✿✿✿
“Tadi
katanya dibawah, kok gak ada yah..??” gumam Yura dengan mencari-cari Silvi”
Yura berjalan kearah café jus, dan duduk disana.
“Ah. SiPutri bohong kali yah?? Gak ada
juga..” gerutunya.
“Misi de mau pesan apa??” tanya salah seorang
pelayan café.
“Saya pesen jus alpuket aja deh mas..” jawab
Yura dengan melihat kearah jalan.
“Oke ditunggu yah dek..” jawab pelayan itu
dengan pergi kearah belakang.
“Mana sih kok gak ada??” gumam Yura. “Hah.
Itu dia..” seru Yura dengan berdiri dari tempat duduknya, dan berlari kearah
lluar café. “SILVI!!” teriak Yura dengan keras, tampa peduli orang
disekitarnya.
“Pelan-pelan dong mbak..” seru salah seorang
lelaki yang berdiri didekat pintu keluar café.
“Eh. Maaf mas..” jawab Yura dengan senyum
palsu.
Silvi membalikan badanya dan berlari kearah
Yura. “Hey. Lagi apa elo disini Ra???” tanya Silvi.
“Gue lagi bête nih, makanya diem disini..”
jawab Yura dengan berjalan kearah dalam café, disusul dengan Silvi.
“Owh iya bentar yah gue pesen dulu..” seru
Silvi dengan berjalan kearah belakang.
“Oke..”
Yura dan Silvi terlihat mengobrol dari arah
jendela café, tidak lama jus pesanan mereka telah diantarkan oleh pelayan dan
siap mengisi tenggorokan yang kering.
Silvi meminum jus yang dipesannya. “Oh. Iya
tadi kata Putri elo tadi sama cowok yah??” tanya Yura.
“Uhuk.. uhuk…” Silvi tersedak dengan jus yang
diminumnya.
“Elo kenapa?? Elo gpp kan??” Tanya Yura
dengan memberikan tissu kepada Silvi.
“Tadi emang Putri liat gue sama siapa??”
tanya Silvi dengan membersihkan jus dimulutnya.
“Gak tau. Katanya gak keliatan?? Hayoo..
siapa loh.. Haha.. pasti pacar elo kan??” tanya Yura dengan nada menggoda.
“Haha. Elo gila yah?? Haha..” Silvi menjawab
pertanyaan Yura dengan tertawa.
Yura
hanya bengong dibuatnya. “ Elo kenapa???” tanya Yura dengan keheranan.
“Itu kan si Nando. Tadi gue minta anter dia
buat ke toko buku. Tapi buku yang gue cari gak ada.” Jelas Silvi. “ Kalo gue
tau elo bakal kesini, gak gue suruh pulang dulu tuh si Nando hehe” tambah Silvi
dengan nada menggoda.
“Dih dasar elo. Gue kira siapa ternyata
Nando. Emang elo mau cari buku apa Sil” tanya Yura.
“Buku tentang sejarah gitulah..”
“Oh gitu” seru Yura.
“Eh. Gimana si Nando udah nembak elo??” tanya
Silvi dengan semangat.
“Nembak apaan??” jawab Yura dengan muka
keheranan.
“Yah kan katanya si Nando mau nembak elo?? Masa
tuh anak belum ngomong-ngomong sih. Payah” gerutu Silvi.
“Dih dasar elo. Emang kenapa sih elo pengen
banget gue pacaran sama dia??”
“Yah gue pengen elo pacaran sama dia
gara-gara dia tuh baik sama elo, dia juga ngerti elo kan?? Gak kaya si Rio
sialan itu..” gerutu Silvi. “ Owh iya si Bian itu gimana??” tanya Silvi dengan
lebih mendekatkan mukanya kearah Yura.
“Duh apaan sih jangan deket-deket ah gatel
gue haha..” jawab Yura.
“Ish. Ayo gimana??” tanya Silvi kembali.
“Gimana apanya sih?? Dia cuma kebetulan aja
nolong gue, sekarang gak tau kemana tuh anak.” Balas Yura dengan muka kesel.
“Tapi kalo diliat-liat kece juga tuh si Bian
yah hehe..” seru Silvi dengan muka centilnya.
“Kalo elo tau sifatnya, gak akan tahan deh
elo” balas Yura.
“Ey. Sirik aja elo yah haha” ujar Silvi
dengan tertawa.
Suasa café yang cukup ramai tidak membuat 2
sahabat itu mesara terganggu, mereka bercerita cukup banyak, hingga tidak
terasa mereka bercerita cukup banyak, sampai jam menunjukan pukul 20:07 malam.
✿✿✿
Yura berjalan digelapnya malam sendiri
menyusuri trotoar yang menuju arah rumahnya, terlihat banyak pasangan yang
sedang makan dipinggir jalan atau yang hanya sekedar berbincang-bincang.
“Kalo malem ramenya sama yang mojok-mojok
gitu. Ish dasar..” gerutu Yura dengan memutar-mutarkan tas kecilnya.
Terlihat seseorang sedang terduduk didekat
pintu pagar rumah kosan Yura, Yura memperhatikan sebentar, ternyata seoarang
lelaki yang seperti menunggu seseorang.
Yura berjalan kearah lelaki yang terduduk
itu.“Permisi? Cari siapa??” Sapa Yura dengan sopan.
Lelak itu mulai melihatkan wajahnya kearah
Yura. Lelaki itu berdiri berhadapan dengan Yura.
“Elo. Ngapain duduk disini??” tanya Yura.
“Gue Cuma mau balikin ini” jawab lelaki itu
yang tak lain adalah Bian, dengan memberikan baju kepada Yura.
Yura mengambil baju itu dari tangan Bian.
“Makasih” ujar Yura. “Elo malem-malem gini cuma mau balikin ini doang??” tanya
Yura dengan mengkerutkan alisnya.
Bian hanya diam dan kembali kedalam mobilnya.
“Elo tuh aneh yah..” seru Yura dengan sedikit
nada tinggi.
Bian melirik Yura dari arah dalam mobil. “Apa
elo !!!” sentak Yura dengan mata melotot.
Bian hanya memutar bola matanya dan kini ia
siap-siap melajukan mobilnya. Bian melesat sangat cepat dari arah pandangan
Yura. “Dih ngeselin..” cetus Yura dengan melihat mobil Bian hilang dari
pandangannya.
✿✿✿
“Hallo…” jawab Yura dengan nada mengantuk.
“Hallo Ra..” suara Silvi disebrang sana.
“Iya hallo. Ada apa sih pagi-pagi gini udah
nelpon”
“Eh kita jalan yu ke sungai yang ada air
terjunnya, yang deket pegunungan itu” seru Silvi.
“Yang mana?? Gue lupa”
“Yang waktu kita liburan tahun kemarin, masa
lupa..”
“Iya deh oke ayo kita kesana..” jawab Yura
dengan bangun dari tidurnya.
“Oke,
gue tunggu 1 jam dari sekarang yah..” balas Silvi dengan mematikan
teleponnya.
“Ahh. Pagi-pagi banget sih..” gerutu Yura
dengan mengacak-ngacak rambutnya.
Jam ditangan Yura menunjukan jam 09:21, Yura
berdiri dengan celana panjanganya, jaket hitamnya dan tas kecil yang
menggelantung dibalik punggungnya.
“OJEK!!!!!” teriak Yura dengan keras.
“OKE NENG OKE..!!!!” balas Tukang ojek yang
mendorong motornya dari pangkalan ojek kearah Yura.
“Mau kemana nih neng??” jawab tukang ojek dengan nyengir.
“Nanti saya tunjukin deh mang jalannya..”
balas Yura dengan naik keatas motor.
Tidak butuh waktu lama Yura untuk sampai
ditempat tujuannya.
“Nih mang, makasih yah..” seru Yura dengan
memberikan uang lima ribu.
Tukang ojek menerima uang yang diberikan
Yura. “Kurang neng..” seru tukang ojek kepada Yura.
“Kurang apaan?? Biasanya juga pan segitu”
balas Yura.
“Sekarang tuh BBM naik neng, harga cabe
dipasar juga naek juga neng, udah gitu harga susu diwarung juga naik, dan lagi
tagihan listrik juga naik, mana cukup segini” ujar tukang ojek dengan menggerak-gerakan
jarinya dan berhitung.
Wajah Yura terlihat sangat bosan mendengarkan
curhatan tukang ojek didepannya. Yura langsung terenyum kearah tukang ojek dan
berjalan kearah tukang ojek. “Tau gak mang, aku tuh yah gara-gara BBM naik,
gara-gara cabe naik, dan gara-gara listrik naik ampe uang kosan suka kurang
mang, udah gitu gara-gara itu juga uang jajan dikurangain sama emak dikampung
mang huuaaa…” balas Yura dengan panjang lebar, dan dengan wajah yang menujukan
kesedihan didalamnya.
“Ya ampun neng kasihan bener kamu...” ucap
lirih tukang ojek. “ Ya udah dah gpp goceng juga neng hhe.. makasih yah neng..
emang pergi dulu..” ucap mang ojek dengan pergi dengan motor bebeknya.
“Hihi. Dasar tuh si emang, emang gue gak tau
apa harga ojek kesini, sok mau ngibulin lagi.. weak..” seru Yura dengan
menjulurkan lidahnya. Yura berjalan kearah rumah.
→part 16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar