Rabu, 02 Juli 2014

Cerita Tidak Harus Sejalan Part 6

Kini Yura sudah berbaring dikamarnya, dia tidak menyangka bisa bertemu dengan lelaki sedingin, seangkuh Bian. Tapi Yura sangat berterima kasih pada Bian, mungkin kalo dia gak ada kakinya bisa jauh lebih parah.
“Kok Ka Liana belum pulang yah kuliahnya??” dengan menatap jam ditangnya.
“Ra..!!” suara yang begitu Yura kenal. “ka Liana..”
“Elo kemna aja sih?? Semalm kenapa elo gak pulang??Nginep dimna elo semalam??” tanya ka Liana tampa jeda.

“Maaf kemarin ada insiden kecil, kaki gue kepeleset terus gue pingsan gara-gara liat ular segede gajah..” ucap Yura dengan penuh semangat bercerita. “Lalu gue ditolong sama cowok, lalu gue dibawah deh kerumahnya..”
“Tapi elo gak kenapa-napakan ?? Elo gak diapa-apain ka sama cowok itu??!!” tanya ka Liana.

“Nggak lah ka, bahkan dia kan yang nolong gue, kaki gue diobatin sama dia nih..”dengan menjukan kaki ke arah ka Liana.
“Sukur deh kalo gitu..” ucap ka Liana dengan lega. “Ya udah elo istrahat aja dulu yah, gue mau beresin tugas dulu..” ucap ka Liana dengan membawa setumpukan kertas ditangannya.
“Iya ka..” jawab Yura.

Sunguh hari yang sangat panjang dengan cerita-cerita yang tak mudah untuk dimengerti. Terkadang kita tidak perlu mengerti dengan sebuah cerita yang dirangkai, tapi kita perlu masuk kedalam cerita tersebut untuk merasakan sebagai tokoh didalamnya.

✿✿✿
Nando terduduk diatas motor besarnya, sebuah pesan masuk yang masuk keponselnya membangunkaan dari lamunan nya.
“Yura” serunya.

From: Yura
“Do gue baik-baik aja ko, gue gpp J gue lagi ada dirumah temen gue, hp gue semalam mati , gue bentar lagi balik ko kerumah..

“Sukur kalo elo gpp” seru Nando dengan menatap layar ponselnya.
Nando kembali menaiki motor besarnya dan berbalik arah untuk pulang kerumahnya. Ditengah jalan dia berpapasan dengan Silvi.
Nando memperhatikan apa itu benar Silvi atau bukan. “Sil..” sapa Nando dengan turun dari motornya. “Itu elo kan??” tanya Nando kedua kalinya.
“Iya ini gue” jawab Silvi.
“Elo lagi apa dipinggir jalan kaya gini??”

“Gue lagi nunggu dijemput nih..” seru Silvi
“Mau bareng gue??” tawar Nando.
“Ahh. gak usah, lagian gue mau makan siang dulu..” jawab Silvi. “Owh iya, elo udah dapet kabar dari Yura belum??” tanya Silvi.
“Owh iya, katanya dia baik- baik aja, semalam dia nginep dirumah temennya..” jawab Nando.

“Sukur lah kalo gitu..” ucap Silvi dengan nada lega.
“Owh iya, gue duluan yah Sil” seru Nando dengn menaiki motornya.
“Oke Do, hati-hati yah elo !!”

“Oke ..!!” jawab Nando dengan menyalakan deru mesin motornya, lalu pergi meninggalkan Silvi.

✿✿✿
 “Elo gpp kan??”
“Gue gpp kok” balas Yura. “Makasih yah Do, elo udah khawatir sama gue” tambahnya dengan senyum.
“Iya sama-sama, ya udah ayo..” ajak Nando.
“ayo.. kemana??” jawab Yura dengan matanya yang melebar.
“Haha. Yah kesekolah Ra ..” jawab Nando dengan tertawa.
“Tapi ngapain harus naik motor? Kan gak jauh ini..” tembal Yura.
“Jadi elo ceritnya nolak ajakan gue nih..” jawab Nando canda. “Ya udah ayo Ra naik aja” ajak Nando kedua kalinya.
“Ya udah deh ayo..” jawab Yura dengan menaiki motor besar Nando.
Tidak berapa lama mereka sampai diparkiran sekolah, Nando menyimpan motornya terlebih dahulu, memang sejak kejadian dikantin dan sejak pertama kali mereka saling mengirim pesan singkat, mereka sangat akrab, bahkan kini Nando semakain dekat dengan Yura.
“Yura!!!!!” suara teriakan dari arah gerbang sekolah.
“Aahhhh Silvi!!!” Yura berlari kearah Silvi mereka saling berpelukan bagaikan boneka teletubis.
“Mulai deh dramatis” gumam Nando dengan berjalan mendekati Yura dan Silvi.
Silvi melepaskan pelukannya “Gila kangen banget sama elo Ra!! Elo kemana aja sih..!!” tanya Silvi
“Ceritanya panjang Sil, nanti deh gue certain didalem yah..” jawab Yura.
“Ya udah kita masuk yu..” seru Silvi.
“Eh gue dikacangin nih..” seru Nando.
“Eh sorry Do, saking senengnya nih hehe..” jawab Yura.
“Dasar ele. Eh ya udah kalo gitu gue ke kelas duluan yah..” jawab Nando dengan berjalan ke arah kelasnya, yang memang berbeda dengan kelas Yura dan Silvi.
“Ra, kok bisa bareng Nando sih??” tanya Silvi cemberut.
“Tadi dia jemput gue kerumah, kenapa cemburu yahh.. haha..” jawab Yura dengan candaan.
“Idihh ngapain gue cemburu, bahkan gue seneng lagi kalo sahabat gue yang cantik ini bisa deket dan jalan sama Nando.. gue dukung 100% deh elo sama Nando!!!” jawab Silvi dengan penuh semangat.

“Dih apaan sih elo, dihh ngomong ngelantur elo..” balas Yura dengan mengacaka-ngacak rambut Silvi.
“Ahh jangan, nanti rusak!!” teriak Silvi dengan berlari kedalam kelas mereka.
Sekarang Yura telah duduk kembali dibangku kelasnya, cerita tentang hilangnya Yura kini tidak lagi terdengar, teman kelas Yura lega tertanya dugaan buruk tentang Yura menghilang itu tidak terjadi. Belajarpun sepeti biasa, Yura mencatat kata demi kata yang dituis didepannya, dia tidak ingin meninggalkan kata yang terlewat dipapan tulis.
“Eh Ra, katanya tadi mau cerita..” tanya Silvi yang duduk disamping Yura.
“Iya nanti kalo gue beres nyatet..” jawab Yura dengan pandangan tidak lepas dari papan tulis didepannya.
“Ahh elo gak asik ahh..” gerutu Silvi. “Ayo dong cerita..”dengan nada memohon Silvi menggoyang-goyangankan tangan Yura.
“Bentar dohh dikit lagi nih..” tangan Yura masih menggerak-gerakan pulpen ditanganya.
“Aahhh lama…” jawab Silvi denagn bermalas-malasan.
“Bentar lagi juga istrahat jadi nanti aja pas istirahat gue ceritnya..” jawab Yura.

Yura meneruskan mencatat dibuku pulisnya, sedangkan Silvi hanya menempelkan pipinya dibangku dan seperti biasa dia selalu bermalas-malasan.
Bell sekolah berbunyi,jam nenujukan 11:30 terlihat 2 gadis yang duduk ditaman sekolah, terlihat Silvi begitu serius dengan cerita yang diceritakan Yura.
“Nah gitu Sil, ceritanya..” dengan meneguk sebotol air putih ditanganya.
“Seriuss!!! Terus elo dibawa kerumahnya gitu!!?? Wah.. wah…” ucap Silvi.
“Orangnya kaya gimana Ra? Ganteng gak?? Tanya Silvi dengan mengedipkan mata.
“Dasar elo” dengus Yura. “Yah kalo diliat dari fisik sih dia ganteng dengan tubuhnya yang tinggi, tapi itu tadi yang gue bilang, dia dingin sama jutek abisss…” jawab Yura dengan meremukan meremukan botol minuman yang baru saja dia habiskan.
Silvi hanya nyengir melihatnya. “Gpp lah yang penting ganteng ini” jawab Silvi dengan nyengir.
Dredd..dreddd.. hp Silvi berbunyi. “Eh bentar yah ada tlpn nih”
“Oke ..” jawab Yura.
Silvi mengangkat telpon yang masuk ke no ponselnya. “Iya hallo..?? aku masih disekolah nih.. iya nanti malem aja sekalian belanjakan..?? oke .. bye muacchh..”
“Cciee siapa tuh ampe dikasih kecupan manis gtu.. ??” goda Yura.
Silvi berjalan kearah Yura dengan cemberut. “Biasalah nyokap minta dianter belanja” dengus nya dengah cemberut.
“Owh gitu. Lah kenapa emang? Tinggal anter aja apa susahnya pan?” jawab Yura.
“Iya sih tapi males hehe..” jawabnya dengan canda. “Eh nanti sore jadikan??” tanya Silvi.
“Jadi apaan??”
“ Jangan-jangan elo lupa lagi, gara-gara elo kemarin ngilang…??” mulut Silvi menganga.
“Gue inget lagi, lagian apa apa hubungannya lupa sama kejadian kemarin” jawab Yura dengan mengkerutkan alisnya.
“Haha bagus deh” Silvi merangkul Yura. “Nanti gue jemput elo jam 5an yah..”

“Iya bawel” jawab Yura.
→part 7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar