Rabu, 02 Juli 2014

Cerita Tidak Harus Sejalan Part 15

✿✿✿
 “Tadi katanya dibawah, kok gak ada yah..??” gumam Yura dengan mencari-cari Silvi” Yura berjalan kearah café jus, dan duduk disana.
“Ah. SiPutri bohong kali yah?? Gak ada juga..” gerutunya.
“Misi de mau pesan apa??” tanya salah seorang pelayan café.
“Saya pesen jus alpuket aja deh mas..” jawab Yura dengan melihat kearah jalan.
“Oke ditunggu yah dek..” jawab pelayan itu dengan pergi kearah belakang.
“Mana sih kok gak ada??” gumam Yura. “Hah. Itu dia..” seru Yura dengan berdiri dari tempat duduknya, dan berlari kearah lluar café. “SILVI!!” teriak Yura dengan keras, tampa peduli orang disekitarnya.
“Pelan-pelan dong mbak..” seru salah seorang lelaki yang berdiri didekat pintu keluar café.
“Eh. Maaf mas..” jawab Yura dengan senyum palsu.
Silvi membalikan badanya dan berlari kearah Yura. “Hey. Lagi apa elo disini Ra???” tanya Silvi.
“Gue lagi bête nih, makanya diem disini..” jawab Yura dengan berjalan kearah dalam café, disusul dengan Silvi.
“Owh iya bentar yah gue pesen dulu..” seru Silvi dengan berjalan kearah belakang.
“Oke..”
Yura dan Silvi terlihat mengobrol dari arah jendela café, tidak lama jus pesanan mereka telah diantarkan oleh pelayan dan siap mengisi tenggorokan yang kering.
Silvi meminum jus yang dipesannya. “Oh. Iya tadi kata Putri elo tadi sama cowok yah??” tanya Yura.
“Uhuk.. uhuk…” Silvi tersedak dengan jus yang diminumnya.
“Elo kenapa?? Elo gpp kan??” Tanya Yura dengan memberikan tissu kepada Silvi.
“Tadi emang Putri liat gue sama siapa??” tanya Silvi dengan membersihkan jus dimulutnya.
“Gak tau. Katanya gak keliatan?? Hayoo.. siapa loh.. Haha.. pasti pacar elo kan??” tanya Yura dengan nada menggoda.
“Haha. Elo gila yah?? Haha..” Silvi menjawab pertanyaan Yura dengan tertawa.
 Yura hanya bengong dibuatnya. “ Elo kenapa???” tanya Yura dengan keheranan.
“Itu kan si Nando. Tadi gue minta anter dia buat ke toko buku. Tapi buku yang gue cari gak ada.” Jelas Silvi. “ Kalo gue tau elo bakal kesini, gak gue suruh pulang dulu tuh si Nando hehe” tambah Silvi dengan nada menggoda.
“Dih dasar elo. Gue kira siapa ternyata Nando. Emang elo mau cari buku apa Sil” tanya Yura.
“Buku tentang sejarah gitulah..”
“Oh gitu” seru Yura.
“Eh. Gimana si Nando udah nembak elo??” tanya Silvi dengan semangat.
“Nembak apaan??” jawab Yura dengan muka keheranan.
“Yah kan katanya si Nando mau nembak elo?? Masa tuh anak belum ngomong-ngomong sih. Payah” gerutu Silvi.
“Dih dasar elo. Emang kenapa sih elo pengen banget gue pacaran sama dia??”
“Yah gue pengen elo pacaran sama dia gara-gara dia tuh baik sama elo, dia juga ngerti elo kan?? Gak kaya si Rio sialan itu..” gerutu Silvi. “ Owh iya si Bian itu gimana??” tanya Silvi dengan lebih mendekatkan mukanya kearah Yura.
“Duh apaan sih jangan deket-deket ah gatel gue haha..” jawab Yura.
“Ish. Ayo gimana??” tanya Silvi kembali.
“Gimana apanya sih?? Dia cuma kebetulan aja nolong gue, sekarang gak tau kemana tuh anak.” Balas Yura dengan muka kesel.
“Tapi kalo diliat-liat kece juga tuh si Bian yah hehe..” seru Silvi dengan muka centilnya.
“Kalo elo tau sifatnya, gak akan tahan deh elo” balas Yura.
“Ey. Sirik aja elo yah haha” ujar Silvi dengan tertawa.
Suasa café yang cukup ramai tidak membuat 2 sahabat itu mesara terganggu, mereka bercerita cukup banyak, hingga tidak terasa mereka bercerita cukup banyak, sampai jam menunjukan pukul 20:07 malam.


                                       ✿✿✿
Yura berjalan digelapnya malam sendiri menyusuri trotoar yang menuju arah rumahnya, terlihat banyak pasangan yang sedang makan dipinggir jalan atau yang hanya sekedar berbincang-bincang.
“Kalo malem ramenya sama yang mojok-mojok gitu. Ish dasar..” gerutu Yura dengan memutar-mutarkan tas kecilnya.
Terlihat seseorang sedang terduduk didekat pintu pagar rumah kosan Yura, Yura memperhatikan sebentar, ternyata seoarang lelaki yang seperti menunggu seseorang.
Yura berjalan kearah lelaki yang terduduk itu.“Permisi? Cari siapa??” Sapa Yura dengan sopan.
Lelak itu mulai melihatkan wajahnya kearah Yura. Lelaki itu berdiri berhadapan dengan Yura.
“Elo. Ngapain duduk disini??” tanya Yura.
“Gue Cuma mau balikin ini” jawab lelaki itu yang tak lain adalah Bian, dengan memberikan baju kepada Yura.
Yura mengambil baju itu dari tangan Bian. “Makasih” ujar Yura. “Elo malem-malem gini cuma mau balikin ini doang??” tanya Yura dengan mengkerutkan alisnya.
Bian hanya diam dan kembali kedalam mobilnya.
“Elo tuh aneh yah..” seru Yura dengan sedikit nada tinggi.
Bian melirik Yura dari arah dalam mobil. “Apa elo !!!” sentak Yura dengan mata melotot.
Bian hanya memutar bola matanya dan kini ia siap-siap melajukan mobilnya. Bian melesat sangat cepat dari arah pandangan Yura. “Dih ngeselin..” cetus Yura dengan melihat mobil Bian hilang dari pandangannya.
✿✿✿
 “Hallo…” jawab Yura dengan nada mengantuk.
“Hallo Ra..” suara Silvi disebrang sana.
“Iya hallo. Ada apa sih pagi-pagi gini udah nelpon”
“Eh kita jalan yu ke sungai yang ada air terjunnya, yang deket pegunungan itu” seru Silvi.
“Yang mana?? Gue lupa”
“Yang waktu kita liburan tahun kemarin, masa lupa..”
“Iya deh oke ayo kita kesana..” jawab Yura dengan bangun dari tidurnya.
Oke, gue tunggu 1 jam dari sekarang yah..” balas Silvi dengan mematikan teleponnya.
“Ahh. Pagi-pagi banget sih..” gerutu Yura dengan mengacak-ngacak rambutnya.
Jam ditangan Yura menunjukan jam 09:21, Yura berdiri dengan celana panjanganya, jaket hitamnya dan tas kecil yang menggelantung dibalik punggungnya.
“OJEK!!!!!” teriak Yura dengan keras.
“OKE NENG OKE..!!!!” balas Tukang ojek yang mendorong motornya dari pangkalan ojek kearah Yura.
“Mau kemana nih neng??” jawab tukang ojek dengan nyengir.

“Nanti saya tunjukin deh mang jalannya..” balas Yura dengan naik keatas motor.
Tidak butuh waktu lama Yura untuk sampai ditempat tujuannya.
“Nih mang, makasih yah..” seru Yura dengan memberikan uang lima ribu.
Tukang ojek menerima uang yang diberikan Yura. “Kurang neng..” seru tukang ojek kepada Yura.
“Kurang apaan?? Biasanya juga pan segitu” balas Yura.
“Sekarang tuh BBM naik neng, harga cabe dipasar juga naek juga neng, udah gitu harga susu diwarung juga naik, dan lagi tagihan listrik juga naik, mana cukup segini” ujar tukang ojek dengan menggerak-gerakan jarinya dan berhitung.
Wajah Yura terlihat sangat bosan mendengarkan curhatan tukang ojek didepannya. Yura langsung terenyum kearah tukang ojek dan berjalan kearah tukang ojek. “Tau gak mang, aku tuh yah gara-gara BBM naik, gara-gara cabe naik, dan gara-gara listrik naik ampe uang kosan suka kurang mang, udah gitu gara-gara itu juga uang jajan dikurangain sama emak dikampung mang huuaaa…” balas Yura dengan panjang lebar, dan dengan wajah yang menujukan kesedihan didalamnya.
“Ya ampun neng kasihan bener kamu...” ucap lirih tukang ojek. “ Ya udah dah gpp goceng juga neng hhe.. makasih yah neng.. emang pergi dulu..” ucap mang ojek dengan pergi dengan motor bebeknya.
“Hihi. Dasar tuh si emang, emang gue gak tau apa harga ojek kesini, sok mau ngibulin lagi.. weak..” seru Yura dengan menjulurkan lidahnya. Yura berjalan kearah rumah.
→part 16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar