Rabu, 02 Juli 2014

Cerita Tidak Harus Sejalan Part 12

✿✿✿
Bian berjalan dengan kaki yang sangat berat, dia tidak tau harus mulai dari mana, keranjang ditanganya membuat dirinya seperti ibu-ibu yang akan berbelanja.
“Waahhh ganteng bangeettt .. waahhh…” seru beberapa perempuan yang melihat Bian melewatinya.
“Aaaisshh..” gumam Bian.
Inget yah beli pembalut dan jangan lupa beli perlengkapan dalamnya juga, gue lupa bawa jadi perlu ganti!!!” ucapan Yura terus teringat oleh Bian.“Aaahhhh.. dasar cewek sialan!! Masa iya gue disuruh belanja yang kaya gituan!!!”
Bian terlebih dahulu menuju tempat baju, tampa memilih dia langsung masukan baju kedalam keranjang yang ada ditangannya. Kini kakinya berhenti disebuah tempat baju dalam, Bian terlebih dahulu menoleh kekiri kekanan, lalu memasukan beberapa potong baju dalam dan yang lainnya tampa tau dia memasukan berapa potong.
Kakinya berjalan lagi ketempat dimana benda yang dibutuhkan Yura disimpan.
“Ihhh.. keren yahhh..” seru seseorang gadis yang melihat Bian berdiri disampingnya.
“Waahh… pengen banget punya pacar kaya gitu, ganteng..” seru temannya satu lagi.
Bian sedikit ragu mengambil benda yang didepannya, berkali-kali dia mengusap rambutnya dan bertingkah aneh, tidak  lama kemudian Bian langsung mengambil sebuah pembalut dengan cepat ditanganya, dan memasukannya kekeranjang, dan berlari kearah kasir.
“Waahhh.. beruntung banget punya cowok bisa disuruh beli yang kaya gituan.. wah jadi ngiri” jerit perempuan tadi .
Setelah membayar semua belanjaannya Bian langsung pulang menuju rumahnya dimana Yura sedang menunggu.
“Nih..” dengan memberikan belanjaan pada Yura.
“Wah makasih…” balas Yura. “Tapi apa ini??”dengan menjukan beberapa baju dalam yang dipegang Yura. “Gue kan gak butuh ini” tambahnya.
“Ya udah pake aja gue gak tau mesti ambil apa aja..” gerutu Bian dengan duduk dikursi.
Yura berlari kearah kamar mandi dan tidak lama sudah berdiri didepan Bian dengan memakai baju yang tadi Bian belikan.
“Semuanya besar..” seru Yura dengan berdiri menatap Bian.
“Apa..??” ujar Bian.
“Bajunya kegedean, yang ini juga kegedean..” tunjuk Yura kearah dadanya. “Gak enak pakenya..” seru Yura dengan muka polosnya.
Bian langsung berbalik kearah tv. “Gak usah dipake aja, mana gue tau ukuran punya elo…” jawab Bian dengan ketus.
“Ya udah deh gpp, eh ada film horror gak???!!?? ” tanya Yura.
“Gak tau elo cari aja ditempat kaset…” balas Bian.
Yura berjalan kearah kaset dan mencari-cari kaset yang dicarinya. “Wah ada..”seru Yura dengan senangnya.
Yura memang menyukai film-film yang berbau horror tapi dia adalah orang yang penakut, terutama dengan gelap. Karna menurutnya dikegalapan hantu-hantu muncul.
Bian hanya duduk ketika Yura dengan semangatnya. Filmpun sudah dimulai tampak Yura sangat ketakutan, berbeda dengan Bian yang sedari tadi hanya diam tampa merasa takut..
“HHHHHHHAAAAA!!!!!!!” jerit Yura dengan memeluk Bian, ketika hantu muncul tiba-tiba.

“Hhuuaa kaget..” seru Yura dengan tangan masih memeluk Bian. Yura mulai sadar apa yang sedang dilakukannya. “E-eh sorry tadi gak sengaja..” ucap Yura dengan gagap.
Bian hanya menatap Yura dengan wajah dinginnya.
Keheninganpun dimulai, Bian melihat adegan demi adegan film didepannya.
“Eehh…” seru Bian ketika tiba-tiba kepala Yura bersandar dibahunya. “Tidur” gumam Bian dengan melihat wajah Yura.
“Aduuhhh …” gumam Yura dengan memegang perutnya.
Bian kembali dibuat heran dengan tingkah Yura.
“Elo kenapa lagi??” tanya Bian dengan melihat wajah Yura, mata Yura masih menutup, Yura mengggit bibir bawahnya, dia tampak sepeti kesakitan, tangan Yura masih membelit perutnya.
“Elo kenapa sih?” tanya Bian keduakalinya. “Elo sakit perut? Atau elo laper..??” tanya Bian.
“Gue gpp kok, cuma perut gue sakit gara-gara datang bulan…”
Kedua kalinya Bian dibuat heran dengan perempuan didepannya, menurutnya tdak masuk akal bisa sakit perut karna alasan datang bulan.
“Kita kerumah sakit aja..” ucap Bian dengan berdiri dari tempat duduknya.
“Elo gila?? Gak mungkinlah kerumah sakit cuma gara-gara sakit datang bulan..” jelas Yura dengan nada menahan sakit diperutnya. “Gue mau tidur aja, mudah-mudahan sakitnya hilang dengan sendirnya” dengan tangan diperutnya Yura berjalan kekamar tidurnya.
Bian masih diam ditempatnya semula, dia melihat peremuan didepannya seperti benar-benar merasa sakit. Bian berjalan kearah kamar Yura.
Bian membuka kamar tidur Yura. “Elo beneran gpp ??” tanya Bian dengan duduk ditempat tidur Yura.
“Gue gpp..” jawab Yura dengan bersandar diranjangnya.
“Elo mesti minum obat, gue punya obat sakit perut dibawah..” ucap Bian.
“Haha…” Yura tertawa kecil dengan tangan diperutnya. “Gue bukan sakit perut biasa, gue sakit perut datang bulan, jadi kalo mau minum obat juga, mesti buat yang sakit buat datang bulan..” jelas Yura dengan membaringkan tubuhnya.
Bian menatap Yura dengan perasaan khawatir, entah kenapa tiba-tiba Bian merasa kasihan kepada perempuan didepan matanya.
Bian berjalan keluar kamar Yura, dan berlari keluar rumah, Bian menghidupkan mesin mobilnya dan keluar rumah untuk mencari apotek terdekat.
Jam ditanganya sudah menujukan jam Sembilan lebih, Bian mencari-cari tempat obat, beruntung dia menemukan tempat obat yang tidak terlalu jauh. Bian membeli obat yang seperti diucapkan Yura.
“Gue sakit perut datang bulan, jadi kalo mau minum obat, juga mesti obat yang buat datang bulan..”
“Ada yang bisa saya bantu..??” sapa penjaga apotek yang terlihat berumur 35 tahunan.
“Saya beli obat yang buat sakit datang bulan mbak, ada??” tanya Bian.
Penjaga apotek sedikit mengkerutkan alisnya. “Sebentar yah saya cari dulu..” jawab penjaga apotek dengan berjalan kearah obat-obatan. “Mau berapa bungkus??” tanya penjaga apotek.
“Berapa yah..” seru Bian.
“Satu bungkus ada 4 obat..” ujar penjaga apotek kepada Bian.
“Ya sudah 1 aja mbak, dengan membuka dompetnya.
“Wah beruntung sekali yah perempuan yang jadi pacar anda, begitu perhatian walapun masalah sepeti ini..” seru penjaga apotek dengan memberikan obat ditanganya.
Bian hanya tersenyum tipis mendengar ucapan penjaga apotek tersebuat, setelah membayar Bian segera pulang kerumahnya.
Bian berlari kearah kamar Yura dimana dia kesakitan didalamnya.
“Elo minum dulu ini...” ujar Bian dengan membawa segelas air putih ditanganya.
Yura terduduk diranjangnya. “Nih minum juga obatnya..” seru Bian dengan meberikan obat dan air ketangan Yura.
Yura memandang Bian, lelaki yang begitu dingin seperti berubah menjadi sangat perhatian, Yura tersenyum kearah Bian, Bian hanya menatap kearah sisi lain kamar Yura.
“Elo beli obat ini keluar?? Ini kan udah malem..??” seru Yura.
“Yang penting elo gak kesakitan lagi kan??” jawab Bian dengan singkat. “Ya udah nih minum obatnya..”
“Iya..” jawab Yura dengan meminum obat ditangnya.

Malam itu Yura tertidur dengan pulas, tampa merasakan sakit lagi diperutnya, ternyata tampa Yura sadari Bian selalu ada, saat dia membutuhkan sesuatu. Yura mulai merasakan kehangatan yang diberikan lelaki dingin itu.

→ part 13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar