Kamis, 03 April 2014

Cerita Tidak Harus Sejalan part 3

 “jam 19:37, kosan Yura.
Dengan satu putaran tangan, gagang pintu kamar Yura terbuka “KoK kosong??” ucap  Liana. “Dari pulang sekolah tadi ko gak liat Yura yah?? Apa dia nginep dirumah temen nya??” pikir Liana dalam hati. “Tapi gak mungkin, kalo dia nginep, dia pasti bilang dulu, biasanya juga dia suka bilang kalo mau pergi kemana-mana” lirihnya masih penasaran.
“Kenapa Na??” Tanya Dewi, salah satu penghuni kos disana.
“Yura belum pulang, dari pas pulang sekolah Dew.”

“Hah. Kok bisa?? Mungkin dia maen kali sama teman-teman nya.”
“Kalo dia maen pasti pulang dulu, gak mungkin main dari pulang sekolah sampai jam segini” “Namanya juga abg Na, kita juga pernah ngerasain, iya kan??.”
“Iya sih. Tapi biasanya dia suka ngasih kabar kalo pulang sore atau main” jawab Liana dengan cemas.

“Mungkin dia lupa ngasih kabar kali Na” jawab Dewi dengan memainkan pulpen ditangannya.
Rupanya percakapan Liana dan Dewi mengundang 2 teman kos lainnya untuk melihat keributan apa yang terjadi diruang tv.
“Hey ada apaan sih koK ribut-ribut gini” Tanya Dina dengan berjalan kearah Liana dan Dewi.

“Yura belum pulang, gue takut ada apa-apa sama dia” jawab Liana.
“Udahlah. Yura kan udah gede ini, pasti dia gpp kok” saut Novi dengan santainya. “Kita tunggu aja, bentar lagi dia juga pulang” tambah Novi dengan mata melirik jam dingding, yang menggantung diatas tv.
Dewi berjalan mendekati Liana. “udalah Na, besok kan elo ada jam kuliah pagi, mendingan elo tidur aja, biar gue sama Dina dan Novi yang tunggu Yura pulang diruang tv” seru Dewi.

Liana masih saja hawatir dengan Yura, walapun teman kos yang lainnya sudah memberi tau Liana, untuk tidak terlalu hawatir . Tapi dia tau, Yura tidak mungkin main tampa pulang terlebih dahulu, jika dia mainpun pasti dia memberi kabar terlebih dahulu.
Liana memang sangat dekat dengan Yura, Yura sudah dia anggap sebagai adik dia sendiri, jadi memang sewajarnya dia merasakan hawatir malam itu.
“kok masih belum pulang juga sih??”.
“(no yang anda tuju saat ini sedang tidak aktiv,cobalah beberapa saat lagi…) Sial!! Kenapa no nya gak aktiv sih!!” Gerutu Liana.
 Mata liana terlihat menekan-nekan beberapa no di layar ponselnya. “Hallo…”
Iya hallo, dengan siapa??” jawab seseorang disebrang telepon.

“Ini ka Liana, kakak kosnya Yura” jawab Liana.
Owh ka Liana, iya ada apa ka??”

Gini dari tadi siang pas pulang sekolah Yura belum pulang sampai sekang, apa dia sama kamu de??”
“Hah. Belum pulang!! Tadi emang Yura pas pulang sekolah renang bareng aku ka, tapi jam 4 sore tadi kami sudah pulang” jawab Silvi disebrang telepon.
“Owh jadi begitu, ya sudah kalo ada kabar dari Yura kasih tau kakak yah.” Liana menutup telepon, raut wajahnya yang cantik terlihat dengan jelas kegelisahan yang dilukiskan didalamnya.


✿✿✿
                 Sementra itu disuatu tempat, disebuah rumah.
“Nyebelin banget dehh!!! Pengenn pullaangg..” rengeknya dengan nada meringis. “Nyebelin nyebelin iiisshhh” gerutunya dengan duduk diatas ranjang.
Gagang pintu kamar terbuka. “Gimana??” tanya seorang lelaki yang bertubuh tinggi, yang berdiri dihadapannya.
“Gimana apanya!!!” jawab Yura dengan nada tinggi. “Lepasin gue, gue pengen pulangg…”

“Hey. Kalo elo pengen pulang, Ya pulang aja, gak ada yang larang ini!!” jawab lelaki itu dengan angkuh.
Yura tiba-tiba kaget dengan jawaban lelaki didepannya “Hah?? Elo bukannya lagi nyulik gue yah?? Kok elo nyuruh gue pulang sih??” tanya Yura dengan mimik muka yang penasaran.

Lelaki itu mendongkrakkan wajahnya kearah Yura, sontak Yura kaget dan memundurkan wajahnya “Orang gila mana yang mau nyulik nenek bawel kaya elo??” jawabnya dengan ketus.
“Ya!! Sembarangan aja bilang gue nenek bawel!!”

“Lagian dari tadi ngoceh aja kaya nenek-nenek” jawabnya.
“Tapi gak usah panggil gue nenek bawel juga dong!! Nama gue Yura!!!” tegas Yura dengan nada tinggi.
“Gak ada yang nanya nama elo” jawabnya dengan ketus.
“Sialan nih cowok, nyebelin banget sih” gerutunya dalam hati.
Tokk…tokk.. , sebuah ketukan terdengar dari balik pintu, lelaki itu berjalan membukakan pintu.

“Lama banget pak nyampenya???” tanya lelaki itu.
“Ccihhh…” sinis Yura dengan muka yang sinis memandang kearah lelaki tinggi itu.

“Maaf nak Bian, tadi bapak menerima telepon dari nak Bian, bapak lagi dirumah kerabat, makanya datang terlambat.” jawab lelaki tua itu.
“Oh ternyata namanya Bian, nama yang cukup bagus untuk seorang yang angkuh kaya dia” dengus Yura dalam hati.
“Ya udah kalo gitu langsung aja pak?” jawab Bian kepada lelaki tua itu.
“Apa ini? Apa maksudnya (silahkan langsung aja??) apa jangan-jangan gue dijual sama cowok gila ini ke bandot tua ini!!!” ucap Yura dalam hati yang begitu menggebu-gebu.
Yura bangkit dari tempat duduknya. “Elo gila yah!!!!” amarah Yura meledak seketika.
Bian dan lelaki tua itu melihat kearah Yura dengaan keheranan.
“Elo pikir gue cewek apaan hah!!! Elo pikir gue cewek murahan yang elo jual sama pak tua ini!!!” tanya Yura bertubi-tubi, dengan nada tinggi dan dengan nafas yang tak terkontrol.

“Haha. Jadi elo pikir gue mau jual elo??” tanya Bian dengan tertawa. Bian masih tertawa sebelum melanjutkan kata-katanya “Denger yah, bapak ini tuh tukang pijit..” jelas Bian.
“Jadi…” tanya Yura.
“Masih nanya lagi, jadi bapak ini yang mau benerin kaki elo yang bengkak itu..” tunjuk bian ke kaki Yura yang sudah membengkak.

Yura hanya terdiam mematung ditempat semula ia berdiri.
“Jadi gimana nih nak Bian, jadi gak??” tanya pak tua dengan melihat Yura dan Bian.

“Ya udah pak silahkan” jawab Bian.
Pak tau berjalan kearah Yura dengan membawa tas yang ditentengnya. “Silahkan nak duduk, biar bapak liat kakinya”
Yura terduduk diatas ranjang dan mengangkat kakinya yang sudah sedikit membengkak. Bian hanya berdiri bersandar didekat tembok melihat pak tua mengobati kaki Yura.
“Aww!! Pelan-pelan pak..”rintih Yura dengan seditik menggigit bibir bawahnya.
“Tahan nak, nggak akan sakit kok” jawab pak tua dengan menekan-nekan kaki Yura. “Udah gpp kok, sedikit-gerakin aja yah nak jangan ditahan-tahan, mudah-mudahan besok bisa lebih membaik” ucap pak tua kepada Yura. Lalu pak tua menghapiri Bian dan meminta ijin untuk pamit, Bian mengantarkan pak tua itu kedepan rumah.
Yura masih terdiam mematung ditempat duduknya, ia merasa bersalah telah berburuk sangka kepada Bian yang berniat menolongnya. Tak berapa lama Bian kembali masuk kekamar dengan membawa baju tidur putih yang mirip dengan sebuah kemeja .
“Kayanya elo malam ini nginep dirumah gue dulu aja, lagian udah malem inikan??” mata Bian dengan melirik jam didingding yang sudah menjukan pukul 21:43 malam. “Ini ganti baju elo..” sembari meletakan baju ganti diranjang dekat Yura duduk. “Elo jangan mikir gue mau perkosa elo yah, gara-gara gue nyuruh elo ganti baju” sindir Bian dengan nada dinginnya.
 “Bian” seru Yura dengan menundukan kepalanya.

“Hhmmm.” hanya sebuah gumaman yang menjadi jawaban Bian.
“Makasih yah” jawab Yura.

“Hhmmm.” sebuah gumaman lagi yang Yura terima.
“Maaf juga gue udah buruk sangka sama elo, gue minta maaf.” ucap Yura dengan wajah yang masih menunduk.


“Udah. Sekarang elo istirahat dulu aja, gue duluan.” jawab Bian dengan menunutup pintu kamar dimana Yura masih mematung.
✿✿✿
Mata Yura yang merasa silau dengan cahaya matahari yang menerobos kaca-kaca bening yang terpasang berjajar didepannya. Yura mengucek-ngucek matanya yang masih setengah mengantuk, dia melihat sekeliling kamar. Kamar itu begitu bersih dengan tempat tidur yang berbalut seprei putih, dengan meja riasan disamping kanan nya dan dengan beberapa tanaman hias disisi-sisi pojok kamar. Yura turunkan kakinya dari tempat tidur iya berjalan kearah jendela dan ia tersenyum manis melihat kearah luar sana.
“Pagii yang indah..” ucapnya. Yura teringat sesuatu, Yura berjalan kearah tas sekolahnya, ia mulai mengaduk-ngaduk isi tas nya.
“Duh dimana sih..??” gumamnya. “Nah ini dia..” tangan nya memegang ponsel yang sedari tadi ia cari. “Yah hpnya mati lagi. Pasti ka Liana hawatir banget gue semalam gak pulang..”

“Ya udah gue minjem hp Bian aja buat sms ka Liana..” pikirnya dengnan semangat. Yura membuka pintu kamar, dia berjalan dengan sedikit menahan sakit dikakinya.
“Hah.. ternyata gue ada dilantai atas rumah Bian??” pikirnya dalam hati.

Dengan mengenakan baju tidur yang hanya menutupi paha atasnya terlihat kaki panjangnya menuruni tangga, ia mencari-cari Bian tapi belum ia temukan. “rumahnya gede banget, kalo dikosin mampu nampung berapa kamar yah??” pikir Yura dengan menepuk-nepuk dahinya.
Sekilas Yura mendengar suara piring dari arah pojok, sepertinya dari sebuah dapur “Mungkin itu Bian” Yura coba menebak.
Yura berjalan mendekati dapur, terlihat disana Bian sedang menata piring diatas meja makan. Yura hanya berdiri melihat lelaki tinggi yang  telah menolongnya.
“Elo gak ada niat buat bantu gue yah??” ucap Bian. Bian menegakan badan nya dan melihatnya kearah Yura.
Yura mendekati Bian. “Iya gue bantu nih” jawab Yura dengan ketus, dia tidak ingin kalah dari lelaki didepannya yang begitu angkuh dan ketus.
Bian menarik kursi dihadapannya, dan duduk diatasnya, tanganya mulai mengambil beberapa lembar roti “Elo mau berdiri terus di situ ampe jadi patung??” tanya Bian dengan nada suara yang sama sepeti sebelumnya.
Yura duduk dikursi tak jauh dari kursi Bian “Eh, elo cuma tinggal sendiri dirumah ini??” tanya Yura mengawali percakapan dimeja makan pagi itu.
Bian terus mengunyah roti dimulutnya.
“Hey. Elo denger gue gak sihhh!!” tanya Yura dengan kesalnya.
Bian meneguk segelas susu putih yang berada disampingnya. “Elo gak mau sarapan??” tanya Bian mengalihkan pembicaraan.
“Gue gak mau sarapan sebelum elo jawab pertanyaan gue..” jawab Yura dengan cemberut.
“Ya udah. Kalo elo nanti laper, elo tinggal ambil aja sendiri” jawab Bian dengan meneguk susu di gelas, dan pergi dari meja makan.

“Aaaisss. Dasar Bian jutek nyebelin..”
“Ey ey gue denger yah..” jawab Bian dari luar dapur.
“Eeehhh..” dengan mengigit bibir bawahnya, Yura memperkecil suaranya.
“Dasar jutek, ternyata kupingnya tajem banget…” Yura mengkerutkan dahi, dan menyipitkan matanya, dengan sendok yang dia gigit dimulutnya.
“Hey gue masih denger..” jawab Bian santai.
“Hah!! Masih denger??” Yura mulai melihat-lihat sekeliing dapur. “Pasti ada kamera pengintai disini” pikirnya dengan wajah yang menyelidik.


1 komentar: