"BOY"
Dengan membawa 1 gelas susu, Yura menghampiri
Bian yang sedang sibuk dengan memperhatikan sebuah acara ditelevisi, Yura duduk
didekat Bian, dia menaruh gelas susunya dimeja. Yura mencari cara untuk memulai
percakapan dengan laki-laki super jutek
didekatnya.
“Aahhh.. sakit aahh..” Yura memegang kaki
yang terkilir. “Adu..dduhhh..” rintihnya sedikit meringis. Mata Yura selirik
sedikit kearah Bian yang sedari tadi tidak terganggu dengan rintihannya. Kini
Yura benar-benar merasa bosan dengan lelaki yang berada disampingnya. dia
memayunkan bibir bawahnya dan melipat kedua tangannya didadanya, tingkahnya
benar-benar seperti seorang anak yang sedang menggoda sang ayah supaya
dibelikan permen.
“Bian!!” panggil Yura dengan nada keras,
tidak disengaja tangan Yura mengenai gelas susu yang tadi dia taruh diatas
meja.
“Awas..!!!”
-Pppraanggggg… #suara pecahan gelas.
“AHH..!!!” teriak Yura dengan menutup kedua
matanya. “Hah, Bian??” sentak Yura dengan kanget. “Elo gpp kan??” tanya Yura
cemas. “Tangan elo..”
“Gue gpp kok..” jawab Bian singkat, dengan
berdiri dan berjalan kearah dapur.
Yura berjalan mengikuti Bian, dia berdiri
disamping Bian yang sedang membersihkan darah ditanganya, Bian mengeringkan
tangan nya dengan sebuah handuk kecil, dia berjalan mengambil kotak P3K, Yura
masih mengikutinya dari belakang. Bian membuka kotak P3K dengan tanganya yang
terluka.
“Udah biar gue aja!!” sentak Yura, dan mengambil kotak P3K dari tangan Bian.
“Udah biar gue aja!!” sentak Yura, dan mengambil kotak P3K dari tangan Bian.
Yura duduk dikursi meja makan, tangannya
dengan hati-hati memperban tangan Bian, dan tidak cukup lama untuk menyelesaikan
nya. “Dah. Selesai” serunya dengan senyum diwajahnya. Bian menarik dengan cepat
tangannya dari tangan Yura. Bian pergi kelantai atas.
“Bikin masalah lagi.. dasar bodoh!!” gumam
Yura dengan memukul-mukul kepalanya. “Udahlah sekarang gue harus cari pelan
dulu nih buat bersihin tumpahan susunya” ucap Yura dengan melangkahkan kakinya
mencari sesuatu untuk membersihkan tumpahan susu dilantai.
✿✿✿
Jam 08:34, Sekolah
“Duh.. Ra elo kemana sih??” gerutu
Silvi dengan muka cemas. “Kenapa hp elo gak aktiv sih Ra!!”
“Sil..??”
“Ah .. iya apa Ja??” jawab Silvi.
“Kok gue dari tadi gak liat Yura,
elo tau gak alasan dia gak masuk hari ini???” tanya Radja siketua kelas.
“Gue gak tau Ja. Dia dari kemarin gak ada” jawab Silvi dengan
nada lirih.
“Maksud elo gak ada?? jawab Radja
dengan sedikit penasaran.
“Gue gak tau!! Kemarin sore dia
renang bareng gue, tapi ternyata dia gak pulang kerumah dan gak ada kabar
sampai sekarang”
“Jadi maksud elo?? Yura hilang!!?” jawab Radja dengan kaget.
“Gue juga gak tau Ja” jawab Silvi
dengan muka yang sedih.
Percakapan Radja dan Silvi mengundang
teman-teman lainnya untuk mencari tau apa yang mereka bicarakan.
“Kalian kenapa sih???” tanya Putri dengan
penasaran.
“Yura ilang Put..” jawab Radja
“Hah!! Kok bisa?? Coba elo hubungi Yura lagi,
mungkin aja dia lagi ada di suatu tempat” jawab Putri kaget.
“Udah Put, tapi hp nya gak aktiv” jawab
Silvi.
Seketika suasana kelaspun menjadi sangat
ricuh dengan berita yang mereka tidak duga-duga sebelumnya.
Teettt..teett…. bell sekolah berbunyi.
Tanda sekolah hari ini telah usai. Terlihat
murung diwajah Silvi hari itu, dia berharap dugaan nya salah.
“Sil ..!!!” teriak seseorang dari arah lapang basket sekolah.
“Sil ..!!!” teriak seseorang dari arah lapang basket sekolah.
“Eh elo Do, ada apa??” jawab Silvi singkat.
“Kok dari kemarin hp Yura gak aktiv yah, hari
ini juga gue gak liat dia masuk sekolah, apa dia sakit??” tanya Nando dengan
penasaran.
“Yura.. Yura…” jawab Silvi gelagap.
“Yura?? Yura kenapa Sil??” Jawab Nando
penasaran.
“Dia dari kamarin gak tau kemna, dari pulang renang sama gue dia gak ada kabar, dia juga gak punya kerumah kosannya, dan hari ini dia gak ada masuk sekolah..”
“Dia dari kamarin gak tau kemna, dari pulang renang sama gue dia gak ada kabar, dia juga gak punya kerumah kosannya, dan hari ini dia gak ada masuk sekolah..”
“jadi mksud elo?? Yura hilang??” tanya Nando
sedikit membentak. “Gue harus cari dia…” tanpa pikir panjang Nando pergi meninggalkan
Silvi dan pergi meninggalkan gedung sekolah untuk mencari Yura.
✿✿✿
Rumah Bian
Yura mencari-cari sesosok lelaki yang dia
celakakan pagi tadi, matnya sangat tajam melihat kesegala sudut ruangan rumah
itu.
“Rumah nya gede banget, gimna mau nyarinya coba??
Serunya.
Tiba-tiba mata Yura melihat sebuah ayunan besi
ditaman, sesosok lelaki yang dia cari duduk diayunan besi itu. Tanpa pikir
panjang Yura langsung menghampirinya.
“Bian tangan elo beneran gpp kan??” tanya Yura dengan duduk diayunan.
“Bian tangan elo beneran gpp kan??” tanya Yura dengan duduk diayunan.
“Gpp kok, Cuma goresan kecil ini??” Bian menjawab
dengan mentap perban yang membalut tanganya.
“Maaf yah soal yang tadi dimeja makan, dan maaf
juga soal tangan elo..”
“Udah gpp..” jawabnya dengan singkat. “Elo pengen
tau kan kenapa rumah ini sepi??” tanya Bian degan tiba-tiba.
“Ahh nggak kok, gak usah dijawab” balas Yura.
“Ahh nggak kok, gak usah dijawab” balas Yura.
“Bokap gue sibuk sama pekerjaan nya diluar negri,
sedangkan nyokap nemenin bokap kemanapun bokap pergi, jadi gue disini selalu
sendiri” ucap Bian tiba-tiba.
“Hhmmm.. apa elo gak kesepian tinggal dirumah segede ini sendiri??” tanya Yura
“Hhmmm.. apa elo gak kesepian tinggal dirumah segede ini sendiri??” tanya Yura
“Pastilah sangat kesepian, terkadang gue berpikir,
hidup mewah itu percuma jika gak ada kebahagiaan dan kebersamaan didalamnya..”
Cerita Bian tidak jauh beda dengannya, yang hidup
jauh dengan orang tua, mungkin yang membedakan hanyalah Yura tinggal sendiri
itu adalah keinginannya sendiri. Memang terkadang rasa kesepian itu serasa
seperti ingin membunuh kita. Tapi kita harus percaya bahwa didalam kesepian
itu, ada sebuah cahaya yang mampu membuat kita merasakan kehangatan didalamnya.
Yura dan Bian berjalan menuju halaman
belakang, halamannya sangat luas, berdiri sebuah pohon jambu dan mangga yang
cukup besar dibelakang halaman, serta banyak berbagai bunga yang ditanam
disana.
“Wah bunganya cantik” dengan memetik bunga
berwarna unggu ditanganya.
Bian masih berdiri disampingnya melihat
tingkah laku Yura, lalu Bian kembali berjalan. Yura mengikuti langkah Bian dari
belakang.
“Eehh ituu…” sontak Yura dengan mata melotot.
“Hhuuaaa….” Yura berteriak.
Bian membalikan tubuh dan melihat kerah Yura.
“Kenapa?? Elo mau pingsan lagi gara-gara ini??” sembari menyodorkan sebuah ular
piton yang sangat besar tergantung dilehernya.
Beberapa
jam sebelumnya, trotoar jalan.
“Aduhhhh ..aaww sakitt..” rintih perempuan
didepannya dengan memegang kaki sebelah kirinya.
“Aww kenapa bisa kepeleset sih aahhh” keluhnya.
Bian masih berdiri dibelakang perempuan yang
sedang memegng kakinya. Bian perlahan-lahan mendekati perempuan itu, tapi
tiba-tiba perempuan itu menoleh lalu berteriak.
“HHUUUUUUAAAAAA!!!!!!!!!!!” teriak perempuan itu membuat Bian kaget dibuatnya.
“HHUUUUUUAAAAAA!!!!!!!!!!!” teriak perempuan itu membuat Bian kaget dibuatnya.
Perempuan itu pingsan seketika, Bian bingung
dengan apa yang harus ia lakukan, ia melihat kekiri dan kekanan, tidak ada
seseorang yang bisa membantu menolongnya.
“Nih cewek kenapa sih? Kok tiba-tiba pingsan..” gumamnya kebingunan.
“Nih cewek kenapa sih? Kok tiba-tiba pingsan..” gumamnya kebingunan.
“Hah..” mata Bian mellihat kaki perempuan itu
yang sedikit memerah. “Mungkin ini yang bikin perempuan ini meringis tadi..”
seekor ular masih bergelantung dileher Bian. “Boy elo bikin orang pingsan
nih..” seru Bian dengan melihat kearah ular yang tergantung dilehernya. “Gue
mesti gimana nih? Masa gue tinggalin aja nih cewek disini??” serunya. “Ya udah
deh..” Bian menggendong tubuh perempuan itu kedalam mobil sport nya yang terparkir tidak jauh dari tempat perempuan itu
pingsan.
Mobil Bian melesat kesebuah rumah yang cukup
besar, yang tak lain adalah rumahnya. Bian terlebih dahulu menaruh Boy si ular kesayanganya kedalam
kandangnya. Bian menggendong perempuan itu menaiki tangga-tangga rumahnya, Bian
meletakan perempuan itu dikamar atas dan menidurkan perempuan itu disana.
“Lumayan berat juga nih cewek” dengan
meregangkan tangannya keatas.
Bian lalu menelpon seseorang dari ponselnya.
“Hallo pak..”
“Iya hallo.. ada apa nak Bian..?? jawab
seseorang dari seberang telepon.
“Bapak bisa kerumah saya sekarang?? Kaki teman
saya sepertinya terkilir..” jawab Bian dengan jelas.
“Baik nak, bapak kesana sekarang..” jawab lelaki tua di telpon.
Bian mematikan teleponnya dan memasukannya
kesaku celananya. “Mungkin gak akan lama laggi dia sadar” seru Bian.
(。◕‿◕。)
BalasHapus