✿✿✿
Seperti sebuah benca, semua orang tidak akan
bisa mengira kapan bencana itu terjadi, dan tidak akan ada yang tau, sebesar
apa kerusakan yang akan ditimbulkan. Kita hanya akan tau seberapa besar, dan
seberapa parah kerusana itu setelah kita melihat dengan sendirinya. Dalam
setiap perubahan pasti ada sebuah pertanyaan.
Ddreedd..drreedd…
Suara getar telepon membangunkan Yura. “Iya..
hallo..??” jawab Yura dengan setengah mengantuk.
“Ra,
hari ini elo kerumah gue yah..?? bête nih dirumah sendiri..” terdengar
Suara Silvi disebrang sana.
“Oke deh ntar gue kesana..” jawab Yura dengan
nada mengantuk.
“Elo
baru bangun tidur yah..??? heh !! nenek rombeng liat noh matahari udah diatas
kepala elo.. ayoo buru kerumah gue!!” oceh Silvi .
“Iya iya gue kesana.. 20 menit lagi yah…” balas
Yura.
Yura berlari kearah kamar mandi, beberapa
menit kemudian Yura sudah keluar dari kamar mandi dengan badan yang segar dan
dengan pakaian yang masih sama ia kenakan seperti waktu masuk kekamar mandi.
Yura melihat kearah jendela, terlihat disana Bian sedang membersihkan mobil sport nya.
Yura mengampiri Bian yang sedang membersihkan
mobilnya.“Lagi apa elo..??” tanya Yura.
“Nggak liat elo, gue lagi ngapain..??” balas
Bian dengan terus membersihkan mobilnya.
“Hih dasar..” gerutu Yura. “Owh iya baju gue
yang kemarin dimana yah..?? Kok tadi di kamar mandi gak ada??” tanya Yura
dengan memebantu Bian membersihkan mobilnya.
“Ada dimesin cuci..” balasnya.
“Udah kering??”
“Baru aja gue masukin..”
“Yah padahal gue mau balik, masa iya gue pake
baju ini..” ucap Yura dengan memegang baju tidurnya yang lumayang besar,
tergantung dibadannya.
“Yah gpp, dari pada elo gak ada baju kan..??”
balas Bian.
Yura menatap punggung Bian dengan mata sinis,
serasa dia ingin menjatuhkan benda belakang lelaki itu. “Hahaha..” Yura tertawa
kecil.
“Kenapa elo ketawa..??” tanya Bian dengan
melihat tingkah Yura.
“Gpp..” jawab Yura dengan angkuh. “Owh iya
elo bisa anterin gue kan..??” tambah Yura.
“Kemana..??”
“Kerumah temen gue sekarang, soalnya dia udah
nunggu..” jawab Yura.
“Elo gak sarapan dulu..??” tanya Bian dengan
melencng dari pembicaraan.
“Nanti aja..” jawab Yura.
“Ya udah, ayo naek..” dengan memasuki mobil.
Yura masuk kedalam mobil Bian, tidak butuh
waktu lama untuk mereka sampai didepan rumah Silvi. Yura menekan bel rumah,
tidak lama Silvi segera menghampiri Yura.
“Udah dateng…” ujar Silvi dengan berlari menghampiri
Yura. “Eh. Siapa tuh??” tanya Silvi dengan melirik-lirikan matanya.
“Owh ini. Kenalin ini Bian, Sil. Bian ini
Silvi, sahabat gue..” ucap Yura dengan memperkenalkan nama mereka
masing-masing.
“Hay. Gue Silvi” ujar Silvi dengan
menyodorkan tangan.
“Bian.” jawab Bian dengan singkat dan
memebalas salam Silvi.
“Eh. Ra, nih orang jutek banget deh..” bisik
Silvi didekat telinga Yura.
“Hehe..” jawab Yura dengan tawa.
“Ini cowok yang elo bilang waktu itu bukan
Ra.??” tanya Silvi dengan berbisik ditelinga Yura.
“Iya..” balas Yura singkat.
Silvi mengangguk anggukan kepalanya.“Ya udah
ayo masuk Sil, Bian. Nando udah nunggu tuh ..” ujar Silvi.
Deg!! jantung Yura dengan tiba-tiba
berdetak kencang tiba-tiba. “Didalam ada Nando??” tanya Yura.
“Iya.” balas Silvi. “Kenapa??”
“A-ahh gpp ..” jawab Yura.
“Hey, gue balik yah.” seru Bian dengan
dingin.
“Loh ko balik sih..???” jawab Silvi dengan nada
kecewa. “Masuk aja dulu..” tambahnya.
“Iya elo kan ada janji yah..??” seru Yura
dengan tersenyum kecut kearah Bian dan menarik tangan Bian untuk masuk kedalam
mobil. Bian hanya melihat sekilas tatapan Yura, yang seperti berkata.
“cepet pergi..”
“Gue mesti
pergi, gue ada janji..” jelas Bian dengan berusaha melepas tangan Silvi.
“Tuh. Kan elo denger dia punya janji, dia
mesti pergi..” balas Yura dengan menarik tangan Bian kedalam mobil.
Kini mereka terlihat sepeti 2 ekor burung
yang sedang berebut satu ekor cacing yang akan mengisi perut mereka.
“Ada apa ini ribut-ribut..??” seru seseorang
dari arah pagar rumah Silvi, yang tak lain adalah Nando. “Ngapain kalian
tarik-tarikan kaya gitu..??” tanya Nando.
Dengan secepat kilat Yura melepaskan tangan
Bian. “Ah nggak kita cuma..”
Belum selesai Yura berbicara Silvi sudah
menyambar membicaraan Yura. “Kita cuma mau ngajak Bian masuk..” jawab Silvi
dengan tangan yang masih memegang tangan Bian.
Nando menatap penampilan lelaki yang sedang
diperebutkan 2 sahabatnya ini, yang mereka sebuat dengan nama Bian.
“Elo, bukannya anak basket yang
dipertandingan itu yah ..??” tanya Nando dengan nada seperti menyelidik.
Bian melepaskan tangan Silvi yang masih
terkait dengan tanganya. “Iya..” balas Bian dengan Singkat.
“Ahh yang bener..??” tanya Silvi dengan
penasaran. “Ahhh iya elo yang masukin banyak point dipertandingan itu kan..??” tanya
Silvi dengan nada yang semangat.
“Kenapa
Nando nanyanya gitu banget?? Mukanya kaya yang marah gitu..” seru Yura
dalam hati, dengan memperhatikan Nando yang berdiri dengan tangan didadanya,
dan dengan wajah yang terlihat kesal.
“Aahhh ayo kalo gitu kita masuk…” seru Silvi
dengan menarik tangan Bian.
“Elo kenapa belum ganti baju Ra..” tanya
Nando tiba-tiba.
Yura melihat langsung kearah Nando dengan
tatapan seperti ketakutan. “Haha. Gue lupa ganti baju haha..” jawab Yura dengan
tawa sembari mengusap-ngusap rambutnya.
Bian hanya melihat tingkah Yura dan lelaki
yang sepertinya kurang menyukainya.
“Jadi. Semalam elo nginep dirumah dia???”
tanya Nando dengan curiga.
Yura kaget dengan apa yang Nando bilang. Muka
Yura menunduk, dia seperti takut jika Nando membencinya karna hal itu. “I-iya
gue semalam nginep dirumah dia..” jawab Yura dengan menundukan kepalanya.
“Hah!! Jadi bener elo nginep semalam dirumah
Bian??” seru Silvi dengan tiba-tiba. “Wah asik dong..!!!” ucap Silvi dengan
semangat tanpa mengetahui perasaan Yura.
Nando membalikan badannya dan berjalan kearah
dalam rumah, disusul dengan Silvi dan Bian mengiutinya dari belakang. Yura
begitu merasa bersalah, enatah apa yang membuatnya merasa sedih ketika Nando
mengetahui bahwa dia menginap dirumah Bian.
“Kalian tunggu dulu disini yah… gue mau ambil
minum dulu..” ujar Silvi dengan keluar kamarnya.
Nando duduk dikursi komputer dengan memainkan
games, Bian hanya terdiam dingin mematung sepeti sebuah es didekat jendela
kamar, sedangkan Yura hanya duduk dipinggir ranjang. Didalam kamar, begitu
sunyi tampa ada sepatah katapun mereka bertiga lontarkan.
“Tada!!! Minuman datang..!!!” seru Silvi
dengan membawa jus jeruk digelas. “Nih ambil yah minumannya..” tambah Silvi
dengan menaruh minuman dimeja belajarnya. “Hoh. Kenapa ??” tanya Silvi dengan
keheranan melihat temannya terdiam, seperti bukan temannya yang selalu membuat
gaduh.
“Thank ya minumannya..” seru Nando dengan
mengambil jus.
Nando terlihat sangat kesal, melihat Yura
dengan lelaki lain, walaupun dia menyadari Yura belum menjadi seseorang yang
benar-benar dia milliki, tetapi rasa cemburu itu selalu ada.
Nando melirik kearah Yura dan Bian, Bian
mulai menggerakan tubuhnya dan menuju arah sisi ranjang untuk duduk, mata Nando
tiba-tiba membulat dan dengan sigap berdiri dari tempat duduknya, dan berlari
kearah Yura.
“E-eh Ra, elo mau maen gitar gak?? Gue ajarin
yah..” ujar Nando dengan membuat Yura keheranan kenapa dia berprilaku demikian.
“Hah??” Yura kebingungan melihat tingkah Nando yang tidak biasanya.
“Gue
gak akan biarin elo duduk disebelah Yura!!” gumam Nando dalam hati, dengan
mata yang melirik Bian yang sekarang telah duduk didekatnya.
Yura melirik kearah Bian sekilas, wajahnya
yang menunduk dan dengan tangan yang mengepal, dia sepertinya tidak nyaman
berada dikamar itu.
“Gimana Ra, mau gue ajarin???” tanya Nando
dengan senyum melebar dipipinya.
“Iya boleh Do..” jawab Yura dengan senyum
tipis.
Seharian itu Nando dan Yura sibuk dengan
gitar mereka dan dengan nyanyian Silvi yang tidak terlalu bagus mengisi seluruh
ruangan itu, Nando dan Silvi sangat gembira ketika mereka bernyanyi, namun mata
Yura entah kenapa selalu mengarah kepada Bian yang sedari tadi tidak berkata
apa-apa.
“Bi..
kenapa elo gak pergi aja.. kenapa elo masih disitu..” seru Yura dalam hati.
✿✿✿
“Makasih.
Maaf udah ngerepotin elo seharian ini hehe..” ucap Nando dengan tertawa.
“Haha iya gpp lagi...” balas Silvi.
Bian masuk terlebih dahulu kedalam mobil
tampa mengucapkan sepatah katapun. Yura hanya bisa menatap belakang mobil Bian,
yang sekang sudah tak terlihat lagi.
“His dasar!!” seru Nando dengan sedikit nada
kesal. “Kaya jelangkung aja tuh anak..” tambahnya lagi dengan raut kekesalan
diwajahnya.
“Dih elo kenapa sih..?? sensi banget elo !!”
balas Silvi dengan memukul tangan Nando. “Ahh cemburu yah Elo..” goda Silvi.
Nando hanya terdiam dan hanya memperlihatkan
wajah sinisnya.
“Dih biasa aja kali pak mukanya!!!” gerutu
Silvi dengan mengusap wajah Nando.
Yura hanya melihat tngkah merka berdua yang
begitu sangat lucu.
“Ra, gue anterin yah?? Lagian si Bian udah
kabur tuh..” seru Nando dengan memberikan helm kepada Yura.
“Cciieee ampe udah nyiapain helm dua tuh.. haha..”
goda Silvi dengan tawa. “kesempatan dalam kesempitan nih ciee..”
Yura hanya tersenyum malu ketika kata-kata
Silvi membuat dirinya tersipu, Yura menaiki motor Nando dan dengan cepat dia
sudah memakai helm dikepalanya.
“Sil gue balik dulu yah. Makasih buat hari
ini..” ucap Yura dengan tersenyum.
“Haha iya sama-sama .. hati-hati elo yah
dijalan..” ucap Silvi.
“Oke bye…”
“Byeee..” jawab Silvi dengan melambaikan
tanganya dan kembali kedalam rumah.
→ part 14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar