ra.. “ seru Nando tiba-tiba, dengan menarik tangan Yura kearahnya.
“Kenapa sih Do??” Yura kebingungan dengan tingkah Nando.
“Maksudnya awas hati-hati kalo deket sama gue, tar elo pingsan lagi deket orang keren kaya gue hehe..” jawab Nando dengan tertawa.
Matanya melihat kearah Bian dan memegang tangan Yura. “Elo hati-hati yah Ra, bebatuannya licin..” seru Nando dengan melirik kearah Bian, bermaksud membuatnya cemburu.
Bian hanya melihat mereka dari arah belakang, dan hanya mengikuti mereka tampa berkata satu patahpun.
20 menit perjalan untuk menuju air terjun, mereka sekarang sudah sampai diair terjun. Terlihat Nando yang sangat kelelahan bersantai diatas bebatuan dan merasakan percikan air yang jatuh menimpanya.
“Ra, sini..” teriak Nando dari arah bebatuan. Yura hanya melambaikan tangan dan tersenyum kearahnya. Yura berjalan kearah Bian dan duduk disebelahnya, terlihat Nando yang sangat cemburu saat Yura mendekati Bian.
“Elo gak ikut kesana??” tanya Bian.
“Nggak ah, gue disini aja..” balas Yura dengan tangannya yang memainkan air.
“Dia cowok elo??” tanya Bian dengan melirik Nando.
“Bukan, dia sahabat gue, pacar gue namanya Rio” jawab Yura dengan tangan masih memainkan air.
“Sekarang dimana pacar elo? Gue gak pernah liat dia” Bian kembali bertanya.
Pertanyaan Bian membuat Yura menghentikan tangannya untuk bermain air. “Dia lagi sibuk..” jawab Yura dengan singkat. “Makanya gak pernah ada waktu buat maen bareng dia..” tambahnya.
Bian terdiam mendengar cerita Yura. “Ra, liat deh lucu banget!!” seru Nando dari arah bebatuan.
“Hah. Apaan. Gue pengen liat..” jawab Yura dengan berlari kearah Nando. “Wah cantiknya..” seru Yura dengan memegang pipinya.
“Iya cantik kaya elo Ra..” ujar Nando dengan tertawa.
Yura melihat kearah Nando. “Hehe. Bisa aja sih elo..” balas Yura dengan tersenyum kearah Nando.
Silvi masih sibuk dengan membasuh tubuhnya diguyuran air terjun, yang membuatnya sangat merasa nyaman.
“Si Silvi kemana??” tanya Yura.
“Dimakan buaya kali..” seru nando dengan asik menangkap ikan-ikan kecil.
“Ey elo tuh” jawab Yura dengan memukul tangan Nando.
“Hehe. Dia lagi nyantai dibawah air terjun tuh Ra.” jawab Nando dengan mencubit pipi Yura.
“Ya!! Main cubit aja..” dengus Yura dengan cemberut.
“Ah makin cantik aja kalo lagi cemberut gini.. haha..” seru Nando dengan tertawa puas.
Yura menyiramkan air kearah Nando. “Nih rasain!!” seru Yura dengan membasahi baju Nando dengan air.
“Ahh. Basah!! Ra, udah Ra…” teriak Nando dengan menjauh dari arah Yura.
Yura masih menyiram Nando dengan air dengan senyum terpancar dari wajahnya. “Ah. Rasain elo. Haha”
“Eh. Beneran nih anak tengil yah..” ucap Nando dengan membalas menyiram Yura dengan air.
Nando dan Yura terliht sangat senang dengan permainan airnya, Bian hanya bisa melihat mereka bersenang-senang dari arah dimana dia duduk didekat pohon.
Seharian mereka sudah bersenang-senang dibawah air terjun, baju Yura dan Nando basah kuyup, Silvi yang sudah merasa puas dengan manjaan air terjun.
“Ya. Udah sekarang kita balik aja lagian udah sore ini” seru Silvi dengan merapikan rambut basahnya.
“Ya udah yu lagian gue udah kedinginan gini” seru Yura dengan menggigil.
“Apa lagi gue. Dingin bangeet” seru Nando dengan tangannya yang memeluk tas.” Seseorang tolong peluk gue dong..” seru Nando dengan manja.
“Iiiuuhhh…” seru Silvi dan Yura secara bersamaan dengan mata memutar.
“Yah. Pada pelit elo pada..”seru Nando dengan cemberut.
Mereka berjalan kearah dimana tadi mereka bertemu, hari sudah mulai sore, kaki-kaki mereka melangkah menyusuri jalan setapak, dedaunan yang seperti mencegah mereka untuk pergi menggapai-gapai tubuh mereka.
“Oh. Iya nanti elo pulang bareng gue aja yah..” seru Nando dengan tersenyum kearah Yura.
“Oke deh” balas Yura dengan tersenyum
Tidak lama mereka sudah sampai ditempat tadi mereka janjian, disana terlihat motor Nando dan 2 buah mobil, yang dijaga pak Warto, supir Silvi.
“Sumpah gue seger banget kalo udah pulang dari sini tuh” seru Silvi dengan merentangkan kedua tangannya. “Oh. Iya Ra, elo mau balik bareng siapa…??” tanya Silvi.
“Yang jelas bareng gue dong” jawab Nando dengan tiba-tiba sembari mengibaskan rambutnya.
“Haha. Sok ganteng banget sih elo” celetus Silvi.
“Eh. Bukan sok ganteng. Gue emang ganteng kali, dari turunan-turunan leluhur gue. Gue itu paling ganteng..??”
“Amasa? Iya ganteng kalo turunan kalo tanjakan? Jelek!!” jawab Silvi dengan menjulurkan lidahnya.
“Sialan elo”seru Nando dengan mata sinis.
“Haha. Iya deh ganteng ganteng haha” seru Silvi dengan tertawa.
Yura ikut tertawa dengan memegang perut nya.
“Hahaha..” Yura masih tertawa dengan terkekeh.
“Gue duluan” seru Bian dengan tiba-tiba.
“Oh. Elo mau duluan?? Ya udah bye yah..” jawab Nando dengan semangat.
“Elo mau duluan??” tanya Yura dengan mendekati Bian.
“Iya. Lagian gue ada acara jadi harus buru-buru..” jawab Bian dengan menaiki mobilnya.
Bian pulang terlebih dahulu, disusul dengan mobil Silvi, Nando dan Yura masih terduduk diatas motor.
Yura sudah siap dengan helm dikepalanya dan sudah mantap duduk dibelakang Nando. “Kenapa belum jalan Do,??” tanya Yura dengan melihat kearah spion.
“Iya ini lagi mau tancap gas nih..” seru Nando dengan senyum.
Yura memeluk tubuh Nando dari belakang, Nando menjalankan motornya. Yura menyandarkan kepalanya kepungugung Nando, terlihat Nando tersenyum tipis dibibirnya. Tiba-tiba ponsel Nando berbunyi dari dalam saku tasnya.

“Hadoh ini hp ngeganggu aja deh..”gerutu Nando. “Eh. Ra, bisa angkatin hp gue gak??” tanya Nando dengan melirik kearah spion.
“Hp elo dimana??” tanya Yura.
“Cari aja disaku belakang tas..”
“Oh. Iya ada nih..” jawab Yura.

Yura menekan tombol berwarna hijau dihp Nando, tampa terlebih dahulu melilhat siapa yang menelponnya.
“Hallo..”
Iya hallo, ini dengan siapa? Nando mana??”
Ini dengan Yura, Nando nya lagi nyetir motor, ini dengan siapa..??” tanya Yura dengan sopan.
Ini mamahnya Nando..”
Yura terkejut dan mencolek-colek punggung Nando. “Do, ini nyokap elo..” seru Yura.
“Ya udah elo tanya aja mau apa? Gue pan lagi nyetir masa pegang hp..” jawab Nando.
Yura kembali menempelkan ponsel Nando ketelinganya. “Oh, mamahnya Nando, maaf tante kata Nando ada apa? Soalnya Nando lagi bawa motor..”
“Oh iya gpp, tolong bilangin ke Nando pulang cepet gitu yah, soalnya tante sama tante mira mau ke Manado, jadi cepet pulang,ini kunci rumah gitu yah..”
“Oh. Iya tante nanti saya sampaikan sama Nandonya..” balas Yura dengan sopan sebelum, ia menutup teleponnya.
“Do, kata nyokap elo katanya elo harus cepet balik, nyokap elo sama tante Mira, kalo gak salah, mau keManado katanya..” seru Yura dengan mendekatkan mulutnya ke kuping Nando yang tertutup helm.
“Yah. Padahal kalo pergi yah pergi aja..” gerutu Nando dengan terus menjalankan motornya.
“Yeh. Katanya kunci rumah ambil, mungkin mau bilang apa dulu ke sebelum dia pergi..” jawab Yura dengan mnjitak helm Nando. “Owh. Iya emang nyokap elo mau keManado mau ngapain sih?? Arisan hihi..” tambah Yura dengan tawa kecil.
“Gila apa. Masa iya arisan jauh-jauh banget. Mau ngunjungi keluarga disana Ra, tadi dia bilang sama tante Mira kan? Nah itu adiknya nyokap gue..” seru Nando dengan sedikit berteriak.
“Oh gitu tohh…” seru Yura dengan mengangukan kepalanya. “Kalo gitu cepet dong, nanti nyokap elo keburu berangkat lagi …”
Nando mempercepat laju motor, setelah ia mengantar Yura kerumah kosnya, ia langsung melesat kerumahnya.

 →part17

Cerita Tidak Harus Sejalan Part 15

✿✿✿
 “Tadi katanya dibawah, kok gak ada yah..??” gumam Yura dengan mencari-cari Silvi” Yura berjalan kearah café jus, dan duduk disana.
“Ah. SiPutri bohong kali yah?? Gak ada juga..” gerutunya.
“Misi de mau pesan apa??” tanya salah seorang pelayan café.
“Saya pesen jus alpuket aja deh mas..” jawab Yura dengan melihat kearah jalan.
“Oke ditunggu yah dek..” jawab pelayan itu dengan pergi kearah belakang.
“Mana sih kok gak ada??” gumam Yura. “Hah. Itu dia..” seru Yura dengan berdiri dari tempat duduknya, dan berlari kearah lluar café. “SILVI!!” teriak Yura dengan keras, tampa peduli orang disekitarnya.
“Pelan-pelan dong mbak..” seru salah seorang lelaki yang berdiri didekat pintu keluar café.
“Eh. Maaf mas..” jawab Yura dengan senyum palsu.
Silvi membalikan badanya dan berlari kearah Yura. “Hey. Lagi apa elo disini Ra???” tanya Silvi.
“Gue lagi bête nih, makanya diem disini..” jawab Yura dengan berjalan kearah dalam café, disusul dengan Silvi.
“Owh iya bentar yah gue pesen dulu..” seru Silvi dengan berjalan kearah belakang.
“Oke..”
Yura dan Silvi terlihat mengobrol dari arah jendela café, tidak lama jus pesanan mereka telah diantarkan oleh pelayan dan siap mengisi tenggorokan yang kering.
Silvi meminum jus yang dipesannya. “Oh. Iya tadi kata Putri elo tadi sama cowok yah??” tanya Yura.
“Uhuk.. uhuk…” Silvi tersedak dengan jus yang diminumnya.
“Elo kenapa?? Elo gpp kan??” Tanya Yura dengan memberikan tissu kepada Silvi.
“Tadi emang Putri liat gue sama siapa??” tanya Silvi dengan membersihkan jus dimulutnya.
“Gak tau. Katanya gak keliatan?? Hayoo.. siapa loh.. Haha.. pasti pacar elo kan??” tanya Yura dengan nada menggoda.
“Haha. Elo gila yah?? Haha..” Silvi menjawab pertanyaan Yura dengan tertawa.
 Yura hanya bengong dibuatnya. “ Elo kenapa???” tanya Yura dengan keheranan.
“Itu kan si Nando. Tadi gue minta anter dia buat ke toko buku. Tapi buku yang gue cari gak ada.” Jelas Silvi. “ Kalo gue tau elo bakal kesini, gak gue suruh pulang dulu tuh si Nando hehe” tambah Silvi dengan nada menggoda.
“Dih dasar elo. Gue kira siapa ternyata Nando. Emang elo mau cari buku apa Sil” tanya Yura.
“Buku tentang sejarah gitulah..”
“Oh gitu” seru Yura.
“Eh. Gimana si Nando udah nembak elo??” tanya Silvi dengan semangat.
“Nembak apaan??” jawab Yura dengan muka keheranan.
“Yah kan katanya si Nando mau nembak elo?? Masa tuh anak belum ngomong-ngomong sih. Payah” gerutu Silvi.
“Dih dasar elo. Emang kenapa sih elo pengen banget gue pacaran sama dia??”
“Yah gue pengen elo pacaran sama dia gara-gara dia tuh baik sama elo, dia juga ngerti elo kan?? Gak kaya si Rio sialan itu..” gerutu Silvi. “ Owh iya si Bian itu gimana??” tanya Silvi dengan lebih mendekatkan mukanya kearah Yura.
“Duh apaan sih jangan deket-deket ah gatel gue haha..” jawab Yura.
“Ish. Ayo gimana??” tanya Silvi kembali.
“Gimana apanya sih?? Dia cuma kebetulan aja nolong gue, sekarang gak tau kemana tuh anak.” Balas Yura dengan muka kesel.
“Tapi kalo diliat-liat kece juga tuh si Bian yah hehe..” seru Silvi dengan muka centilnya.
“Kalo elo tau sifatnya, gak akan tahan deh elo” balas Yura.
“Ey. Sirik aja elo yah haha” ujar Silvi dengan tertawa.
Suasa café yang cukup ramai tidak membuat 2 sahabat itu mesara terganggu, mereka bercerita cukup banyak, hingga tidak terasa mereka bercerita cukup banyak, sampai jam menunjukan pukul 20:07 malam.


                                       ✿✿✿
Yura berjalan digelapnya malam sendiri menyusuri trotoar yang menuju arah rumahnya, terlihat banyak pasangan yang sedang makan dipinggir jalan atau yang hanya sekedar berbincang-bincang.
“Kalo malem ramenya sama yang mojok-mojok gitu. Ish dasar..” gerutu Yura dengan memutar-mutarkan tas kecilnya.
Terlihat seseorang sedang terduduk didekat pintu pagar rumah kosan Yura, Yura memperhatikan sebentar, ternyata seoarang lelaki yang seperti menunggu seseorang.
Yura berjalan kearah lelaki yang terduduk itu.“Permisi? Cari siapa??” Sapa Yura dengan sopan.
Lelak itu mulai melihatkan wajahnya kearah Yura. Lelaki itu berdiri berhadapan dengan Yura.
“Elo. Ngapain duduk disini??” tanya Yura.
“Gue Cuma mau balikin ini” jawab lelaki itu yang tak lain adalah Bian, dengan memberikan baju kepada Yura.
Yura mengambil baju itu dari tangan Bian. “Makasih” ujar Yura. “Elo malem-malem gini cuma mau balikin ini doang??” tanya Yura dengan mengkerutkan alisnya.
Bian hanya diam dan kembali kedalam mobilnya.
“Elo tuh aneh yah..” seru Yura dengan sedikit nada tinggi.
Bian melirik Yura dari arah dalam mobil. “Apa elo !!!” sentak Yura dengan mata melotot.
Bian hanya memutar bola matanya dan kini ia siap-siap melajukan mobilnya. Bian melesat sangat cepat dari arah pandangan Yura. “Dih ngeselin..” cetus Yura dengan melihat mobil Bian hilang dari pandangannya.
✿✿✿
 “Hallo…” jawab Yura dengan nada mengantuk.
“Hallo Ra..” suara Silvi disebrang sana.
“Iya hallo. Ada apa sih pagi-pagi gini udah nelpon”
“Eh kita jalan yu ke sungai yang ada air terjunnya, yang deket pegunungan itu” seru Silvi.
“Yang mana?? Gue lupa”
“Yang waktu kita liburan tahun kemarin, masa lupa..”
“Iya deh oke ayo kita kesana..” jawab Yura dengan bangun dari tidurnya.
Oke, gue tunggu 1 jam dari sekarang yah..” balas Silvi dengan mematikan teleponnya.
“Ahh. Pagi-pagi banget sih..” gerutu Yura dengan mengacak-ngacak rambutnya.
Jam ditangan Yura menunjukan jam 09:21, Yura berdiri dengan celana panjanganya, jaket hitamnya dan tas kecil yang menggelantung dibalik punggungnya.
“OJEK!!!!!” teriak Yura dengan keras.
“OKE NENG OKE..!!!!” balas Tukang ojek yang mendorong motornya dari pangkalan ojek kearah Yura.
“Mau kemana nih neng??” jawab tukang ojek dengan nyengir.

“Nanti saya tunjukin deh mang jalannya..” balas Yura dengan naik keatas motor.
Tidak butuh waktu lama Yura untuk sampai ditempat tujuannya.
“Nih mang, makasih yah..” seru Yura dengan memberikan uang lima ribu.
Tukang ojek menerima uang yang diberikan Yura. “Kurang neng..” seru tukang ojek kepada Yura.
“Kurang apaan?? Biasanya juga pan segitu” balas Yura.
“Sekarang tuh BBM naik neng, harga cabe dipasar juga naek juga neng, udah gitu harga susu diwarung juga naik, dan lagi tagihan listrik juga naik, mana cukup segini” ujar tukang ojek dengan menggerak-gerakan jarinya dan berhitung.
Wajah Yura terlihat sangat bosan mendengarkan curhatan tukang ojek didepannya. Yura langsung terenyum kearah tukang ojek dan berjalan kearah tukang ojek. “Tau gak mang, aku tuh yah gara-gara BBM naik, gara-gara cabe naik, dan gara-gara listrik naik ampe uang kosan suka kurang mang, udah gitu gara-gara itu juga uang jajan dikurangain sama emak dikampung mang huuaaa…” balas Yura dengan panjang lebar, dan dengan wajah yang menujukan kesedihan didalamnya.
“Ya ampun neng kasihan bener kamu...” ucap lirih tukang ojek. “ Ya udah dah gpp goceng juga neng hhe.. makasih yah neng.. emang pergi dulu..” ucap mang ojek dengan pergi dengan motor bebeknya.
“Hihi. Dasar tuh si emang, emang gue gak tau apa harga ojek kesini, sok mau ngibulin lagi.. weak..” seru Yura dengan menjulurkan lidahnya. Yura berjalan kearah rumah.
→part 16

Cerita Tidak Harus Sejalan Part 14

✿✿✿
Bian terus memandanng kearah jalan, dengan tangannya yang memegang kemudi, wajahnya terlihat sangat dingin, lelaki tinggi itu terus mengemudikan mobil dengan sangat cepat. Bian seperti seorang buron yang melarikan diri dari kejaran polisi. Bian memacu moblnya dengan sangat cepat lagi, kini ia telah sampai ditempat semula ia memparkirkan mobilnya, rumah.
Bian berjalan kearah ruang tengah, ia melempar kunci mobilnya sembarang.
“Grrhhh!!!!” seru Bian dengan mengacak-ngacak rambutnya. “Ahh. Bangsat!!!” ujar Bian dengan sorot mata yang menakutkan. Entah apa yang membuatnya mengucapkan kata-kata itu, tapi kini perasaannya sedang dihantui rasa yang benar-benar begitu membuatnya kesal.
Bian tertunduk dengan mengepalkan tangannya, ia benear-benar merasa kesal, tapi ia brpikir kembali, kenapa ia merasa sangat kesal. Bian menenggakan kepalanya melihat lampu-lampu hias diatasnya.
“Sial!! Gue kenapa!!!” Seru Bian dengan berdiri kembali dari kursi yang didudukinya. Perasaanya begitu aneh  hari itu. “kenapa datang lagi..” seru Bian dengan lirih.

✿✿✿
Yura sekang memasuki rumah kosnya, wajahnya masih begitu lesu, ia berjalan dengan sangat gontai.
“kenapa gue jadi gini..??” seru Yura dengan menaiki anak tangga.
Pikirannya seperti terus memutar saat-saat dia bersama Bian. “apa yang anak bodoh itu lakuin sih tadi!! Pergi gitu aja, cciihh dasar…” gerutu Yura dengan nada sebal. “ Bodoh..” gumam Yura.
Yura berjalan kearah ruang tv, laptop ditengtengnya dan diletakan diatas meja, Yura mulai menyalakan laptop kesayangannya, dan kini ia mencari-cari lagu kesayangan yang sangat ia sukai.
“ Nah ini dia nih” seru Yura dengan menyalakan lagu dilaptopnya.
Np : “Jason Mirs –Lucky”
Yura menikmati alunan musik dengan tangannya yang terus memindah-mindahkan kursornya, mata Yura kini menjelajahi jejaring sosial, matnya terus mencari-cari sesuatu.
“Ada satu pesan nih..” membuka pesan dengan kursornya.
Yura tersenyum saat mengetahui siapa yang mengirim pesan itu. “ Ra, besok gue kesitu yah..”
Yura terlihat senang. “Yes besok Rio kesini..”
“Ra, besok anter gue yah..” seru ka Liana dari arah belakang.
“Kemana ka??” tanya Yura.
“Ngecilin baju gue ke tukang jahit. Longgar banget soalnya..” jelas ka Liana.
“Yah gimana nanti aja yah, soalnya besok ada janji nih ketemu pacar hehe..” balas Yura.
“Oh. Elo ternyata punya pacar?? Haha gue kira jomblo. Haha”
“Iish. Ya punyalah..” jawab Yura dengan cemberut.
“Haha. Baju siapa tuh??” tanya ka Liana dengan menunjuk baju yang Yura pakai.
“Ini baju teman ka, malem kan gak ada baju ganti makanya pake yang dia dulu”
“Owh gitu toh” balas ka Liana dengan pergi meninggalkan Yura.

✿✿✿
Jam sudah menunjukan jam 11:30, namun seseorang yang Yura tunggu belum datang.
“Kok dia belum datang yah?? Owh iya sekarangkan hari rabu, dia pulang jam 13:30 kalo rabu” gumam Yura.
Yura menunggu dan terus menunggu, layar ponselnya belum menunjukan pesan dari Rio, Yura membersihkan kamarnya berharap Rio akan menyukai suasana kamar yang Yura bersihkan. Disemprotkannya pewangi ruangan, kesegala arah.
“Uhuk.. uhuukk..” mengibas-ngibas bau yang terlalu menyengat. “Ah kebanyakan..” ujar Yura. Mata Yura kembali melihat jam. “Kok belum datang yah..?? Apa dia lupa kali ya???”
Yura menulis pesan singkat kepada Rio, untuk mengingatkan dia tidak lupa akan ucapannya kemarin.

*To : Rio
“Ri, kamu dimna?? Kmu jadi kan kesini?? L

Tidak ada balasan dari Rio, jam terus berputar dan terus mengganti waktu, kini jam nenujukan pukul 15:47, namun Rio tidak kunjung datang.
Yura berhenti berharap tentang itu. “Hah. Udah kebarapa kalinya dia suka kaya gini..” seru Yura dengan nada kecewa. “Mendingan gue jalan aja deh, dari pada suntuk gini..”
Yura berjalan keluar rumah, dengan mengganti baju sebelumnya. Dia tidak tau mau kemana, yang penting kini dia tidak lagi berada dikamar yang cukup membosankan.
“Pyuh..” denggus Yura dengan cemberut. Diperjalanan dia bertemu dengan salah satu teman kelasnya.
“Hay Ra..” sapa Putri.
“Hay put..” balasnya dengan senyum manisnya.
“Mau kemana??” tanya Putri.
“Gak tau nih. Itu elo mau kemana Put??” tanya Yura dengan melihat Putri yang membawa tas besarnya.
“Gue mau kemping nih hehe.”jawabnya dengan tertawa.
“Kemping? Kemping kemana?? Sama siapa? Banyakan gak? Berapa lama disana??” tanya Yura dengan panjang lebar.
Putri mengerutkan alisnya.
“Hehe..” Yura tertawa kecil.
“Gue mau kemping kehutan nih, yah gak jauh-jauh amat sih dari sini, banyak juga yang ikut, kan mumpung lagi libur..” jawab Putri dengan membenarkan tas ranselnya.
“Wah seru dong..” Seru Yura.
“Elo mau ikut???” ajak Putri.
“Hmm. Kayanya nggak deh..” jawab Yura dengan memutar bola matanya.
“Kenapa emang??”
“Gue takut ah. Gue kan gak terlalu berani kalo sama masalah kemping-kempng gitu..” jawab Yura dengan memegang pipinya.
“Ah. Dasar penakut elo, kan banyakan ngapain takut, elo juga bisa ajak si Silvi.” Seru Putri. “Owh iya tadi gue liat Silvi dibawah.” Tambah Putri dengan menujuk kearah jalan dibawah.
“Hah. Lagi apa si Silvi disana??” tanya Yura.
“Yah. Man ague tau. Gue sih tadi litanya sama cowok gitu, tapi gak tau siapa gak keliatan mukanya.” Jawab Putri.
“Hmm. Siapa yah??” pikir Yura dengan menebak-nebak. “Wah !! Jangan-jangan pacar si Silvi!! Wah gue harus liat..” seru Yura dengan pergi meninggalkan Putri. “Gue duluan yahh..” seru Yura dengan berlari-lari kecil.
“Iya,,” jawab Putri.

→ part 15

Cerita Tidak Harus Sejalan Part 13

✿✿✿
Seperti sebuah benca, semua orang tidak akan bisa mengira kapan bencana itu terjadi, dan tidak akan ada yang tau, sebesar apa kerusakan yang akan ditimbulkan. Kita hanya akan tau seberapa besar, dan seberapa parah kerusana itu setelah kita melihat dengan sendirinya. Dalam setiap perubahan pasti ada sebuah pertanyaan.
Ddreedd..drreedd…
Suara getar telepon membangunkan Yura. “Iya.. hallo..??” jawab Yura dengan setengah mengantuk.
Ra, hari ini elo kerumah gue yah..?? bête nih dirumah sendiri..” terdengar Suara Silvi disebrang sana.
“Oke deh ntar gue kesana..” jawab Yura dengan nada mengantuk.
“Elo baru bangun tidur yah..??? heh !! nenek rombeng liat noh matahari udah diatas kepala elo.. ayoo buru kerumah gue!!” oceh Silvi .
“Iya iya gue kesana.. 20 menit lagi yah…” balas Yura.
Yura berlari kearah kamar mandi, beberapa menit kemudian Yura sudah keluar dari kamar mandi dengan badan yang segar dan dengan pakaian yang masih sama ia kenakan seperti waktu masuk kekamar mandi. Yura melihat kearah jendela, terlihat disana Bian sedang membersihkan mobil sport nya.
Yura mengampiri Bian yang sedang membersihkan mobilnya.“Lagi apa elo..??” tanya Yura.
“Nggak liat elo, gue lagi ngapain..??” balas Bian dengan terus membersihkan mobilnya.
“Hih dasar..” gerutu Yura. “Owh iya baju gue yang kemarin dimana yah..?? Kok tadi di kamar mandi gak ada??” tanya Yura dengan memebantu Bian membersihkan mobilnya.
“Ada dimesin cuci..” balasnya.
“Udah kering??”
“Baru aja gue masukin..”
“Yah padahal gue mau balik, masa iya gue pake baju ini..” ucap Yura dengan memegang baju tidurnya yang lumayang besar, tergantung dibadannya.
“Yah gpp, dari pada elo gak ada baju kan..??” balas Bian.
Yura menatap punggung Bian dengan mata sinis, serasa dia ingin menjatuhkan benda belakang lelaki itu. “Hahaha..” Yura tertawa kecil.
“Kenapa elo ketawa..??” tanya Bian dengan melihat tingkah Yura.
“Gpp..” jawab Yura dengan angkuh. “Owh iya elo bisa anterin gue kan..??” tambah Yura.
“Kemana..??”
“Kerumah temen gue sekarang, soalnya dia udah nunggu..” jawab Yura.
“Elo gak sarapan dulu..??” tanya Bian dengan melencng dari pembicaraan.
“Nanti aja..” jawab Yura.
“Ya udah, ayo naek..” dengan memasuki mobil.
Yura masuk kedalam mobil Bian, tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai didepan rumah Silvi. Yura menekan bel rumah, tidak lama Silvi segera menghampiri Yura.
“Udah dateng…” ujar Silvi dengan berlari menghampiri Yura. “Eh. Siapa tuh??” tanya Silvi dengan melirik-lirikan matanya.
“Owh ini. Kenalin ini Bian, Sil. Bian ini Silvi, sahabat gue..” ucap Yura dengan memperkenalkan nama mereka masing-masing.
“Hay. Gue Silvi” ujar Silvi dengan menyodorkan tangan.
“Bian.” jawab Bian dengan singkat dan memebalas salam Silvi.
“Eh. Ra, nih orang jutek banget deh..” bisik Silvi didekat telinga Yura.
“Hehe..” jawab Yura dengan tawa.
“Ini cowok yang elo bilang waktu itu bukan Ra.??” tanya Silvi dengan berbisik ditelinga Yura.
“Iya..” balas Yura singkat.
Silvi mengangguk anggukan kepalanya.“Ya udah ayo masuk Sil, Bian. Nando udah nunggu tuh ..” ujar Silvi.
Deg!! jantung Yura dengan tiba-tiba berdetak kencang tiba-tiba. “Didalam ada Nando??” tanya Yura.
“Iya.” balas Silvi. “Kenapa??”
“A-ahh gpp ..” jawab Yura.
“Hey, gue balik yah.” seru Bian dengan dingin.
“Loh ko balik sih..???” jawab Silvi dengan nada kecewa. “Masuk aja dulu..” tambahnya.
“Iya elo kan ada janji yah..??” seru Yura dengan tersenyum kecut kearah Bian dan menarik tangan Bian untuk masuk kedalam mobil. Bian hanya melihat sekilas tatapan Yura, yang seperti berkata.
cepet pergi..”

Gue mesti pergi, gue ada janji..” jelas Bian dengan berusaha melepas tangan Silvi.
“Tuh. Kan elo denger dia punya janji, dia mesti pergi..” balas Yura dengan menarik tangan Bian kedalam mobil.
Kini mereka terlihat sepeti 2 ekor burung yang sedang berebut satu ekor cacing yang akan mengisi perut mereka.
“Ada apa ini ribut-ribut..??” seru seseorang dari arah pagar rumah Silvi, yang tak lain adalah Nando. “Ngapain kalian tarik-tarikan kaya gitu..??” tanya Nando.
Dengan secepat kilat Yura melepaskan tangan Bian. “Ah nggak kita cuma..”
Belum selesai Yura berbicara Silvi sudah menyambar membicaraan Yura. “Kita cuma mau ngajak Bian masuk..” jawab Silvi dengan tangan yang masih memegang tangan Bian.
Nando menatap penampilan lelaki yang sedang diperebutkan 2 sahabatnya ini, yang mereka sebuat dengan nama Bian.
“Elo, bukannya anak basket yang dipertandingan itu yah ..??” tanya Nando dengan nada seperti menyelidik.
Bian melepaskan tangan Silvi yang masih terkait dengan tanganya. “Iya..” balas Bian dengan Singkat.
“Ahh yang bener..??” tanya Silvi dengan penasaran. “Ahhh iya elo yang masukin banyak point dipertandingan itu kan..??” tanya Silvi dengan nada yang semangat.
Kenapa Nando nanyanya gitu banget?? Mukanya kaya yang marah gitu..” seru Yura dalam hati, dengan memperhatikan Nando yang berdiri dengan tangan didadanya, dan dengan wajah yang terlihat kesal.
“Aahhh ayo kalo gitu kita masuk…” seru Silvi dengan menarik tangan Bian.
“Elo kenapa belum ganti baju Ra..” tanya Nando tiba-tiba.
Yura melihat langsung kearah Nando dengan tatapan seperti ketakutan. “Haha. Gue lupa ganti baju haha..” jawab Yura dengan tawa sembari mengusap-ngusap rambutnya.
Bian hanya melihat tingkah Yura dan lelaki yang sepertinya kurang menyukainya.
“Jadi. Semalam elo nginep dirumah dia???” tanya Nando dengan curiga.
Yura kaget dengan apa yang Nando bilang. Muka Yura menunduk, dia seperti takut jika Nando membencinya karna hal itu. “I-iya gue semalam nginep dirumah dia..” jawab Yura dengan menundukan kepalanya.
“Hah!! Jadi bener elo nginep semalam dirumah Bian??” seru Silvi dengan tiba-tiba. “Wah asik dong..!!!” ucap Silvi dengan semangat tanpa mengetahui perasaan Yura.
Nando membalikan badannya dan berjalan kearah dalam rumah, disusul dengan Silvi dan Bian mengiutinya dari belakang. Yura begitu merasa bersalah, enatah apa yang membuatnya merasa sedih ketika Nando mengetahui bahwa dia menginap dirumah Bian.
“Kalian tunggu dulu disini yah… gue mau ambil minum dulu..” ujar Silvi dengan keluar kamarnya.
Nando duduk dikursi komputer dengan memainkan games, Bian hanya terdiam dingin mematung sepeti sebuah es didekat jendela kamar, sedangkan Yura hanya duduk dipinggir ranjang. Didalam kamar, begitu sunyi tampa ada sepatah katapun mereka bertiga lontarkan.
“Tada!!! Minuman datang..!!!” seru Silvi dengan membawa jus jeruk digelas. “Nih ambil yah minumannya..” tambah Silvi dengan menaruh minuman dimeja belajarnya. “Hoh. Kenapa ??” tanya Silvi dengan keheranan melihat temannya terdiam, seperti bukan temannya yang selalu membuat gaduh.
“Thank ya minumannya..” seru Nando dengan mengambil jus.
Nando terlihat sangat kesal, melihat Yura dengan lelaki lain, walaupun dia menyadari Yura belum menjadi seseorang yang benar-benar dia milliki, tetapi rasa cemburu itu selalu ada.
Nando melirik kearah Yura dan Bian, Bian mulai menggerakan tubuhnya dan menuju arah sisi ranjang untuk duduk, mata Nando tiba-tiba membulat dan dengan sigap berdiri dari tempat duduknya, dan berlari kearah Yura.
“E-eh Ra, elo mau maen gitar gak?? Gue ajarin yah..” ujar Nando dengan membuat Yura keheranan kenapa dia berprilaku demikian.
“Hah??” Yura kebingungan melihat tingkah Nando yang tidak biasanya.

Gue gak akan biarin elo duduk disebelah Yura!!” gumam Nando dalam hati, dengan mata yang melirik Bian yang sekarang telah duduk didekatnya.
Yura melirik kearah Bian sekilas, wajahnya yang menunduk dan dengan tangan yang mengepal, dia sepertinya tidak nyaman berada dikamar itu.
“Gimana Ra, mau gue ajarin???” tanya Nando dengan senyum melebar dipipinya.
“Iya boleh Do..” jawab Yura dengan senyum tipis.
Seharian itu Nando dan Yura sibuk dengan gitar mereka dan dengan nyanyian Silvi yang tidak terlalu bagus mengisi seluruh ruangan itu, Nando dan Silvi sangat gembira ketika mereka bernyanyi, namun mata Yura entah kenapa selalu mengarah kepada Bian yang sedari tadi tidak berkata apa-apa.

Bi.. kenapa elo gak pergi aja.. kenapa elo masih disitu..” seru Yura dalam hati.

✿✿✿
 “Makasih. Maaf udah ngerepotin elo seharian ini hehe..” ucap Nando dengan tertawa.
“Haha iya gpp lagi...” balas Silvi.
Bian masuk terlebih dahulu kedalam mobil tampa mengucapkan sepatah katapun. Yura hanya bisa menatap belakang mobil Bian, yang sekang sudah tak terlihat lagi.
“His dasar!!” seru Nando dengan sedikit nada kesal. “Kaya jelangkung aja tuh anak..” tambahnya lagi dengan raut kekesalan diwajahnya.
“Dih elo kenapa sih..?? sensi banget elo !!” balas Silvi dengan memukul tangan Nando. “Ahh cemburu yah Elo..” goda Silvi.
Nando hanya terdiam dan hanya memperlihatkan wajah sinisnya.
“Dih biasa aja kali pak mukanya!!!” gerutu Silvi dengan mengusap wajah Nando.
Yura hanya melihat tngkah merka berdua yang begitu sangat lucu.
“Ra, gue anterin yah?? Lagian si Bian udah kabur tuh..” seru Nando dengan memberikan helm kepada Yura.
“Cciieee ampe udah nyiapain helm dua tuh.. haha..” goda Silvi dengan tawa. “kesempatan dalam kesempitan nih ciee..”
Yura hanya tersenyum malu ketika kata-kata Silvi membuat dirinya tersipu, Yura menaiki motor Nando dan dengan cepat dia sudah memakai helm dikepalanya.
“Sil gue balik dulu yah. Makasih buat hari ini..” ucap Yura dengan tersenyum.
“Haha iya sama-sama .. hati-hati elo yah dijalan..” ucap Silvi.
“Oke bye…”
“Byeee..” jawab Silvi dengan melambaikan tanganya dan kembali kedalam rumah.

→ part 14

Cerita Tidak Harus Sejalan Part 12

✿✿✿
Bian berjalan dengan kaki yang sangat berat, dia tidak tau harus mulai dari mana, keranjang ditanganya membuat dirinya seperti ibu-ibu yang akan berbelanja.
“Waahhh ganteng bangeettt .. waahhh…” seru beberapa perempuan yang melihat Bian melewatinya.
“Aaaisshh..” gumam Bian.
Inget yah beli pembalut dan jangan lupa beli perlengkapan dalamnya juga, gue lupa bawa jadi perlu ganti!!!” ucapan Yura terus teringat oleh Bian.“Aaahhhh.. dasar cewek sialan!! Masa iya gue disuruh belanja yang kaya gituan!!!”
Bian terlebih dahulu menuju tempat baju, tampa memilih dia langsung masukan baju kedalam keranjang yang ada ditangannya. Kini kakinya berhenti disebuah tempat baju dalam, Bian terlebih dahulu menoleh kekiri kekanan, lalu memasukan beberapa potong baju dalam dan yang lainnya tampa tau dia memasukan berapa potong.
Kakinya berjalan lagi ketempat dimana benda yang dibutuhkan Yura disimpan.
“Ihhh.. keren yahhh..” seru seseorang gadis yang melihat Bian berdiri disampingnya.
“Waahh… pengen banget punya pacar kaya gitu, ganteng..” seru temannya satu lagi.
Bian sedikit ragu mengambil benda yang didepannya, berkali-kali dia mengusap rambutnya dan bertingkah aneh, tidak  lama kemudian Bian langsung mengambil sebuah pembalut dengan cepat ditanganya, dan memasukannya kekeranjang, dan berlari kearah kasir.
“Waahhh.. beruntung banget punya cowok bisa disuruh beli yang kaya gituan.. wah jadi ngiri” jerit perempuan tadi .
Setelah membayar semua belanjaannya Bian langsung pulang menuju rumahnya dimana Yura sedang menunggu.
“Nih..” dengan memberikan belanjaan pada Yura.
“Wah makasih…” balas Yura. “Tapi apa ini??”dengan menjukan beberapa baju dalam yang dipegang Yura. “Gue kan gak butuh ini” tambahnya.
“Ya udah pake aja gue gak tau mesti ambil apa aja..” gerutu Bian dengan duduk dikursi.
Yura berlari kearah kamar mandi dan tidak lama sudah berdiri didepan Bian dengan memakai baju yang tadi Bian belikan.
“Semuanya besar..” seru Yura dengan berdiri menatap Bian.
“Apa..??” ujar Bian.
“Bajunya kegedean, yang ini juga kegedean..” tunjuk Yura kearah dadanya. “Gak enak pakenya..” seru Yura dengan muka polosnya.
Bian langsung berbalik kearah tv. “Gak usah dipake aja, mana gue tau ukuran punya elo…” jawab Bian dengan ketus.
“Ya udah deh gpp, eh ada film horror gak???!!?? ” tanya Yura.
“Gak tau elo cari aja ditempat kaset…” balas Bian.
Yura berjalan kearah kaset dan mencari-cari kaset yang dicarinya. “Wah ada..”seru Yura dengan senangnya.
Yura memang menyukai film-film yang berbau horror tapi dia adalah orang yang penakut, terutama dengan gelap. Karna menurutnya dikegalapan hantu-hantu muncul.
Bian hanya duduk ketika Yura dengan semangatnya. Filmpun sudah dimulai tampak Yura sangat ketakutan, berbeda dengan Bian yang sedari tadi hanya diam tampa merasa takut..
“HHHHHHHAAAAA!!!!!!!” jerit Yura dengan memeluk Bian, ketika hantu muncul tiba-tiba.

“Hhuuaa kaget..” seru Yura dengan tangan masih memeluk Bian. Yura mulai sadar apa yang sedang dilakukannya. “E-eh sorry tadi gak sengaja..” ucap Yura dengan gagap.
Bian hanya menatap Yura dengan wajah dinginnya.
Keheninganpun dimulai, Bian melihat adegan demi adegan film didepannya.
“Eehh…” seru Bian ketika tiba-tiba kepala Yura bersandar dibahunya. “Tidur” gumam Bian dengan melihat wajah Yura.
“Aduuhhh …” gumam Yura dengan memegang perutnya.
Bian kembali dibuat heran dengan tingkah Yura.
“Elo kenapa lagi??” tanya Bian dengan melihat wajah Yura, mata Yura masih menutup, Yura mengggit bibir bawahnya, dia tampak sepeti kesakitan, tangan Yura masih membelit perutnya.
“Elo kenapa sih?” tanya Bian keduakalinya. “Elo sakit perut? Atau elo laper..??” tanya Bian.
“Gue gpp kok, cuma perut gue sakit gara-gara datang bulan…”
Kedua kalinya Bian dibuat heran dengan perempuan didepannya, menurutnya tdak masuk akal bisa sakit perut karna alasan datang bulan.
“Kita kerumah sakit aja..” ucap Bian dengan berdiri dari tempat duduknya.
“Elo gila?? Gak mungkinlah kerumah sakit cuma gara-gara sakit datang bulan..” jelas Yura dengan nada menahan sakit diperutnya. “Gue mau tidur aja, mudah-mudahan sakitnya hilang dengan sendirnya” dengan tangan diperutnya Yura berjalan kekamar tidurnya.
Bian masih diam ditempatnya semula, dia melihat peremuan didepannya seperti benar-benar merasa sakit. Bian berjalan kearah kamar Yura.
Bian membuka kamar tidur Yura. “Elo beneran gpp ??” tanya Bian dengan duduk ditempat tidur Yura.
“Gue gpp..” jawab Yura dengan bersandar diranjangnya.
“Elo mesti minum obat, gue punya obat sakit perut dibawah..” ucap Bian.
“Haha…” Yura tertawa kecil dengan tangan diperutnya. “Gue bukan sakit perut biasa, gue sakit perut datang bulan, jadi kalo mau minum obat juga, mesti buat yang sakit buat datang bulan..” jelas Yura dengan membaringkan tubuhnya.
Bian menatap Yura dengan perasaan khawatir, entah kenapa tiba-tiba Bian merasa kasihan kepada perempuan didepan matanya.
Bian berjalan keluar kamar Yura, dan berlari keluar rumah, Bian menghidupkan mesin mobilnya dan keluar rumah untuk mencari apotek terdekat.
Jam ditanganya sudah menujukan jam Sembilan lebih, Bian mencari-cari tempat obat, beruntung dia menemukan tempat obat yang tidak terlalu jauh. Bian membeli obat yang seperti diucapkan Yura.
“Gue sakit perut datang bulan, jadi kalo mau minum obat, juga mesti obat yang buat datang bulan..”
“Ada yang bisa saya bantu..??” sapa penjaga apotek yang terlihat berumur 35 tahunan.
“Saya beli obat yang buat sakit datang bulan mbak, ada??” tanya Bian.
Penjaga apotek sedikit mengkerutkan alisnya. “Sebentar yah saya cari dulu..” jawab penjaga apotek dengan berjalan kearah obat-obatan. “Mau berapa bungkus??” tanya penjaga apotek.
“Berapa yah..” seru Bian.
“Satu bungkus ada 4 obat..” ujar penjaga apotek kepada Bian.
“Ya sudah 1 aja mbak, dengan membuka dompetnya.
“Wah beruntung sekali yah perempuan yang jadi pacar anda, begitu perhatian walapun masalah sepeti ini..” seru penjaga apotek dengan memberikan obat ditanganya.
Bian hanya tersenyum tipis mendengar ucapan penjaga apotek tersebuat, setelah membayar Bian segera pulang kerumahnya.
Bian berlari kearah kamar Yura dimana dia kesakitan didalamnya.
“Elo minum dulu ini...” ujar Bian dengan membawa segelas air putih ditanganya.
Yura terduduk diranjangnya. “Nih minum juga obatnya..” seru Bian dengan meberikan obat dan air ketangan Yura.
Yura memandang Bian, lelaki yang begitu dingin seperti berubah menjadi sangat perhatian, Yura tersenyum kearah Bian, Bian hanya menatap kearah sisi lain kamar Yura.
“Elo beli obat ini keluar?? Ini kan udah malem..??” seru Yura.
“Yang penting elo gak kesakitan lagi kan??” jawab Bian dengan singkat. “Ya udah nih minum obatnya..”
“Iya..” jawab Yura dengan meminum obat ditangnya.

Malam itu Yura tertidur dengan pulas, tampa merasakan sakit lagi diperutnya, ternyata tampa Yura sadari Bian selalu ada, saat dia membutuhkan sesuatu. Yura mulai merasakan kehangatan yang diberikan lelaki dingin itu.

→ part 13