✿✿✿
“Hay” seru Yura.
“Hay juga...” balas Silvi.
“Hay Ra, lama banget sih datengnya???” seru Nando.
“Hehe sorry ..” jawab Yura dengan nyengir.
“Ya !!! kenapa ada dia disini?” ujar Nando dengan terkejut.
“Wah ada Bian..” seru Silvi dan berlari kearah Bian.
“Hehe sorry yah gue tadi ngajak dia..” seru Yura.
“Gpp kok gpp..” seru Silvi dengan memeluk tangan Bian.
Bian hanya berdiri diam menyikapi tingakal Silvi yang aneh.
“Tapi kok elo bisa sama Bian?? Tadi Bian kerumah elo..??” tanya Silvi.
“Nggak sih…” seru Yura
Sebelum berangkat.
“Gue ajak si Bian aja kali yah?? Kasiahan dia selalu diem sendiri..” Ujar Yura.
Yura berlari kearah luar rumah dan memanggil tukang ojek untuk mengantarnya ketempat Bian. Tidak perlu banyak waktu untuk sampai kerumah Bian. Yura memasuki rumah Bian, rumah yang begitu besar, pintu depan tidak dikunci memudahkan Yura untuk masuk kedalamnya.
“Bian kemana yah??” seru Yura. Yura mencari-cari Bian, Yura sampai dilantai dua dimana kamar Bian berada.
“Mungkin masih tidur…” seru Yura dengan lancang masuk kekamar Bian. “Loh kok gak ada..” seru Yura, dengan meilhat sekeliling kamar.
“Mau ngapain elo??” suara Bian dari arah belakang.
Yura berbalik kearah belakang.“HaH!” Yura melebarkan matanya.
“Kenapa elo??” tanya Bian.
“N-ngga. Gue gpp ko” jawab Yura dengan membalikan badannya kembali,
“Oh.” Bian berjalan kearah Yura dengan telanjang dada dan sebuah handuk yang melingakr dipinggangnya.
“Elo habis mandi..??” tanya Yura yang masih memalingkan wajahnya dari Bian.
“Iya.” Jawabnya singkat. “Elo mau tetep diem disitu?? Gue mau pake baju…” seru Bian.
“E-eh nggak lah. Gue keluar..”
Yura menunggu didepan kamar Bian dangan sebuah permen karet dimulutnya.
“Elo masih disini??” tanya Bian dengan menutup pintu kamarnya.
“Iya lah. Kan gue belum ngomong sama elo..”
“Mau ngomong apaan emangnya???” tanya Bian dengan melilitkan jam tangan hitam ditanganya.
“Elo ikut gue yah..” seru Yura dengan memegang tangan Bian
“Kemana??” tanya Bian.
“Kesungai yang ada ada air terjunnya yang dideket gunung, disana pemandangannya bagus udah gitu sejuk banyak hewan-hewan kecil juga disana banyak banget pepohonan yang….” Yura terus saja bercerita dengan semangatnya. Bian hanya diam tampa memperhatikan Yura.
“Males” jawab Bian singkat dan berjalan kearah tangga, kelantai bawah.
“Eh. Gue udah cape-cape cerita masa elo gak mau ikut sih !!” gerutu Yura dengan menghampiri Bian.
“Lagian mau ngapain, males gue..”
“Yah ikut yah plisss. Ikut yaahh.. “ rengek Yura dengan memelas.
✿✿✿
“Makanya gue bisa sama dia disini sekarang hehe…” seru Yura.
“Gpp sih kata elo, kenapa mesti ngajak ini orang sawah coba..” gerutu Nando dengan memayunkan bibirnya.
“Elo kenapa sih Do??” seru Silvi.
“Au ah gelap…” jawab Nando dengan pergi duluan kearah sungai.
“Ish dasar aneh tuh anak..” seru Silvi.
Tidak lama kemudian Nando keluar dari arah jalan setapak dengan muka yang masih cembeerut.
“Kenapa balik lagi??” tanya Yura dengan kebingungan.
“Gue gak tau jalanannya..” jawab Nando dengan muka polos.
“Euhh dasar!! Makanya jangan sok tau..!!” celoteh Silvi dengan berjalan kearah sungai.
“Dih dasar nenek rombeng” gerutu Nando. Nando melihat kearah Yura yang sedang berdiri didekat Bian.
“Eh. Eehh awas Ra.. “ seru Nando tiba-tiba, dengan menarik tangan Yura kearahnya.
“Kenapa sih Do??” Yura kebingungan dengan tingkah Nando.
“Maksudnya awas hati-hati kalo deket sama gue, tar elo pingsan lagi deket orang keren kaya gue hehe..” jawab Nando dengan tertawa.
Matanya melihat kearah Bian dan memegang tangan Yura. “Elo hati-hati yah Ra, bebatuannya licin..” seru Nando dengan melirik kearah Bian, bermaksud membuatnya cemburu.
Bian hanya melihat mereka dari arah belakang, dan hanya mengikuti mereka tampa berkata satu patahpun.
20 menit perjalan untuk menuju air terjun, mereka sekarang sudah sampai diair terjun. Terlihat Nando yang sangat kelelahan bersantai diatas bebatuan dan merasakan percikan air yang jatuh menimpanya.
“Ra, sini..” teriak Nando dari arah bebatuan. Yura hanya melambaikan tangan dan tersenyum kearahnya. Yura berjalan kearah Bian dan duduk disebelahnya, terlihat Nando yang sangat cemburu saat Yura mendekati Bian.
“Elo gak ikut kesana??” tanya Bian.
“Nggak ah, gue disini aja..” balas Yura dengan tangannya yang memainkan air.
“Dia cowok elo??” tanya Bian dengan melirik Nando.
“Bukan, dia sahabat gue, pacar gue namanya Rio” jawab Yura dengan tangan masih memainkan air.
“Sekarang dimana pacar elo? Gue gak pernah liat dia” Bian kembali bertanya.
Pertanyaan Bian membuat Yura menghentikan tangannya untuk bermain air. “Dia lagi sibuk..” jawab Yura dengan singkat. “Makanya gak pernah ada waktu buat maen bareng dia..” tambahnya.
Bian terdiam mendengar cerita Yura. “Ra, liat deh lucu banget!!” seru Nando dari arah bebatuan.
“Hah. Apaan. Gue pengen liat..” jawab Yura dengan berlari kearah Nando. “Wah cantiknya..” seru Yura dengan memegang pipinya.
“Iya cantik kaya elo Ra..” ujar Nando dengan tertawa.
Yura melihat kearah Nando. “Hehe. Bisa aja sih elo..” balas Yura dengan tersenyum kearah Nando.
Silvi masih sibuk dengan membasuh tubuhnya diguyuran air terjun, yang membuatnya sangat merasa nyaman.
“Si Silvi kemana??” tanya Yura.
“Dimakan buaya kali..” seru nando dengan asik menangkap ikan-ikan kecil.
“Ey elo tuh” jawab Yura dengan memukul tangan Nando.
“Hehe. Dia lagi nyantai dibawah air terjun tuh Ra.” jawab Nando dengan mencubit pipi Yura.
“Ya!! Main cubit aja..” dengus Yura dengan cemberut.
“Ah makin cantik aja kalo lagi cemberut gini.. haha..” seru Nando dengan tertawa puas.
Yura menyiramkan air kearah Nando. “Nih rasain!!” seru Yura dengan membasahi baju Nando dengan air.
“Ahh. Basah!! Ra, udah Ra…” teriak Nando dengan menjauh dari arah Yura.
Yura masih menyiram Nando dengan air dengan senyum terpancar dari wajahnya. “Ah. Rasain elo. Haha”
“Eh. Beneran nih anak tengil yah..” ucap Nando dengan membalas menyiram Yura dengan air.
Nando dan Yura terliht sangat senang dengan permainan airnya, Bian hanya bisa melihat mereka bersenang-senang dari arah dimana dia duduk didekat pohon.
Seharian mereka sudah bersenang-senang dibawah air terjun, baju Yura dan Nando basah kuyup, Silvi yang sudah merasa puas dengan manjaan air terjun.
“Ya. Udah sekarang kita balik aja lagian udah sore ini” seru Silvi dengan merapikan rambut basahnya.
“Ya udah yu lagian gue udah kedinginan gini” seru Yura dengan menggigil.
“Apa lagi gue. Dingin bangeet” seru Nando dengan tangannya yang memeluk tas.” Seseorang tolong peluk gue dong..” seru Nando dengan manja.
“Iiiuuhhh…” seru Silvi dan Yura secara bersamaan dengan mata memutar.
“Yah. Pada pelit elo pada..”seru Nando dengan cemberut.
Mereka berjalan kearah dimana tadi mereka bertemu, hari sudah mulai sore, kaki-kaki mereka melangkah menyusuri jalan setapak, dedaunan yang seperti mencegah mereka untuk pergi menggapai-gapai tubuh mereka.
“Oh. Iya nanti elo pulang bareng gue aja yah..” seru Nando dengan tersenyum kearah Yura.
“Oke deh” balas Yura dengan tersenyum
Tidak lama mereka sudah sampai ditempat tadi mereka janjian, disana terlihat motor Nando dan 2 buah mobil, yang dijaga pak Warto, supir Silvi.
“Sumpah gue seger banget kalo udah pulang dari sini tuh” seru Silvi dengan merentangkan kedua tangannya. “Oh. Iya Ra, elo mau balik bareng siapa…??” tanya Silvi.
“Yang jelas bareng gue dong” jawab Nando dengan tiba-tiba sembari mengibaskan rambutnya.
“Haha. Sok ganteng banget sih elo” celetus Silvi.
“Eh. Bukan sok ganteng. Gue emang ganteng kali, dari turunan-turunan leluhur gue. Gue itu paling ganteng..??”
“Amasa? Iya ganteng kalo turunan kalo tanjakan? Jelek!!” jawab Silvi dengan menjulurkan lidahnya.
“Sialan elo”seru Nando dengan mata sinis.
“Haha. Iya deh ganteng ganteng haha” seru Silvi dengan tertawa.
Yura ikut tertawa dengan memegang perut nya.
“Hahaha..” Yura masih tertawa dengan terkekeh.
“Gue duluan” seru Bian dengan tiba-tiba.
“Oh. Elo mau duluan?? Ya udah bye yah..” jawab Nando dengan semangat.
“Elo mau duluan??” tanya Yura dengan mendekati Bian.
“Iya. Lagian gue ada acara jadi harus buru-buru..” jawab Bian dengan menaiki mobilnya.
Bian pulang terlebih dahulu, disusul dengan mobil Silvi, Nando dan Yura masih terduduk diatas motor.
Yura sudah siap dengan helm dikepalanya dan sudah mantap duduk dibelakang Nando. “Kenapa belum jalan Do,??” tanya Yura dengan melihat kearah spion.
“Iya ini lagi mau tancap gas nih..” seru Nando dengan senyum.
Yura memeluk tubuh Nando dari belakang, Nando menjalankan motornya. Yura menyandarkan kepalanya kepungugung Nando, terlihat Nando tersenyum tipis dibibirnya. Tiba-tiba ponsel Nando berbunyi dari dalam saku tasnya.
“Hadoh ini hp ngeganggu aja deh..”gerutu Nando. “Eh. Ra, bisa angkatin hp gue gak??” tanya Nando dengan melirik kearah spion.
“Hp elo dimana??” tanya Yura.
“Cari aja disaku belakang tas..”
“Oh. Iya ada nih..” jawab Yura.
Yura menekan tombol berwarna hijau dihp Nando, tampa terlebih dahulu melilhat siapa yang menelponnya.
“Hallo..”
“Iya hallo, ini dengan siapa? Nando mana??”
“Ini dengan Yura, Nando nya lagi nyetir motor, ini dengan siapa..??” tanya Yura dengan sopan.
“Ini mamahnya Nando..”
Yura terkejut dan mencolek-colek punggung Nando. “Do, ini nyokap elo..” seru Yura.
“Ya udah elo tanya aja mau apa? Gue pan lagi nyetir masa pegang hp..” jawab Nando.
Yura kembali menempelkan ponsel Nando ketelinganya. “Oh, mamahnya Nando, maaf tante kata Nando ada apa? Soalnya Nando lagi bawa motor..”
“Oh iya gpp, tolong bilangin ke Nando pulang cepet gitu yah, soalnya tante sama tante mira mau ke Manado, jadi cepet pulang,ini kunci rumah gitu yah..”
“Oh. Iya tante nanti saya sampaikan sama Nandonya..” balas Yura dengan sopan sebelum, ia menutup teleponnya.
“Do, kata nyokap elo katanya elo harus cepet balik, nyokap elo sama tante Mira, kalo gak salah, mau keManado katanya..” seru Yura dengan mendekatkan mulutnya ke kuping Nando yang tertutup helm.
“Yah. Padahal kalo pergi yah pergi aja..” gerutu Nando dengan terus menjalankan motornya.
“Yeh. Katanya kunci rumah ambil, mungkin mau bilang apa dulu ke sebelum dia pergi..” jawab Yura dengan mnjitak helm Nando. “Owh. Iya emang nyokap elo mau keManado mau ngapain sih?? Arisan hihi..” tambah Yura dengan tawa kecil.
“Gila apa. Masa iya arisan jauh-jauh banget. Mau ngunjungi keluarga disana Ra, tadi dia bilang sama tante Mira kan? Nah itu adiknya nyokap gue..” seru Nando dengan sedikit berteriak.
“Oh gitu tohh…” seru Yura dengan mengangukan kepalanya. “Kalo gitu cepet dong, nanti nyokap elo keburu berangkat lagi …”
Nando mempercepat laju motor, setelah ia mengantar Yura kerumah kosnya, ia langsung melesat kerumahnya.
→part17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar