Rabu, 02 Juli 2014

Cerita Tidak Harus Sejalan Part 13

✿✿✿
Seperti sebuah benca, semua orang tidak akan bisa mengira kapan bencana itu terjadi, dan tidak akan ada yang tau, sebesar apa kerusakan yang akan ditimbulkan. Kita hanya akan tau seberapa besar, dan seberapa parah kerusana itu setelah kita melihat dengan sendirinya. Dalam setiap perubahan pasti ada sebuah pertanyaan.
Ddreedd..drreedd…
Suara getar telepon membangunkan Yura. “Iya.. hallo..??” jawab Yura dengan setengah mengantuk.
Ra, hari ini elo kerumah gue yah..?? bête nih dirumah sendiri..” terdengar Suara Silvi disebrang sana.
“Oke deh ntar gue kesana..” jawab Yura dengan nada mengantuk.
“Elo baru bangun tidur yah..??? heh !! nenek rombeng liat noh matahari udah diatas kepala elo.. ayoo buru kerumah gue!!” oceh Silvi .
“Iya iya gue kesana.. 20 menit lagi yah…” balas Yura.
Yura berlari kearah kamar mandi, beberapa menit kemudian Yura sudah keluar dari kamar mandi dengan badan yang segar dan dengan pakaian yang masih sama ia kenakan seperti waktu masuk kekamar mandi. Yura melihat kearah jendela, terlihat disana Bian sedang membersihkan mobil sport nya.
Yura mengampiri Bian yang sedang membersihkan mobilnya.“Lagi apa elo..??” tanya Yura.
“Nggak liat elo, gue lagi ngapain..??” balas Bian dengan terus membersihkan mobilnya.
“Hih dasar..” gerutu Yura. “Owh iya baju gue yang kemarin dimana yah..?? Kok tadi di kamar mandi gak ada??” tanya Yura dengan memebantu Bian membersihkan mobilnya.
“Ada dimesin cuci..” balasnya.
“Udah kering??”
“Baru aja gue masukin..”
“Yah padahal gue mau balik, masa iya gue pake baju ini..” ucap Yura dengan memegang baju tidurnya yang lumayang besar, tergantung dibadannya.
“Yah gpp, dari pada elo gak ada baju kan..??” balas Bian.
Yura menatap punggung Bian dengan mata sinis, serasa dia ingin menjatuhkan benda belakang lelaki itu. “Hahaha..” Yura tertawa kecil.
“Kenapa elo ketawa..??” tanya Bian dengan melihat tingkah Yura.
“Gpp..” jawab Yura dengan angkuh. “Owh iya elo bisa anterin gue kan..??” tambah Yura.
“Kemana..??”
“Kerumah temen gue sekarang, soalnya dia udah nunggu..” jawab Yura.
“Elo gak sarapan dulu..??” tanya Bian dengan melencng dari pembicaraan.
“Nanti aja..” jawab Yura.
“Ya udah, ayo naek..” dengan memasuki mobil.
Yura masuk kedalam mobil Bian, tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai didepan rumah Silvi. Yura menekan bel rumah, tidak lama Silvi segera menghampiri Yura.
“Udah dateng…” ujar Silvi dengan berlari menghampiri Yura. “Eh. Siapa tuh??” tanya Silvi dengan melirik-lirikan matanya.
“Owh ini. Kenalin ini Bian, Sil. Bian ini Silvi, sahabat gue..” ucap Yura dengan memperkenalkan nama mereka masing-masing.
“Hay. Gue Silvi” ujar Silvi dengan menyodorkan tangan.
“Bian.” jawab Bian dengan singkat dan memebalas salam Silvi.
“Eh. Ra, nih orang jutek banget deh..” bisik Silvi didekat telinga Yura.
“Hehe..” jawab Yura dengan tawa.
“Ini cowok yang elo bilang waktu itu bukan Ra.??” tanya Silvi dengan berbisik ditelinga Yura.
“Iya..” balas Yura singkat.
Silvi mengangguk anggukan kepalanya.“Ya udah ayo masuk Sil, Bian. Nando udah nunggu tuh ..” ujar Silvi.
Deg!! jantung Yura dengan tiba-tiba berdetak kencang tiba-tiba. “Didalam ada Nando??” tanya Yura.
“Iya.” balas Silvi. “Kenapa??”
“A-ahh gpp ..” jawab Yura.
“Hey, gue balik yah.” seru Bian dengan dingin.
“Loh ko balik sih..???” jawab Silvi dengan nada kecewa. “Masuk aja dulu..” tambahnya.
“Iya elo kan ada janji yah..??” seru Yura dengan tersenyum kecut kearah Bian dan menarik tangan Bian untuk masuk kedalam mobil. Bian hanya melihat sekilas tatapan Yura, yang seperti berkata.
cepet pergi..”

Gue mesti pergi, gue ada janji..” jelas Bian dengan berusaha melepas tangan Silvi.
“Tuh. Kan elo denger dia punya janji, dia mesti pergi..” balas Yura dengan menarik tangan Bian kedalam mobil.
Kini mereka terlihat sepeti 2 ekor burung yang sedang berebut satu ekor cacing yang akan mengisi perut mereka.
“Ada apa ini ribut-ribut..??” seru seseorang dari arah pagar rumah Silvi, yang tak lain adalah Nando. “Ngapain kalian tarik-tarikan kaya gitu..??” tanya Nando.
Dengan secepat kilat Yura melepaskan tangan Bian. “Ah nggak kita cuma..”
Belum selesai Yura berbicara Silvi sudah menyambar membicaraan Yura. “Kita cuma mau ngajak Bian masuk..” jawab Silvi dengan tangan yang masih memegang tangan Bian.
Nando menatap penampilan lelaki yang sedang diperebutkan 2 sahabatnya ini, yang mereka sebuat dengan nama Bian.
“Elo, bukannya anak basket yang dipertandingan itu yah ..??” tanya Nando dengan nada seperti menyelidik.
Bian melepaskan tangan Silvi yang masih terkait dengan tanganya. “Iya..” balas Bian dengan Singkat.
“Ahh yang bener..??” tanya Silvi dengan penasaran. “Ahhh iya elo yang masukin banyak point dipertandingan itu kan..??” tanya Silvi dengan nada yang semangat.
Kenapa Nando nanyanya gitu banget?? Mukanya kaya yang marah gitu..” seru Yura dalam hati, dengan memperhatikan Nando yang berdiri dengan tangan didadanya, dan dengan wajah yang terlihat kesal.
“Aahhh ayo kalo gitu kita masuk…” seru Silvi dengan menarik tangan Bian.
“Elo kenapa belum ganti baju Ra..” tanya Nando tiba-tiba.
Yura melihat langsung kearah Nando dengan tatapan seperti ketakutan. “Haha. Gue lupa ganti baju haha..” jawab Yura dengan tawa sembari mengusap-ngusap rambutnya.
Bian hanya melihat tingkah Yura dan lelaki yang sepertinya kurang menyukainya.
“Jadi. Semalam elo nginep dirumah dia???” tanya Nando dengan curiga.
Yura kaget dengan apa yang Nando bilang. Muka Yura menunduk, dia seperti takut jika Nando membencinya karna hal itu. “I-iya gue semalam nginep dirumah dia..” jawab Yura dengan menundukan kepalanya.
“Hah!! Jadi bener elo nginep semalam dirumah Bian??” seru Silvi dengan tiba-tiba. “Wah asik dong..!!!” ucap Silvi dengan semangat tanpa mengetahui perasaan Yura.
Nando membalikan badannya dan berjalan kearah dalam rumah, disusul dengan Silvi dan Bian mengiutinya dari belakang. Yura begitu merasa bersalah, enatah apa yang membuatnya merasa sedih ketika Nando mengetahui bahwa dia menginap dirumah Bian.
“Kalian tunggu dulu disini yah… gue mau ambil minum dulu..” ujar Silvi dengan keluar kamarnya.
Nando duduk dikursi komputer dengan memainkan games, Bian hanya terdiam dingin mematung sepeti sebuah es didekat jendela kamar, sedangkan Yura hanya duduk dipinggir ranjang. Didalam kamar, begitu sunyi tampa ada sepatah katapun mereka bertiga lontarkan.
“Tada!!! Minuman datang..!!!” seru Silvi dengan membawa jus jeruk digelas. “Nih ambil yah minumannya..” tambah Silvi dengan menaruh minuman dimeja belajarnya. “Hoh. Kenapa ??” tanya Silvi dengan keheranan melihat temannya terdiam, seperti bukan temannya yang selalu membuat gaduh.
“Thank ya minumannya..” seru Nando dengan mengambil jus.
Nando terlihat sangat kesal, melihat Yura dengan lelaki lain, walaupun dia menyadari Yura belum menjadi seseorang yang benar-benar dia milliki, tetapi rasa cemburu itu selalu ada.
Nando melirik kearah Yura dan Bian, Bian mulai menggerakan tubuhnya dan menuju arah sisi ranjang untuk duduk, mata Nando tiba-tiba membulat dan dengan sigap berdiri dari tempat duduknya, dan berlari kearah Yura.
“E-eh Ra, elo mau maen gitar gak?? Gue ajarin yah..” ujar Nando dengan membuat Yura keheranan kenapa dia berprilaku demikian.
“Hah??” Yura kebingungan melihat tingkah Nando yang tidak biasanya.

Gue gak akan biarin elo duduk disebelah Yura!!” gumam Nando dalam hati, dengan mata yang melirik Bian yang sekarang telah duduk didekatnya.
Yura melirik kearah Bian sekilas, wajahnya yang menunduk dan dengan tangan yang mengepal, dia sepertinya tidak nyaman berada dikamar itu.
“Gimana Ra, mau gue ajarin???” tanya Nando dengan senyum melebar dipipinya.
“Iya boleh Do..” jawab Yura dengan senyum tipis.
Seharian itu Nando dan Yura sibuk dengan gitar mereka dan dengan nyanyian Silvi yang tidak terlalu bagus mengisi seluruh ruangan itu, Nando dan Silvi sangat gembira ketika mereka bernyanyi, namun mata Yura entah kenapa selalu mengarah kepada Bian yang sedari tadi tidak berkata apa-apa.

Bi.. kenapa elo gak pergi aja.. kenapa elo masih disitu..” seru Yura dalam hati.

✿✿✿
 “Makasih. Maaf udah ngerepotin elo seharian ini hehe..” ucap Nando dengan tertawa.
“Haha iya gpp lagi...” balas Silvi.
Bian masuk terlebih dahulu kedalam mobil tampa mengucapkan sepatah katapun. Yura hanya bisa menatap belakang mobil Bian, yang sekang sudah tak terlihat lagi.
“His dasar!!” seru Nando dengan sedikit nada kesal. “Kaya jelangkung aja tuh anak..” tambahnya lagi dengan raut kekesalan diwajahnya.
“Dih elo kenapa sih..?? sensi banget elo !!” balas Silvi dengan memukul tangan Nando. “Ahh cemburu yah Elo..” goda Silvi.
Nando hanya terdiam dan hanya memperlihatkan wajah sinisnya.
“Dih biasa aja kali pak mukanya!!!” gerutu Silvi dengan mengusap wajah Nando.
Yura hanya melihat tngkah merka berdua yang begitu sangat lucu.
“Ra, gue anterin yah?? Lagian si Bian udah kabur tuh..” seru Nando dengan memberikan helm kepada Yura.
“Cciieee ampe udah nyiapain helm dua tuh.. haha..” goda Silvi dengan tawa. “kesempatan dalam kesempitan nih ciee..”
Yura hanya tersenyum malu ketika kata-kata Silvi membuat dirinya tersipu, Yura menaiki motor Nando dan dengan cepat dia sudah memakai helm dikepalanya.
“Sil gue balik dulu yah. Makasih buat hari ini..” ucap Yura dengan tersenyum.
“Haha iya sama-sama .. hati-hati elo yah dijalan..” ucap Silvi.
“Oke bye…”
“Byeee..” jawab Silvi dengan melambaikan tanganya dan kembali kedalam rumah.

→ part 14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar