✿✿✿
Bian berjalan dengan kaki yang sangat berat,
dia tidak tau harus mulai dari mana, keranjang ditanganya membuat dirinya
seperti ibu-ibu yang akan berbelanja.
“Waahhh ganteng bangeettt .. waahhh…” seru
beberapa perempuan yang melihat Bian melewatinya.
“Aaaisshh..” gumam Bian.
“Inget
yah beli pembalut dan jangan lupa beli perlengkapan dalamnya juga, gue lupa
bawa jadi perlu ganti!!!” ucapan Yura terus teringat oleh Bian.“Aaahhhh..
dasar cewek sialan!! Masa iya gue disuruh belanja yang kaya gituan!!!”
Bian terlebih dahulu menuju tempat baju,
tampa memilih dia langsung masukan baju kedalam keranjang yang ada ditangannya.
Kini kakinya berhenti disebuah tempat baju dalam, Bian terlebih dahulu menoleh
kekiri kekanan, lalu memasukan beberapa potong baju dalam dan yang lainnya
tampa tau dia memasukan berapa potong.
Kakinya berjalan lagi ketempat dimana benda
yang dibutuhkan Yura disimpan.
“Ihhh.. keren yahhh..” seru seseorang gadis
yang melihat Bian berdiri disampingnya.
“Waahh… pengen banget punya pacar kaya gitu,
ganteng..” seru temannya satu lagi.
Bian sedikit ragu mengambil benda yang
didepannya, berkali-kali dia mengusap rambutnya dan bertingkah aneh, tidak lama kemudian Bian langsung mengambil sebuah
pembalut dengan cepat ditanganya, dan memasukannya kekeranjang, dan berlari
kearah kasir.
“Waahhh.. beruntung banget punya cowok bisa
disuruh beli yang kaya gituan.. wah jadi ngiri” jerit perempuan tadi .
Setelah membayar semua belanjaannya Bian
langsung pulang menuju rumahnya dimana Yura sedang menunggu.
“Nih..” dengan memberikan belanjaan pada
Yura.
“Wah makasih…” balas Yura. “Tapi apa
ini??”dengan menjukan beberapa baju dalam yang dipegang Yura. “Gue kan gak
butuh ini” tambahnya.
“Ya udah pake aja gue gak tau mesti ambil apa
aja..” gerutu Bian dengan duduk dikursi.
Yura berlari kearah kamar mandi dan tidak
lama sudah berdiri didepan Bian dengan memakai baju yang tadi Bian belikan.
“Semuanya besar..” seru Yura dengan berdiri
menatap Bian.
“Apa..??” ujar Bian.
“Bajunya kegedean, yang ini juga kegedean..”
tunjuk Yura kearah dadanya. “Gak enak pakenya..” seru Yura dengan muka polosnya.
Bian langsung berbalik kearah tv. “Gak usah
dipake aja, mana gue tau ukuran punya elo…” jawab Bian dengan ketus.
“Ya udah deh gpp, eh ada film horror
gak???!!?? ” tanya Yura.
“Gak tau elo cari aja ditempat kaset…” balas
Bian.
Yura berjalan kearah kaset dan mencari-cari
kaset yang dicarinya. “Wah ada..”seru Yura dengan senangnya.
Yura memang menyukai film-film yang berbau
horror tapi dia adalah orang yang penakut, terutama dengan gelap. Karna
menurutnya dikegalapan hantu-hantu muncul.
Bian hanya duduk ketika Yura dengan
semangatnya. Filmpun sudah dimulai tampak Yura sangat ketakutan, berbeda dengan
Bian yang sedari tadi hanya diam tampa merasa takut..
“HHHHHHHAAAAA!!!!!!!” jerit Yura dengan
memeluk Bian, ketika hantu muncul tiba-tiba.
“Hhuuaa kaget..” seru Yura dengan tangan
masih memeluk Bian. Yura mulai sadar apa yang sedang dilakukannya. “E-eh sorry
tadi gak sengaja..” ucap Yura dengan gagap.
Bian hanya menatap Yura dengan wajah
dinginnya.
Keheninganpun dimulai, Bian melihat adegan
demi adegan film didepannya.
“Eehh…” seru Bian ketika tiba-tiba kepala
Yura bersandar dibahunya. “Tidur” gumam Bian dengan melihat wajah Yura.
“Aduuhhh …” gumam Yura dengan memegang
perutnya.
Bian kembali dibuat heran dengan tingkah
Yura.
“Elo kenapa lagi??” tanya Bian dengan melihat
wajah Yura, mata Yura masih menutup, Yura mengggit bibir bawahnya, dia tampak
sepeti kesakitan, tangan Yura masih membelit perutnya.
“Elo kenapa sih?” tanya Bian keduakalinya. “Elo
sakit perut? Atau elo laper..??” tanya Bian.
“Gue gpp kok, cuma perut gue sakit gara-gara
datang bulan…”
Kedua kalinya Bian dibuat heran dengan
perempuan didepannya, menurutnya tdak masuk akal bisa sakit perut karna alasan
datang bulan.
“Kita kerumah sakit aja..” ucap Bian dengan
berdiri dari tempat duduknya.
“Elo gila?? Gak mungkinlah kerumah sakit cuma
gara-gara sakit datang bulan..” jelas Yura dengan nada menahan sakit
diperutnya. “Gue mau tidur aja, mudah-mudahan sakitnya hilang dengan sendirnya”
dengan tangan diperutnya Yura berjalan kekamar tidurnya.
Bian masih diam ditempatnya semula, dia
melihat peremuan didepannya seperti benar-benar merasa sakit. Bian berjalan
kearah kamar Yura.
Bian membuka kamar tidur Yura. “Elo beneran gpp
??” tanya Bian dengan duduk ditempat tidur Yura.
“Gue gpp..” jawab Yura dengan bersandar diranjangnya.
“Elo mesti minum obat, gue punya obat sakit
perut dibawah..” ucap Bian.
“Haha…” Yura tertawa kecil dengan tangan
diperutnya. “Gue bukan sakit perut biasa, gue sakit perut datang bulan, jadi
kalo mau minum obat juga, mesti buat yang sakit buat datang bulan..” jelas Yura
dengan membaringkan tubuhnya.
Bian menatap Yura dengan perasaan khawatir,
entah kenapa tiba-tiba Bian merasa kasihan kepada perempuan didepan matanya.
Bian berjalan keluar kamar Yura, dan berlari
keluar rumah, Bian menghidupkan mesin mobilnya dan keluar rumah untuk mencari
apotek terdekat.
Jam ditanganya sudah menujukan jam Sembilan
lebih, Bian mencari-cari tempat obat, beruntung dia menemukan tempat obat yang
tidak terlalu jauh. Bian membeli obat yang seperti diucapkan Yura.
“Gue sakit
perut datang bulan, jadi kalo mau minum obat, juga mesti obat yang buat datang
bulan..”
“Ada yang bisa saya bantu..??” sapa penjaga
apotek yang terlihat berumur 35 tahunan.
“Saya beli obat yang buat sakit datang bulan
mbak, ada??” tanya Bian.
Penjaga apotek sedikit mengkerutkan alisnya.
“Sebentar yah saya cari dulu..” jawab penjaga apotek dengan berjalan kearah
obat-obatan. “Mau berapa bungkus??” tanya penjaga apotek.
“Berapa yah..” seru Bian.
“Satu bungkus ada 4 obat..” ujar penjaga
apotek kepada Bian.
“Ya sudah 1 aja mbak, dengan membuka
dompetnya.
“Wah beruntung sekali yah perempuan yang jadi
pacar anda, begitu perhatian walapun masalah sepeti ini..” seru penjaga apotek
dengan memberikan obat ditanganya.
Bian hanya tersenyum tipis mendengar ucapan penjaga
apotek tersebuat, setelah membayar Bian segera pulang kerumahnya.
Bian berlari kearah kamar Yura dimana dia
kesakitan didalamnya.
“Elo minum dulu ini...” ujar Bian dengan
membawa segelas air putih ditanganya.
Yura terduduk diranjangnya. “Nih minum juga
obatnya..” seru Bian dengan meberikan obat dan air ketangan Yura.
Yura memandang Bian, lelaki yang begitu
dingin seperti berubah menjadi sangat perhatian, Yura tersenyum kearah Bian,
Bian hanya menatap kearah sisi lain kamar Yura.
“Elo beli obat ini keluar?? Ini kan udah
malem..??” seru Yura.
“Yang penting elo gak kesakitan lagi kan??”
jawab Bian dengan singkat. “Ya udah nih minum obatnya..”
“Iya..” jawab Yura dengan meminum obat ditangnya.
Malam itu Yura tertidur dengan pulas, tampa
merasakan sakit lagi diperutnya, ternyata tampa Yura sadari Bian selalu ada,
saat dia membutuhkan sesuatu. Yura mulai merasakan kehangatan yang diberikan
lelaki dingin itu.
→ part 13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar