Jam 16:38 , kosan Yura.
“Kok Silvi belum jemput gue sih???” ujar Yura dengan duduk didepan rumah kosannya.
Tiba-tiba Yura mendengar sebuah sepeda motor berhenti diluar pagar kosan, Yura berjalan mendkati pagar kosan, Yura melihat siapa yang datang.
“Nando..??” seru Yura.
“Hay Ra..” sapa Nando.
“Elo ngapain kesini??”
“Jemput elo lah..” Dengan tersenyum kearah Yura.
Yura kebingungan dengan kata-kata Nando. “Jemput gue?? Loh emangnya mau kemana Do??” jawab Yura.
“Katanya mau nonton basket kan??” jawab Nando.
Yura semakin bingung, yang seharusnya menjemput dia adalah Silvi bukan Nando, tapi kenapa lelaki yang dia kabumi sekarang ada didepannya dan menjemputnya.
“Ra. Ayoo..” ajak Nando dengan menyodorkan helm ke arah Yura.
“Oh. I-iyaa Do..” Yura mengenakan helm dan naik diatas motor Nando. Tangang Yura begitu basah, tangan nya yang membelit pinggang Nando membuat degup jantungnya kembali berdetak kencang.
“Ra, elo gpp kan??” tanya Nando dengan mebukakann kaca helmnya. “KoK elo diem aja.. ??”
“Gue gpp kok Do..” jawab Yura dengan sedikit berteriak.
Nando membawa motornya dengan sedikit mengebut, menambah pegangan kuat yang Yura lingkarkan pada pinggang Nando.
“Do gue takut jangan kenceng-kenceng dong..!!” teriak Yura dari belakang.
“Tenang aja Ra, elo aman sama gue, gue bakalan jaga elo kok” jawab Nando dengan tidak memperdulikan eratan tangan Yura yang begitu basah karna takut dan karna alasan lainnya.
kata-kata Nando membuat hati Yura berdebar “(elo aman sama gue, gue bakalan jaga elo ko)”entah apa arti kata itu, tapi Yura senang mendengar kata-kata yang terucap dari lelaki didepannya, Yura memeluk Nando dari belakang.
“Ahh..” mata Yura terbuka lebar. Ada sebuah tangan yang kini memegang tanganya yang dingin.
“Tangan elo dingin banget Ra..” ucap Nando dengan memegang tangan kiri Yura.
“I-iyaa Do, gue takut soalnya makanya dingin gini” jawab Yura dengan gugup.
“Kata gue juga pan gak usah takut ..”
“Iya Do, ya udah lo fokus nyetir aja deh ..” Yura menjawab.
15 menit perjalanan dari rumah kosan Yura ke Gor basket, dimana pertandingan akan diadakan, terlihat Silvi melambai-lambaikan tangan ke arah Yura dibarisan kedua paling depan. Nando menuntun Yura menghampiri Silvi.
“Akhirnya datang juga, untung aja belum telat..” ujar Silvi.
“Eh .. gue kebalakang dulu yah..” seru Nando dengan sedikit berlari.
“Mau kemana tuh Nando??” tanya Yura.
“Liat aja..” jawab Silvi santai.
“Owh iya, kenapa elo gak jemput gue?? Kenapa malah Nando yang jemput gue??” tanya Yura dengan sedikit kesal.
“Hehe sorry Ra. Tadi gue malah langsung kesini, terus gue suruh aja Nando, soalnya pasti keburu kan kalo dijemput pake motor..” bela Silvi.
“Aiiss dasar nyebelin elo…” jawab Yura dengan mencubit lengan Silvi.
Suara penonton yang cukup ramai tiba-tiba berteriak dan bertepuk tangan ketika salah satu tim masuk kedalam lapangan.
“Hah itu Nando??” tanya Yura pada Silvi.
“Iya itu Nando, inikan pertandingan dia, makanya elo mesti liat ” jawab Silvi dengan berteriak.
Yura benar-benar tidak tau kalo ini adalah pertandingan Nando, pantas saja tadi dia buru-buru takut pertandiangan udah dimulai.
“Tim Nando lawan tim dari mana Sil??” Tanya Yura dengan melihat Silvi.
“Lawan mereka cukup kuat Ra, lawan mereka juga pernah menjuarai pertandingan basket disingapura dan menjadi juara 2 kalo kagak salah..” jawab Silvi. “Makanya gue bawa elo kesini..” seru Silvi.
“Loh kok gue ??”
“Yah buat ngasih semangat buat Nando lah..” jawab Silvi singkat. “Ayo dong Ra kasih semnagt!!!” ujar Silvi dengan berteriak.
“Iyaa Sil !!!! yyeeee.. Nando…Nando… !!! Semangaatttttt !!!!” Yura berteriak-teriak dengan semangatnya.
Tiba saatnya giliran tim lawan Nando memasuki lapangan basket, satu persatu tim lawan masuk, tubuh mereka begitu tinggi dan gagah, Yura sedikit ngeri melihatnya.
“Pantes aja menang dikejuaraan singapure, badannnya juga tinggi-tinggi gitu..” seru Yura.
Betapa kagetnya Yura ketika matanya menangkap salah satu tim lawan yang ia kenal.
“Bian…” ucapnya dengan mulut mengaga.
“Yyyeee yee yeeee….. Semangat!!! Semangaattt!!!!” teriak Silvi. “Elo kenapa Ra !!!” tanya Silvi dengan sedikit berteriak.
“Gue gak gpp kok” jawab Yura. “Kok bisa sih Bian ada disana..” pikirnya dalam hati.
Pertandingan dimulai dengan cukup seru, Bian terlihat sangat gesit dilapangan itu, caranya memantulkan bola begitu menghipnotis Yura. Mata Yura tertuju pada tangan Bian yang kemarin pagi tergores pecahan gelas, tangan itu tidak lagi berbalut perban.
“Perbannya mana??”gumam Yura dengan suara lirih. “Padahal luka ditanganya pasti belum sembuh..” kini pikiran Yura mulai memikirkan lelaki yang begitu dingin padanya, entah kenapa kini dia malah memperhatikan lelaki tinggi itu, Bian.
4 quarter telah berlalu, kemenangan telah dimenangkan oleh lawan dengan score 96-87, terlihat kekecewaan tergurat diwajah Nando.
“Nih Do” sembari memeberi air minum. “Permainan elo hebat tadi, gue suka..”
“Makasih yah. Sorry juga..” ucapnya lirih.
“Maaf buat apa Do??” Yura keheranan.
“Gue kalah..” jawabnya dengan lemas.
Yura tersenyum ke arah Nando. “Udah dong ayo semangat!! Walapun elo kalah, tapi elo ngasih permainan yang hebat buat kita semua, buat gue juga..” jawab Yura dengan semangatnya.
Nando tersenyum “ya gue semangat kok..” jawabnya.
“Nah gitu dong …”
“Ra..” suara Silvi terdengar memanggil Yura.
“Ahh ada apa Sil??”
“Gue balik duluan yah?? Gue udah telat nih mau nganter nyokap belanja, bisa-bisa dia ngamuk lagi..”ucap Silvi dengan terengah-engah.
“Elo kenapa sih ngomong kok sambil terengah-engah gitu, kaya dikejar setan aja tau gak elo!!” jawab Yura dengan nada tinggi.
“Hehe. Sorry Ra, tadi gue lari dari lapang kesini, habisnya elo malah ninggalin gue..” gerutunya.
“Hehe. Iya udah kalo elo udah ditunggu nyokap elo gpp, gue pulang sendiri aja ..”jawab Yura dengan mendorong-dorong tubuh Silvi.
“Sendir!!” Silvi menyengirkan bibirnya. “Eh Do, tolong gue yah, anterin Yura kerumah kosannya, kasihan udah malem juga nih, kalo balik sendiri nanti ngilang lagi haha” sindir Silvi dengan tertawa.
“Iihh apaan sih elo..” balas Yura dengan mengejar sahabatnya itu.
Nando hanya tertawa melihat tingkah laku mereka.
Silvi masuk kedalam mobilnya. “Ra.. duluan yah.. bye bye !!” ucap Silvi dengan melambaikan tangan.
“Iya bye bye, hati-hati yaahhh !!!” balas Yura dengan membalas lambaian Silvi.
Nando berdiri dan mendekati Yura. “Ra, elo tunggu disini bentar yah gue mau kedalem lagi ada yang ketinggalan..” ucap Nando.
Yura menganggukakan kepala, Nando kembali kedalam Gor. Yura terduduk dipintu keluar gor dengan tas kecil yang ia pegang. Yura berjalan kearah luar gor dia berdiri dipinggir jalan, sebuah mobil berhenti didepan nya, kaca mobil mulai terbuka, Yura melihat ada siapa didalam.
“Bian..??”
“Elo nggak pulang??” tanya Bian
“Ini gue lagi nunggu temen gue yang masih didalem” tunjuk Yura kearah dalam Gor.
“Hhmm oko oke” jawab Bian dengan mengagguk. “Gue duluan” kaca mobil tertutup dan mobil Bianpun sudah tidak terlihat dibelokan jalan.
“Dasar jutekk….” gerutu Yura.
“Ra, ayoo..” panggil Nando.
Yura berlari kearah Nando dan mengenakan helm yang semula ia pakai.
“Owh iya. Elo keberatan gak nemin gue makan??” tanya Nando. “Tenang gue traktir deh elo..” tambah Nando.
“Hehe boleh-boleh aja kalo gitu ..” jawab Yura dengan menaikan kakinya diatas motor Nando.
✿✿✿
Kini Nando tiba disalah satu tempat makan didalam sebuah mall. Setelah memparkirkan motornya Nando mengajak Yura ketempat makan.
Tiba-tiba Yura ingin pergi koilet, tidak disangka- sangka Yura berpapasan lagi dengan sahabatnya.
“Silvi??” tanya Yura dengan tersenyum.
“Ya ampun kenapa dunia ini begitu sempit..!!! haha” jawab Silvi dengan tertawa. “Kok elo ada disini si Ra??” tanya Silvi.
“Gue mau makan dulu sama Nando, Sil” jawab Yura. “Tunggu bentar yah gue masuk dulu” Yura melangkahkan kakinya kedalam kamar kecil.
“Mana si Nandonya Ra??” tanya Silvi setelah Yura keluar kamar kecil.
“Yah diluarlah, masa ikut kesini..” seru Yura.
“kali aja kan haha”
“Tuh dia” tunjuk Yura ke arah Nando.
“Eh Do, elo jaga yah sahabat gue ini..” ancam Silvi dengan wajah sinis.
“Haha tenang aja kali gue jagain..” jawab Nando dengan tertawa.
“Hahahaa dasar kalian ini..” tawa Yura. “Owh iya Sil, nyokap elo mana??” tanya Yura.
“Nyokap gue dibutik atas Ra, gue turun kebawah buat ke kamar kecil dulu, owh iya gue duluan yah Ra, gak enak jadi nyamuk gini” sindir Silvi dengan mengedipkan mata.
“Dih apaan sih??” jawab Yura sebal.
“Haha ya udah bye yeh..” Silvi pegi meninggalkan mereka berdua.
“Dasar aneh hihii…” seru Yura sambil tertawa.
“Ya udah yoo kita cari tempat makan..”ajak Nando.
“Ya udah ayoo..” sahut Yura.
Malam itu Yura dan Nando makan bersama, disebuah tempat makan jepang disalah satu mall.
Selesai makan Nando mengantarkan Yura pulang kerumah kosannya. Malam itu begitu melelahkan.
✿✿✿
Yura terduduk diruang tvnya, Yura melonjorkan kakinya dengan memijit-mijitnya. Sesekali Yura menggeliatkan badan nya kekiri dan kekanan, hari yang cukup melelahkan baginya.
“Aahhh cape banget gue hari ini..” ucapnya dengan merentangkan kakinya.
“Eh Ra, baru pulang??” sapa ka Liana dengan membawa cemilan ditoples.
“Iya nih ka, baru beres nonton basket..” jawabnya dengan kelelahan.
“Tumben nonton basket??”
“Yahh.. kali-kali aja ka..” jawab Yura, dengan mengambil sedikit cemilan ditoples ka Liana. “Dah ah ngantuk, duluan yah ka..” sembari berjalan kearah kamar.
Didalam kamar Yura kembali teringat tentang Bian, entah dari mana asalnya ingatan itu tiba-tiba mengetuk pikiranya untuk masuk kedalmnya.
“Kenapa tiba-tiba gue keingetan Bian yah?? Hahh..” dengusnya dengan memainkan ponsel ditanganya. “Jam berapa ini??”pikirnya dalam hati. “Jam set 9 malam..”
→part 8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar