Jumat, 04 April 2014

Cerita Tidak Harus Sejalan part 4

"BOY"

Dengan membawa 1 gelas susu, Yura menghampiri Bian yang sedang sibuk dengan memperhatikan sebuah acara ditelevisi, Yura duduk didekat Bian, dia menaruh gelas susunya dimeja. Yura mencari cara untuk memulai percakapan dengan laki-laki  super jutek didekatnya.
“Aahhh.. sakit aahh..” Yura memegang kaki yang terkilir. “Adu..dduhhh..” rintihnya sedikit meringis. Mata Yura selirik sedikit kearah Bian yang sedari tadi tidak terganggu dengan rintihannya. Kini Yura benar-benar merasa bosan dengan lelaki yang berada disampingnya. dia memayunkan bibir bawahnya dan melipat kedua tangannya didadanya, tingkahnya benar-benar seperti seorang anak yang sedang menggoda sang ayah supaya dibelikan permen.
“Bian!!” panggil Yura dengan nada keras, tidak disengaja tangan Yura mengenai gelas susu yang tadi dia taruh diatas meja.
“Awas..!!!”
-Pppraanggggg… #suara pecahan gelas.
“AHH..!!!” teriak Yura dengan menutup kedua matanya. “Hah, Bian??” sentak Yura dengan kanget. “Elo gpp kan??” tanya Yura cemas. “Tangan elo..”
“Gue gpp kok..” jawab Bian singkat, dengan berdiri dan berjalan kearah dapur.
Yura berjalan mengikuti Bian, dia berdiri disamping Bian yang sedang membersihkan darah ditanganya, Bian mengeringkan tangan nya dengan sebuah handuk kecil, dia berjalan mengambil kotak P3K, Yura masih mengikutinya dari belakang. Bian membuka kotak P3K dengan tanganya yang terluka.
“Udah biar gue aja!!” sentak Yura, dan mengambil kotak P3K dari tangan Bian.
Yura duduk dikursi meja makan, tangannya dengan hati-hati memperban tangan Bian, dan tidak cukup lama untuk menyelesaikan nya. “Dah. Selesai” serunya dengan senyum diwajahnya. Bian menarik dengan cepat tangannya dari tangan Yura. Bian pergi kelantai atas.
“Bikin masalah lagi.. dasar bodoh!!” gumam Yura dengan memukul-mukul kepalanya. “Udahlah sekarang gue harus cari pelan dulu nih buat bersihin tumpahan susunya” ucap Yura dengan melangkahkan kakinya mencari sesuatu untuk membersihkan tumpahan susu dilantai.

✿✿✿
              Jam 08:34, Sekolah
“Duh.. Ra elo kemana sih??” gerutu Silvi dengan muka cemas. “Kenapa hp elo gak aktiv sih Ra!!”
“Sil..??”
“Ah .. iya apa Ja??” jawab Silvi.
“Kok gue dari tadi gak liat Yura, elo tau gak alasan dia gak masuk hari ini???” tanya Radja siketua kelas.
“Gue gak tau Ja.  Dia dari kemarin gak ada” jawab Silvi dengan nada lirih.
“Maksud elo gak ada?? jawab Radja dengan sedikit penasaran.
“Gue gak tau!! Kemarin sore dia renang bareng gue, tapi ternyata dia gak pulang kerumah dan gak ada kabar sampai sekarang”
“Jadi maksud elo??  Yura hilang!!?” jawab Radja dengan kaget.
“Gue juga gak tau Ja” jawab Silvi dengan muka yang sedih.
Percakapan Radja dan Silvi mengundang teman-teman lainnya untuk mencari tau apa yang mereka bicarakan.
“Kalian kenapa sih???” tanya Putri dengan penasaran.
“Yura ilang Put..” jawab Radja
“Hah!! Kok bisa?? Coba elo hubungi Yura lagi, mungkin aja dia lagi ada di suatu tempat” jawab Putri kaget.
“Udah Put, tapi hp nya gak aktiv” jawab Silvi.
Seketika suasana kelaspun menjadi sangat ricuh dengan berita yang mereka tidak duga-duga sebelumnya.
Teettt..teett…. bell sekolah berbunyi.
Tanda sekolah hari ini telah usai. Terlihat murung diwajah Silvi hari itu, dia berharap dugaan nya salah.
“Sil ..!!!” teriak seseorang dari arah lapang basket sekolah.
“Eh elo Do, ada apa??” jawab Silvi singkat.
“Kok dari kemarin hp Yura gak aktiv yah, hari ini juga gue gak liat dia masuk sekolah, apa dia sakit??” tanya Nando dengan penasaran.
“Yura.. Yura…” jawab Silvi gelagap.
“Yura?? Yura kenapa Sil??” Jawab Nando penasaran.
“Dia dari kamarin gak tau kemna, dari pulang renang sama gue dia gak ada kabar, dia juga gak punya kerumah kosannya, dan hari ini dia gak ada masuk sekolah..”
“jadi mksud elo?? Yura hilang??” tanya Nando sedikit membentak. “Gue harus cari dia…” tanpa pikir panjang Nando pergi meninggalkan Silvi dan pergi meninggalkan gedung sekolah untuk mencari Yura.

✿✿✿
Rumah Bian
Yura mencari-cari sesosok lelaki yang dia celakakan pagi tadi, matnya sangat tajam melihat kesegala sudut ruangan rumah itu.
“Rumah nya gede banget, gimna mau nyarinya coba?? Serunya.
Tiba-tiba mata Yura melihat sebuah ayunan besi ditaman, sesosok lelaki yang dia cari duduk diayunan besi itu. Tanpa pikir panjang Yura langsung menghampirinya.
“Bian tangan elo beneran gpp kan??” tanya Yura dengan duduk diayunan.
“Gpp kok, Cuma goresan kecil ini??” Bian menjawab dengan mentap perban yang membalut tanganya.
“Maaf yah soal yang tadi dimeja makan, dan maaf juga soal tangan elo..”
“Udah gpp..” jawabnya dengan singkat. “Elo pengen tau kan kenapa rumah ini sepi??” tanya Bian degan tiba-tiba.
“Ahh nggak kok, gak usah dijawab” balas Yura.
“Bokap gue sibuk sama pekerjaan nya diluar negri, sedangkan nyokap nemenin bokap kemanapun bokap pergi, jadi gue disini selalu sendiri” ucap Bian tiba-tiba.
“Hhmmm.. apa elo gak kesepian tinggal dirumah segede ini sendiri??” tanya Yura
“Pastilah sangat kesepian, terkadang gue berpikir, hidup mewah itu percuma jika gak ada kebahagiaan dan kebersamaan didalamnya..”
Cerita Bian tidak jauh beda dengannya, yang hidup jauh dengan orang tua, mungkin yang membedakan hanyalah Yura tinggal sendiri itu adalah keinginannya sendiri. Memang terkadang rasa kesepian itu serasa seperti ingin membunuh kita. Tapi kita harus percaya bahwa didalam kesepian itu, ada sebuah cahaya yang mampu membuat kita merasakan kehangatan didalamnya.
Yura dan Bian berjalan menuju halaman belakang, halamannya sangat luas, berdiri sebuah pohon jambu dan mangga yang cukup besar dibelakang halaman, serta banyak berbagai bunga yang ditanam disana.
“Wah bunganya cantik” dengan memetik bunga berwarna unggu ditanganya.
Bian masih berdiri disampingnya melihat tingkah laku Yura, lalu Bian kembali berjalan. Yura mengikuti langkah Bian dari belakang.
“Eehh ituu…” sontak Yura dengan mata melotot. “Hhuuaaa….” Yura berteriak.
Bian membalikan tubuh dan melihat kerah Yura. “Kenapa?? Elo mau pingsan lagi gara-gara ini??” sembari menyodorkan sebuah ular piton yang sangat besar tergantung dilehernya.

Beberapa jam sebelumnya, trotoar jalan.

“Aduhhhh ..aaww sakitt..” rintih perempuan didepannya dengan memegang kaki sebelah kirinya.
“Aww kenapa bisa kepeleset sih aahhh” keluhnya.
Bian masih berdiri dibelakang perempuan yang sedang memegng kakinya. Bian perlahan-lahan mendekati perempuan itu, tapi tiba-tiba perempuan itu menoleh lalu berteriak.
“HHUUUUUUAAAAAA!!!!!!!!!!!” teriak perempuan itu membuat Bian kaget dibuatnya.
Perempuan itu pingsan seketika, Bian bingung dengan apa yang harus ia lakukan, ia melihat kekiri dan kekanan, tidak ada seseorang yang bisa membantu menolongnya.
“Nih cewek kenapa sih? Kok tiba-tiba pingsan..” gumamnya kebingunan.
“Hah..” mata Bian mellihat kaki perempuan itu yang sedikit memerah. “Mungkin ini yang bikin perempuan ini meringis tadi..” seekor ular masih bergelantung dileher Bian. “Boy elo bikin orang pingsan nih..” seru Bian dengan melihat kearah ular yang tergantung dilehernya. “Gue mesti gimana nih? Masa gue tinggalin aja nih cewek disini??” serunya. “Ya udah deh..” Bian menggendong tubuh perempuan itu kedalam mobil sport nya yang terparkir tidak jauh dari tempat perempuan itu pingsan.
Mobil Bian melesat kesebuah rumah yang cukup besar, yang tak lain adalah rumahnya. Bian terlebih dahulu menaruh Boy si ular kesayanganya kedalam kandangnya. Bian menggendong perempuan itu menaiki tangga-tangga rumahnya, Bian meletakan perempuan itu dikamar atas dan menidurkan perempuan itu disana.
“Lumayan berat juga nih cewek” dengan meregangkan tangannya keatas.
Bian lalu menelpon seseorang dari ponselnya. “Hallo pak..”
“Iya hallo.. ada apa nak Bian..??  jawab seseorang dari seberang telepon.
“Bapak bisa kerumah saya sekarang?? Kaki teman saya sepertinya terkilir..” jawab Bian dengan jelas.
“Baik nak, bapak kesana sekarang..” jawab lelaki tua di telpon.
Bian mematikan teleponnya dan memasukannya kesaku celananya. “Mungkin gak akan lama laggi dia sadar” seru Bian.








1 komentar: